Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 Januari 2025 | 16.17 WIB

Kegelisahan di Balik Melampaui Film

Cover buku. (Istimewa) - Image

Cover buku. (Istimewa)

Oleh NURMAN HAKIM

BERMULA dari kegelisahan, jadilah tulisan, yang terangkai dalam buku yang saya beri judul Melampaui Film: Film, Manusia, dan Kebudayaan. Kegelisahan dalam memikirkan film dan dunianya yang telah saya geluti hampir 25 tahun lamanya. Film sebagai medium teknologi yang tidak hanya mengekspresikan perasaan manusia ataupun suatu bentuk komunikasi, tetapi ia juga mampu menyingkap apa artinya sebagai manusia.

Dulu, semasa awal saya studi film di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, film hanya saya pahami sebagai media hiburan, komunikasi, atau paling banter sebagai media ekspresi seni. Ternyata, semakin ke sini, pandangan saya tentang film telah berubah. Memahami film adalah memahami kehidupan, juga kehidupan kita sebagai manusia. Menonton film adalah menonton kehidupan. Isi cerita film yang terbungkus teknologi kamera, editing, suara, dan seterusnya menunjukkan kepada kita berbagai problematika kehidupan manusia, baik yang kita temui sehari-hari maupun yang tidak pernah kita alami, tetapi terjadi di pelosok-pelosok tempat yang belum pernah kita singgahi atau belahan dunia lain di Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan di sudut-sudut dunia yang semula kita tidak tahu ada di mana.

Medium film adalah semacam kepanjangan dari suatu bahasa sebagai cara manusia untuk tidak hanya mengekspresikan dirinya, melainkan juga secara sadar maupun tidak, usaha manusia dalam memahami diri dan dunianya. Dengan demikian, ketika saya memikirkannya, membuat saya juga memikirkan soal bahasa yang kita gunakan sehari-hari, yang sesungguhnya itu membedakan kita manusia dengan hewan, termasuk bahasa film.

Kegelisahan yang demikian itulah yang mendorong saya untuk menuliskannya ke dalam berbagai esai yang bertebaran di berbagai media nasional, termasuk di Jawa Pos ini. Mungkin, inilah cara saya memahami dan memaknai apa yang saya pikirkan perihal film dan dunia yang menyertainya. Latar belakang diri saya yang beragam: sebagai santri, sutradara, antropolog, akademisi, dan juga pengamat film, membuat esai-esai itu seolah beraneka warna dan sekilas terkesan menjelajah ke berbagai spektrum pemikiran. Tetapi, sesungguhnya benang merahnya tidak sulit untuk ditandai, bahwa esai-esai itu membicarakan perihal pokok film dan relevansinya dengan berbagai isu sosial politik, budaya, dan agama, dengan meletakkan manusia sebagai titik pijak dalam melihat segala persoalan yang ada.

Tulisan yang membentang selama 17 tahun sejak 2007 yang ada dalam buku itu tampaknya menjadi semacam endapan dan potret dari pikiran-pikiran saya tentang film, manusia, dan kebudayaan. Menulis adalah usaha kita menemukan apa yang kita cari dan yakini, yang bermuara pada refleksi diri kita sendiri sebagai manusia dalam memaknai kehidupan ini. Proses itu tak berhenti begitu saja tatkala tulisan itu rampung dan tertuang dalam buku ini. Ia seolah terus bergerak, terlebih ketika ia dibicarakan di ruang-ruang diskusi, baik di kafe, di komunitas-komunitas budaya, maupun di kampus-kampus. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer tentang menulis, ”karena menulis suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (*)

---

NURMAN HAKIM, Sutradara film, dosen di Fakultas Film dan Televisi IKJ

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore