Senapan serbu produksi PT Pindad. (Instagram PT Pindad)
JawaPos.com - Industri pertahanan dalam negeri dinilai telah memiliki kapasitas mumpuni dalam menyuplai kebutuhan militer Indonesia. Baik PT Pindad, PT PAL dan PT DI dinilai telah menunjukan kemampuannya dalam memproduksi barang.
Kepala BIN M. Herindra mengatakan, alutsista seperti senapan serbu dan pistol telah mampu diproduksi dalam negeri. Oleh karena itu, dia mengusulkan agar impor senjata maupun peluru kaliber kecil dihentikan.
Menurutnya, PT Pindad saat ini mampu memproduksi peluru-peluru kaliber kecil, misalnya ukuran 5,56 mm dan 7,62 mm.
“Stop kalau perlu, saya sampaikan end user (pengguna akhir/pembeli) saya lihat izin impor lagi, kaliber 5,56 mm, 7,62 mm, masa sih kita tidak bisa (membeli dari dalam negeri)? Kalau untuk pasukan khusus boleh lah,” kata Herindra, Rabu (21/1).
Eks Wakil Menteri Pertahanan itu menyampaikan, pembelian produk dalam negeri perlu dikembangkan. Mengingat langkah itu turut mendukung upaya membangun kemandirian industri pertahanan di tanah air.
“Kita berharap pistol G2 mau dipakai Filipina, (itu dapat terwujud) kalau kita pakai, nanti (mereka) baru pakai SS1 dan SS2, anggota kita sudah banyak yang pakai dan beberapa kali memenangkan turnamen, sehingga mendapatkan kredit poin,” jelas Herindra.
Upaya kemandirian di bidang pemeliharaan juga ditunjukkan melalui peningkatan kapasitas fasilitas perawatan TNI dan BUMN. Misalnya PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memperkuat layanan MRO (maintenance, repair, overhaul) untuk pesawat angkut dan helikopter TNI, sehingga perawatan berkala dapat dilakukan domestik.
Demikian pula, PT PAL Indonesia telah mendapatkan transfer teknologi untuk perawatan kapal perang termasuk kapal selam hasil kerja sama. Dengan begitu docking dan overhaul bisa ditangani di galangan dalam negeri.
Di sisi lain, kerja sama dengan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) juga perlu dilakukan. Langkah ini untuk memastikan siklus hidup alutsista dari pengadaan, operasional, hingga perawatan bisa ditangani industri dalam negeri dan SDM nasional.
Seperti PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) menjalin Letter of Intent (LoI) dengan PT Pindad untuk pengadaan 100 pucuk pistol produksi Pindad. Bisnis ini menunjukkan kolaborasi antar industri dalam negeri untuk saling mendukung kemandirian alutsista dan komponen pendukungnya.
"Kami telah mengantongi lisensi dari Kementerian Pertahanan untuk memproduksi komponen senjata, selongsong dan proyektil amunisi, serta komponen presisi untuk pesawat terbang, kapal, dan kendaraan tempur," kata Direktur Operasi PT NKRI, Agus Prihanto.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
