Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 Mei 2024, 14.46 WIB

Buku Pop dan Pembacanya

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Seorang siswa SMP duduk terpekur tepat di depan saya, di sebuah angkudes Tuban–Paciran. Ia tak pedulikan sekitar: penumpang yang berdesakan, bau amis ikan dalam ember-ember basah yang dipeluk ibu-ibu bakul di kiri-kanannya, hiruk pikuk jalur pantura, juga saya yang tengah memandanginya. Mata dan wajahnya tenggelam ke lembar-lembar buku yang dipangkunya: Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata –versi bajakan tentunya. Saat itu, sebagai pengarang, saya akan bersedia memberikan apa pun untuk bisa bertukar tempat dengan Andrea.

Remaja dengan bacaannya, bagi saya, senantiasa hal besar. Entah itu sebagai pengalaman, tapi bahkan sekadar sebagai pemandangan. Dan menjadi terasa lebih gigantik ketika Anda masih menemukannya di saat semua orang tengah dicengkam oleh cahaya dari layar Android masing-masing. Anda tidak hanya sedang melihat bahwa literasi masih punya harapan. Tapi, entah kenapa, ia juga menunjukkan bahwa dunia masih akan baik-baik saja di tahun-tahun mendatang.

Saya memang tak sanggup membaca seri Laskar Pelangi lebih dari satu bab, terutama karena keteledoran-keteledoran teknisnya. Dan karena ia begitu laris dan terkenal, sementara saya adalah penulis yang tak pernah laris dan kurang terkenal, barangkali saya sampai di tahap membencinya. Tapi, itu sama sekali tak menghalangi saya untuk mengagumi apa yang ada di hadapan saya.

Lagi pula, jika pun bukan bacaan terbaik untuk para remaja, Laskar Pelangi jelas bukan bacaan terburuk. Saya sangat tahu itu. Bagi seseorang yang mengisi masa akil balignya dengan membaca novel-novel lucah Freddy S., saya bisa menjaminnya.

***

Beberapa teman yang saya percayai selera dan bobot bacaannya dengan gigih membela Andrea Hirata. Saya semestinya menyukai selera humornya, atau setidaknya menikmati pengalaman kemelayuannya yang kaya, kata mereka. ”Ya, saya coba baca lagi nanti,” begitu biasanya saya berjanji. ”Kapan-kapan.”

Tapi, jika pun saya tak pernah menunaikan janji itu, dan sama sekali tak mengubah pendapat saya tentang kekurangan-kekurangannya, saya tahu kita sedang membicarakan sebuah buku penting. Tak diragukan, Laskar Pelangi adalah literatur yang tak mungkin diabaikan ketika kita membicarakan dua dasawarsa Indonesia pascareformasi.

Yang paling jelas, buku ini berdampak secara literer. Pertama-tama, selama bertahun-tahun, buku ini menciptakan puluhan epigonnya. Yang lebih signifikan, tak sedikit saya temui, beberapa penulis yang muncul pada 10 tahun terakhir memulai dari dan tumbuh bersama dengan membaca Andrea Hirata. Ini adalah kapasitas yang membuat pengarang nanggung macam saya hanya bisa memendam iri dan dengki.

Kritik sangat keras dari Nurhady Sirimorok (lihat Laskar Pemimpi, 2008), misalnya, semakin mengekalkan arti penting Andrea dan karya-karyanya bagi zaman ini. Laskar Pelangi dan sekuel-sekuelnya adalah artefak sekaligus mentifak yang menjelaskan betapa dalam dan mengakarnya dan berhasilnya ide-ide modernisme dan pembangunanisme ala Orde Baru, dan betapa ia masih terus bekerja (dan tampaknya masih menangguk keberhasilan-keberhasilannya). Dan, tak berlebihan kiranya jika saya berpikir, teks seperti Laskar Pelangi (juga teks-teks pop dengan pembaca besar semasanya) akan sangat membantu kita menjelaskan apa yang kita alami hari-hari ini, baik secara sosial, politik, ekonomi, dan terutama kebudayaan.

Yang jauh lebih sulit dinafikan adalah bahwa teks seperti Laskar Pelangi tidak saja dibaca oleh sangat banyak orang, tapi juga terus dinikmati dalam waktu yang cukup panjang. Ia masih terus dicetak ulang dan saya duga masih terus dibajak, dan terus menemukan pembaca-pembaca barunya setelah nyaris 20 tahun terbit. Sebagai film, ia juga terus ditonton setelah belasan tahun rilisnya. Dan produk kebudayaan seperti ini tak akan mungkin kecil dampaknya.

Menemukan buku-buku dengan judul, kemasan, dan isi yang mirip dengannya telah jadi hal biasa. Demikian juga satu generasi baru penulis yang lahir darinya. Barangkali Anda juga akan sesekali bertemu dengan penulis atau seniman atau orang biasa acak yang memakai topi dan syal agar menyerupai Andrea Hirata, sebagaimana seorang sepupu, dulu, membuat tato tahi lalat di sudut dagunya agar menyerupai Rano Karno dalam Gita Cinta dari SMA. Jangan lupakan juga anak-anak muda yang tiba-tiba menggebu ingin jadi guru seperti Pak Harfan atau Bu Muslimah, atau mereka yang memancangkan cita-citanya sekolah di sudut-sudut terjauh dunia.

Baca Juga: Perjamuan Puisi

Maka, suka atau tidak, sudi atau tidak Anda membacanya, buku-buku yang dibaca sangat banyak orang, yang kemudian punya signifikansi kultural besar, adalah literatur penting. Dan akan menjadi lebih penting lagi ketika ia mampu melintasi zaman. Saya rasa itu telah berlaku untuk Laskar Pelangi, sebagaimana juga kita melihatnya pada buku-buku cerita silat Kho Ping Hoo, seri Wiro Sableng-nya Tito, Karmila dari Marga T., Cintaku di Kampus Biru-nya Ashadi, Gita Cinta dari SMA-nya Eddy Iskandar, Ali Topan-nya Teguh Esha, Lupus-nya Hilman, hingga Ayat-Ayat Cinta-nya El Shirazy. Anda tak harus menjadi kritikus sastra yang tajam atau doktor studi kebudayaan yang cemerlang untuk tahu itu.

***

Jogja mempertemukan saya dengan banyak anak pintar. Kebanyakan mereka telah membaca novel-novel Romo Mangun atau Iwan Simatupang saat SMP, atau telah melahap buku-buku Cak Nur atau kolom-kolom Gus Dur ketika SMA. Sebagai pembaca Freddy S. di usia 11, kemudian loncat ke bacaan-bacaan tentang konspirasi Freemasonry dan Yahudi di umur 17, saya tentu jadi ciut di hadapan mereka.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore