
ILUSTRASI
Oleh NI MADE PURNAMA SARI
---
Aku bertemu pria berkacamata dan tampak pemalu itu tepat di saat kejemuanku atas kota ini hampir memuncak.
KEJADIANNYA berlangsung di pengujung dua tahun pandemi yang melumpuhkan, sekitar Januari 2022, persis di ruang depan kantorku yang sarat aroma karbol disinfektan. Di meja tergeletak selembar koran dengan barisan judul berita yang besarnya mencolok mata, tentang akumulasi korban jiwa selama berbulan-bulan masa pembatasan sosial. Belasan juta jumlahnya di seluruh dunia. Aku menghela napas di sebalik masker, memalingkan pandang ke kaca pintu, dan kulihat dia berdiri di luar sana, melambaikan salam pertanda ingin bertamu.
Demi beberapa alasan aku ingin menyebutnya sebagai Pemuda K dan tak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa dia seorang warga keturunan. Dia bahkan menyematkan nama marganya sebagai panggilan sehari-hari.
Bukan latar belakangnya yang membuatku tertarik, melainkan suatu obsesi yang tersirat sepanjang perbincangan. Kedatangannya menawarkan kongsi bagi usaha perhotelan tempatnya bekerja, yang selama pandemi ini terpukul hebat dari sisi ekonomi, tentu saja aku sambut dengan baik –meski yang bisa kulakukan hanyalah berjanji merekomendasikan penginapannya kepada para rekanan kami kelak. Di luar itu, akibat sedikit saja pertanyaan kecil tentang hobinya, Pemuda K ternyata begitu lincah bercerita perihal komunitas unik yang selama dua bulan ini dia ikuti: kelompok pemburu makam kuno.
”Ini tidak semengerikan yang Mbak bayangkan. Banyak makam yang dibuat begitu megah dan indah, apalagi bong China. Dan maksud kami sama sekali bukan klenik atau mistis. Awalnya kami napak tilas makam para tokoh, lantas kami kepingin tahu, apakah tidak mungkin suatu desa juga punya sosok yang mereka hormati dan nisannya dirawat turun-temurun,” katanya dengan tutur kata yang santun. ”Di lain waktu kami mencari makam mana yang lebih tua, dan dilupakan orang.”
”Apa yang kalian lakukan ketika mendapati makam yang seperti itu? Yang dilupakan itu?”
”Kami membersihkannya,” tatapannya saat menjawab pertanyaan tadi tampak menyala-nyala. ”Kami mau kasih hormat buat mereka yang sudah meninggal.”
Selama hampir satu jam berikutnya Pemuda K mengisahkan perjalanan mereka ke kawasan pekuburan Mrisi, daerah di tepian Jogja, menjelajahi perkampungannya sembari bertanya kepada para penduduk di mana letak makam-makam lama, menjumpai satu atau dua bong China lawas, mendokumentasikannya dari berbagai sisi, dan seluruhnya tersimpan di gawai. Dalam pertemuan yang rasanya tak berkesudahan itu, dia menunjukkan deretan potret makam, ada yang megah seperti yang diceritakannya. Beberapa yang lainnya merekam nisan dengan huruf-huruf Tionghoa yang pudar, patung liong yang retak, altar batu tho ti kong atau Dewa Bumi beserta rumput ilalang di sekelilingnya.
Seorang teman pernah berkisah bahwa bong China umumnya dibuat begitu besar dan mewah oleh pihak keluarga sebagai bekal sang mendiang di alam sana. Katanya, tak jarang makam-makam itu dipenuhi perhiasan, benda kesayangan, bahkan percaya atau tidak, dilengkapi kolam renang. Bukannya angker, pekuburan Tionghoa pun boleh jadi tempat pelesir.
Tapi, foto-foto makam yang tampak terbengkalai itu menarik perhatianku. Alih-alih semacam kesepakatan kerja sama, perjumpaan kami ditutup dengan sebuah janji blusukan di sebuah akhir pekan.
Baca Juga: Kleptoteks
***
Bila aku mengingat-ingat kembali, pengalaman kami menelusuri makam-makam lama tidak ubahnya sebuah petualangan tersendiri. Itu kali pertama aku keluar bepergian, terutama seusai periode pandemi, dan momen kami memasuki pedusunan, menjejakkan kaki di gang-gang kampung, juga menyusuri jengkal demi jengkal tanah makam, entah mengapa bagiku serupa pelepasan dari suatu pemenjaraan.

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Tak Ada Timnas Indonesia U-17! Klasemen Runner-up Terbaik Piala AFF U-17 2026 Usai Thailand Dikalahkan Laos
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
