Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 November 2023 | 14.25 WIB

Madani International Film Festival 2023: Kurasi sebagai Resistansi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Al-yaum, an na’rudh aflam tahki qasasna, hiya fi’il muqawam. An-namtaj wa nabda’ huwa fi’il muqawam.

An-natakhayyal wa nahlam huwa fi’il muqawam. An-naqulu wa nu’abbir bil hurriyyah huwa fi’il muqawam. Idzan, ’ala tariqatna fa nuqawam.”

SAAT ini pemutaran film yang menceritakan kisah kita merupakan sebuah bentuk perlawanan. Produksi dan kreativitas adalah bentuk perlawanan. Imajinasi dan mimpi adalah sebuah bentuk perlawanan. Berbicara dan mengutarakan pendapat secara bebas merupakan bentuk perlawanan. Jadi, mari kita melawan dengan cara kita.”

Paragraf di atas adalah pengantar yang diberikan oleh Fatma Hassan Alremaihi, CEO Doha Film Institute, pada pembukaan program Ashwatu Filistiniyah (Voices of Palestine). Ashwatu Filistiniyah adalah program pemutaran film-film Palestina yang bekerja sama dengan Film Lab Palestine.

Sebulan sebelum pengantar yang disampaikan oleh Fatma tersebut, Madani International Film Festival membuka festival dengan pemutaran film R-21 Aka Restoring Solidarity (Palestina, 2022). Film ini menampilkan ketidakadilan politik pasca-Perang Dunia II yang sangat dipahami oleh rakyat Jepang maupun Palestina, juga menampilkan gambar-gambar demonstrasi terhadap pembaruan traktat antara Amerika Serikat dan Jepang, hingga pelatihan pasukan gerilya Palestina di Jordania, juga Hiroshima dan Nagasaki, dan Sabra dan Shalita. Film ini menjembatani sejarah Jepang dan Palestina.

Adegan-adegan yang dipilih dari 20 film yang ditemukan di Tokyo ini dipotong, disinkronisasi, dan dipadukan sambil mencari narasi, percakapan, persamaan, perhubungan, dan tradisi yang menunjukkan betapa penayangan film dapat menjadi sebuah pernyataan politis. Pada saat yang bersamaan, penayangan ini juga adalah penghargaan atas penemuan harta sinematik yang didorong oleh rasa persaudaraan, semangat, dan motivasi penciptanya.

Film ini tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan secara langsung, namun ia menyadari semangat solidaritas yang berbaring di sisipannya. Film ini mengekspresikan suatu kepedulian dan pemahaman, bukan hanya lewat apa yang ditampilkan di dalamnya, namun juga keadaan, kepentingan, dan situasi yang melingkari keberadaan koleksi film itu sendiri. Suaranya datang dari kehausan dalam menemukan alasan untuk bersuara.

Di samping film, sebuah program dalam festival film juga punya kekuatan untuk menampilkan dan menghilangkan sebuah wacana. Di sini, programmer film harus punya kesadaran itu. Walaupun terkadang apa yang ditangkap oleh para audiens adalah tanpa kesadaran langsung dari programmer film. Seperti seorang pengarya (sutradara) yang harus sadar jika dia punya kuasa untuk membentuk realitas baru dalam medium audiovisual dari apa yang diserapnya di realitas sehari-hari.

Seperti sebuah film, sebuah program film dalam festival film maupun penayangan lainnya memiliki suara politis. Film programming lebih dari sekadar memilih film-film untuk ditayangkan bersama. Ada konsekuensi secara tidak langsung dari menghadirkan film-film tertentu terhadap wacana publik. Ketika programmer film sadar akan hal itu, tentu saja dia bisa memanfaatkan hal tersebut untuk membangun opini publik terhadap suatu wacana.

Secara lebih mendalam, disadari atau tidak oleh programmer film, suara politis ini beroperasi sendiri bersamaan dengan penayangan program film. Film tidak benar-benar merdeka dari suatu wacana. Ketika memang film hanya dianggap sebagai sebuah karya seni hiburan nonpolitis, itu juga bentuk dari suara politis. Program film kemudian menjadi sebuah bentuk pengarahan wacana menuju arah tertentu yang dilakukan oleh programmer film. Di sini, peran programmer cukup kuat dalam membangun sudut pandang publik/audiens terhadap sebuah wacana.

Pada penyelenggaraan Oktober lalu, Madani International Film Festival 2023 memilih Palestina sebagai negara yang jadi fokus pada program Focus: Palestine. Focus: Palestine merupakan program Focus Country Madani IFF. Dalam program tersebut, Madani IFF ingin mengangkat suara-suara dari negara tertentu yang dirasa cukup aktual untuk dibahas. Hal yang menjadi dasar kurasi negara itu pun tidak algoritmik, tetapi pada kesepakatan programmer akan ”suara politis” tadi. Sehingga Focus: Palestine punya kekuatan secara diskursif untuk membangun (kembali) opini publik terhadap apa yang terjadi/dihadapi oleh bangsa Palestina.

Untuk menguatkan sikap politis tadi, Madani IFF mendatangkan Mohanad Yaqubi, sutradara R-21 Aka Restoring Solidarity, sebagai suara aktual dari Palestina. Memilih Palestina dalam program festival film tidak hanya melampaui bentuk solidaritas kemanusiaan, tetapi juga sebagai bentuk resistansi atas kolonialisme baru yang menimpa negara-negara global south. Pernyataan sikap (lewat programming film) jadi makin penting untuk menunjukkan bahwa kita merdeka, juga untuk mengutarakan pilihan tanpa harus takut kepada akibat-akibat yang ditujukan oleh rezim negara-negara global north, entah berupa sanksi finansial, administrasi, maupun kebudayaan.

Sebagaimana tema Madani IFF 2023, Buhul, yang berarti simpul, ikatan, atau solidaritas, festival film dan juga programmer film yang menjadi bagian darinya membuat simpul solidaritas untuk menyuarakan sikap terhadap Palestina dalam program-programnya. Karena pilihan cerita siapa yang muncul, kisah siapa yang dibicarakan, dan juga pilihan estetika bagaimana yang dikurasi adalah kuasa yang dimiliki oleh programmer film pada sebuah festival film maupun ruang penayangan lainnya.

Akhir kalam, ’ala tariqatna fa nuqawam (mari kita melawan dengan cara kita sendiri). (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore