
ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)
Sebagai aktivitas, tentu tak diragukan manfaat olahraga. Tak hanya untuk kesehatan raga, tapi juga jiwa. Bahkan, pada suatu ketika, orang Inggris percaya, olahraga adalah pagar penting yang bisa menyelamatkan remaja dari kerusakan moral.
Tapi, olahraga telah lama tak tinggal semata sebagai (aktivitas) olahraga. Ia telah menjadi sirkus pasar malam setiap akhir pekan sepanjang tahun dalam bentuk liga-liga sepak bola, misalnya. Ia menjadi festival kostum dan kembang api empat tahun sekali dalam rupa Olimpiade atau Piala Dunia.
Lalu untuk apa olahraga ketika ia sudah sampai di tahap itu? Karena ini bukan pertanyaan kemarin sore, jawabannya bisa macam-macam. Dan karena luas spektrumnya, ia bisa lebih bermacam-macam lagi.
Bagi pihak tuan rumah, Olimpiade dan/atau Piala Dunia adalah ajang mempertunjukkan identitas nasionalnya. Kurang lebih begitu yang digambarkan para peneliti olahraga dan budaya (baca Tomlinson dan Young dkk, 2006). Tak harus balik jauh ke Olimpiade Berlin 1936 yang dipenuhi lambang swastika atau Piala Dunia AS 1994 yang mempertontonkan komersialisme dan konsumerisme ala Amerika, kita bisa dengan segar mengingat PD Qatar 2022 dua tahun lalu atau Olimpiade Paris 2024 yang masih berlangsung. Lewat pesta olahraga, dua negara bisa menunjukkan watak dan nilai yang membentuk identitas keduanya, yang sama sekali berbeda.
Kuper dan Szymanski, lewat Soccernomics (2009), bacaan para snob sepak bola, punya penjelasan berbeda. Menolak anggapan umum bahwa jadi tuan rumah Piala Dunia atau Olimpiade bisa meningkatkan ekonomi, keduanya menyimpulkan nyaris satu-satunya hal yang bisa didapat satu negara dengan menjadi tuan rumah ajang besar olahraga adalah ”relatif lebih bahagia”.
Kita akan mendapatkan jawaban yang lebih beragam jika kita mengutip dari sumber-sumber yang berbeda, dengan perspektif yang berbeda-beda. Orang St Lucia berpesta bukan saja karena pelari mereka, Julien Alfred, mendapatkan emas dari nomor bergengsi lari 100 meter putri di Olimpiade Paris 2024, melainkan karena itulah mungkin satu-satunya dan sekali-kalinya cara dunia tahu tentang negeri kecil dan terpencil di Karibia itu.
Untuk pesepak bola Afghanistan atau pemain bola tangan Sri Lanka, jawabannya bisa sedikit berbeda. Ajang olahraga besar, biasanya di Eropa, bisa saja menjadi satu-satunya cara mereka lari dari negeri mereka yang bobrok untuk mencari hidup yang lebih baik.
***
Dalam pengalaman personal saya, makna olahraga bahkan bisa berubah-ubah, tergantung masa dan kondisinya.
Pada tengah ’80-an, menonton Elyas Pical atau Liem Swie King tampil di televisi, biasanya secara beramai-ramai, adalah cara kami sepenuhnya memaknai keindonesian kami beserta seluruh kebinekaannya. Padahal saat itu kami bahkan belum masuk sekolah dan belum dipaksa menghafal Butir-Butir Pancasila.
Pada usia 10 tahun, menyimak dengan tekun Pekan Olahraga Nasional atau SEA Games, dan menghafal nama-nama atlet yang sulit dieja atau asing di telinga seperti Jonathan Sianturi, Donald Pandiangan, Rosi Pratiwi Dipoyanti, Eduardus Nabunome, Elsa Manora Nasution, hingga Wailan Walalangi, sepenuhnya tentang menjadi tampak lebih pintar dan lebih berwawasan. Hingga usia SMP, menghafal dan dengan tepat menuliskan nama Presiden FIFA Joao Havelange dan Presiden IOC Juan Antonio Samaranch sama kerennya dengan menghafal dan menulis dengan tepat nama Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar.
Di SMA, separo lebih hidup saya adalah untuk bermain dan menonton sepak bola. Dan atas apa yang mesti saya lewati di akhir masa remaja, sepak bola telah berubah dari sekadar hiburan dan permainan menjadi gua perlindungan dan kawan sepenanggungan. Karena itu, saya bahkan begitu cemas gagal UMPTN karena ia dilaksanakan bertepatan dengan penyelenggaraan Piala Dunia 1998.
Lalu dunia orang dewasa dan dunia kerja membunuh sebagian kesenangan dan antusiasme masa remaja tersebut. Juga, makin menjadi nyata, makin kemari olahraga dengan senang hati telah membunuh dirinya sendiri. Sepak bola tinggal menyisakan debat menjengkelkan Messi vs Ronaldo, statistik penguasaan dan jumlah sentuhan, dan tak memberi ruang untuk salah perhitungan dan satu-dua keajaiban. Pada saat yang sama, Olimpiade semakin menodai diri dengan skandal-skandal dan politik dangkal. Dan di atas semuanya, secara umum, olahraga tak lebih sebagai komoditas global yang makin hari makin mahal.
Di usia 40-an, saya mulai bisa memikirkan hal yang di usia belasan tak terpikirkan: (tontonan) olahraga tak ubahnya makanan mahal tak bernutrisi yang sebaiknya dikonsumsi sekadarnya saja.
Tapi gejala itu jelas tak terjadi hanya di level daerah. Kita tahu bahwa selama bertahun-tahun PON hanya tinggal sebagai kerutinan semata karena presiden terpilih mungkin tak melihat PON yang sukses sebagai sesuatu yang penting untuk membuatnya terpilih di periode berikutnya. Hal yang sama sangat jelas terjadi dengan SEA Games. Terakhir Indonesia juara adalah di SEA Games 2011, saat jadi tuan rumah. Di enam SEA Games terakhir, kita tak pernah mencapai dua besar perolehan medali. Kita bahkan mulai nyaman di urutan empat atau lima.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
