Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Maret 2025 | 18.40 WIB

7 Dampak Unggahan Kebugaran di Media Sosial: Standar Tubuh dan Tekanan Psikologis pada Wanita

Ilustrasi unggahan kebugaran di media sosial. (Freepik) - Image

Ilustrasi unggahan kebugaran di media sosial. (Freepik)

JawaPos.com – Unggahan kebugaran di media sosial semakin populer dan sering menampilkan tubuh ideal yang dianggap sebagai standar kecantikan. Hal ini dapat mempengaruhi persepsi wanita terhadap citra tubuh mereka sendiri serta menimbulkan tekanan psikologis.

Standar tubuh merujuk pada gambaran ideal mengenai bentuk dan ukuran tubuh yang diterima atau dianggap menarik dalam masyarakat. Media sosial sering kali memperkuat standar ini melalui unggahan yang menampilkan tubuh atletis atau langsing sebagai tolok ukur kecantikan.

Memahami dampak unggahan kebugaran di media sosial penting untuk menghindari tekanan psikologis akibat standar tubuh yang tidak realistis. Kesadaran ini dapat membantu wanita lebih bijak dalam mengelola ekspektasi terhadap citra tubuh mereka sendiri.

Berikut adalah 7 dampak unggahan kebugaran di media sosial dengan standar tubuh dan tekanan psikologis pada wanita, dilansir dari laman Simplypsychology oleh JawaPos.com, Minggu (23/3):

1. Standar Tubuh di Media Sosial

Unggahan kebugaran sering menampilkan tubuh dengan proporsi tertentu yang dianggap ideal. Gambaran ini tidak selalu mencerminkan kenyataan karena banyak faktor seperti pencahayaan, filter, atau pengeditan digital yang mempengaruhi tampilan akhir.

Representasi tubuh yang tidak realistis ini dapat membuat seseorang merasa tidak cukup baik. Ketidaksesuaian antara tubuh nyata dan tubuh yang ditampilkan di media sosial dapat menurunkan kepercayaan diri.

Banyak individu yang merasa tertekan untuk mencapai standar tersebut meskipun sulit atau tidak mungkin dicapai. Hal ini dapat berujung pada kebiasaan diet ekstrem atau olahraga berlebihan untuk menyesuaikan diri dengan standar yang ada.

2. Peningkatan Pengawasan Diri

Melihat unggahan kebugaran dapat meningkatkan kebiasaan membandingkan diri dengan standar yang ditampilkan. Hal ini dapat memicu pengawasan berlebihan terhadap tubuh sendiri, yang berujung pada ketidakpuasan.

Individu yang sering memantau bentuk tubuhnya cenderung lebih rentan terhadap perasaan rendah diri. Semakin sering seseorang mengamati tubuhnya, semakin tinggi kemungkinan munculnya kritik terhadap penampilan sendiri.

Perilaku ini juga dapat menghambat kenyamanan dalam berinteraksi sosial karena adanya rasa tidak percaya diri. Mengembangkan pandangan yang lebih fleksibel terhadap tubuh dapat membantu mengurangi pengawasan diri yang berlebihan.

3. Harga Diri yang Bergantung pada Penampilan

Sebagian individu menilai harga dirinya berdasarkan penampilan fisik. Paparan konten kebugaran yang berorientasi pada estetika dapat memperburuk perasaan tidak cukup baik, terutama jika standar yang ditampilkan tidak realistis.

Ketergantungan pada penampilan sebagai tolok ukur harga diri dapat meningkatkan kecemasan. Jika seseorang merasa tidak memenuhi standar yang ada, rasa tidak percaya diri dapat semakin meningkat.

Perubahan kecil pada bentuk tubuh dapat menimbulkan dampak emosional yang besar bagi mereka yang sangat mengaitkan harga dirinya dengan penampilan. Mengembangkan harga diri berdasarkan faktor lain seperti kemampuan dan kepribadian dapat membantu mengurangi dampak negatif dari paparan media sosial.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore