
Cover buku. (Istimewa)
Oleh NURMAN HAKIM
BERMULA dari kegelisahan, jadilah tulisan, yang terangkai dalam buku yang saya beri judul Melampaui Film: Film, Manusia, dan Kebudayaan. Kegelisahan dalam memikirkan film dan dunianya yang telah saya geluti hampir 25 tahun lamanya. Film sebagai medium teknologi yang tidak hanya mengekspresikan perasaan manusia ataupun suatu bentuk komunikasi, tetapi ia juga mampu menyingkap apa artinya sebagai manusia.
Dulu, semasa awal saya studi film di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, film hanya saya pahami sebagai media hiburan, komunikasi, atau paling banter sebagai media ekspresi seni. Ternyata, semakin ke sini, pandangan saya tentang film telah berubah. Memahami film adalah memahami kehidupan, juga kehidupan kita sebagai manusia. Menonton film adalah menonton kehidupan. Isi cerita film yang terbungkus teknologi kamera, editing, suara, dan seterusnya menunjukkan kepada kita berbagai problematika kehidupan manusia, baik yang kita temui sehari-hari maupun yang tidak pernah kita alami, tetapi terjadi di pelosok-pelosok tempat yang belum pernah kita singgahi atau belahan dunia lain di Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan di sudut-sudut dunia yang semula kita tidak tahu ada di mana.
Medium film adalah semacam kepanjangan dari suatu bahasa sebagai cara manusia untuk tidak hanya mengekspresikan dirinya, melainkan juga secara sadar maupun tidak, usaha manusia dalam memahami diri dan dunianya. Dengan demikian, ketika saya memikirkannya, membuat saya juga memikirkan soal bahasa yang kita gunakan sehari-hari, yang sesungguhnya itu membedakan kita manusia dengan hewan, termasuk bahasa film.
Kegelisahan yang demikian itulah yang mendorong saya untuk menuliskannya ke dalam berbagai esai yang bertebaran di berbagai media nasional, termasuk di Jawa Pos ini. Mungkin, inilah cara saya memahami dan memaknai apa yang saya pikirkan perihal film dan dunia yang menyertainya. Latar belakang diri saya yang beragam: sebagai santri, sutradara, antropolog, akademisi, dan juga pengamat film, membuat esai-esai itu seolah beraneka warna dan sekilas terkesan menjelajah ke berbagai spektrum pemikiran. Tetapi, sesungguhnya benang merahnya tidak sulit untuk ditandai, bahwa esai-esai itu membicarakan perihal pokok film dan relevansinya dengan berbagai isu sosial politik, budaya, dan agama, dengan meletakkan manusia sebagai titik pijak dalam melihat segala persoalan yang ada.
Tulisan yang membentang selama 17 tahun sejak 2007 yang ada dalam buku itu tampaknya menjadi semacam endapan dan potret dari pikiran-pikiran saya tentang film, manusia, dan kebudayaan. Menulis adalah usaha kita menemukan apa yang kita cari dan yakini, yang bermuara pada refleksi diri kita sendiri sebagai manusia dalam memaknai kehidupan ini. Proses itu tak berhenti begitu saja tatkala tulisan itu rampung dan tertuang dalam buku ini. Ia seolah terus bergerak, terlebih ketika ia dibicarakan di ruang-ruang diskusi, baik di kafe, di komunitas-komunitas budaya, maupun di kampus-kampus. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer tentang menulis, ”karena menulis suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (*)
---
NURMAN HAKIM, Sutradara film, dosen di Fakultas Film dan Televisi IKJ

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
