
Ilustrasi tumpukan buku-buku tebal dan klasik./Freepik
JawaPos.com - Dunia literatur seringkali terbagi antara karya-karya penting yang dihormati dan buku-buku yang benar-benar bisa dinikmati pembaca secara umum.
Novel-novel tertentu yang dianggap revolusioner oleh generasi Boomer kini terasa memberatkan bagi pembaca muda.
Generasi muda saat ini terbiasa dengan narasi yang lebih ringkas dan langsung, sehingga gaya penulisan yang padat terasa seperti tugas sekolah.
Karya-karya ini sungguh-sungguh layak mendapat pujian karena memerlukan upaya keras, namun, ia menuntut gaya membaca yang tidak lagi umum bagi kebanyakan pembaca fiksi masa kini, Melansir dari Geediting.com Senin (20/10).
Buku-buku ini justru dianggap hampir mustahil untuk diselesaikan oleh generasi yang lebih muda.
1. Ulysses oleh James Joyce
Mahakarya modernis tahun 1922 ini sering disebut sebagai Gunung Everest dalam literatur. Setiap babnya menggunakan gaya yang berbeda-beda, dengan bagian kesadaran (stream-of-consciousness) yang sangat menguras stamina pembaca. Satu bagian yang terkenal adalah monolog tanpa tanda baca sepanjang 60 halaman.
Generasi Boomer yang terpelajar berbicara dengan rasa hormat tentang teknik revolusioner novel ini. Namun, pembaca muda biasanya menyerah pada bab ketiga, saat Joyce tiba-tiba beralih ke monolog internal murni.
2. Moby-Dick oleh Herman Melville
Semua orang tahu kisah dasar tentang kapten terobsesi yang memburu paus putih. Namun, faktanya adalah Moby Dick sendiri hanya muncul sekitar 30 halaman dari total 600 halaman novel. Melville menyisipkan seluruh bab ensiklopedis tentang anatomi paus, ekonomi perburuan, dan teknik pembuatan tali di antara narasi utama.
Para Boomer yang menyukai novel ini menganggap penyimpangan tersebut sebagai meditasi yang mendalam. Kebanyakan pembaca lain mempertanyakan mengapa novel ini tidak disunting menjadi lebih ringkas.
3. Gravity's Rainbow oleh Thomas Pynchon
Novel Pynchon tahun 1973 tentang roket V-2 dalam Perang Dunia II ini sangat ambisius. Novel ini juga sangat sulit untuk diikuti alur ceritanya. Plotnya terfragmentasi menjadi ratusan karakter yang berbeda-beda.
Adegan-adegan melompat antara kenyataan dan halusinasi tanpa petunjuk jelas, dihiasi dengan humor yang kasar. Akademisi dan Boomer yang berdedikasi memuji kerumitan dan ambisinya. Kebanyakan pembaca menyerah setelah 100 halaman karena mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
