
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Rahayu Supanggah adalah salah satu maestro bidang seni musik, terutama gamalen Jawa. Ia telah malang melintang berpentas di pelbagai belahan dunia, menapaki laku profesi sebagai komposer yang disegani.
---
HAMPIR mustahil untuk tak menyebut namanya dalam kajian-kajian gamelan mutakhir. Terlebih, selain sebagai komposer, ia juga seorang intelektual yang menerbitkan beberapa buku tentang musik. Terlepas dari itu, publik mengenal Rahayu Supanggah sebagai penata musik film dan teater. Ia kerap bekerja sama dengan sutradara jempolan seperti Garin Nugroho, Peter Brook, Ong Keng Sen, dan Robert Wilson. Kita jarang membaca Supanggah dalam konteks kekaryaan musiknya, yang tak bertaut dengan episentrum seni lain semacam film, teater, dan tari. Dari semua karya musik mandiri yang diciptakannya, Purnati adalah yang paling fenomenal. Suka Hardjana (kritikus musik) memberikan catatan penting bahwa Purnati menjadi karya paling prestisius yang pernah diciptakan oleh komponis Indonesia dan mendapat pengakuan internasional. Berikut adalah hasil ulasan –paparan– analisis tentang karya Purnati, dikuatkan dengan hasil wawancara penulis dengan Rahayu Supanggah, tahun 2014.
Purnati
Karya musik Purnati merupakan salah satu karya Rahayu Supanggah yang dimainkan oleh kelompok Kronos Quartet (kelompok musik Barat yang paling disegani di dunia). Karena kemaestroannya, Supanggah diminta secara khusus untuk membuat komposisi musik yang dapat dimainkan secara bersama. Hingga saat ini, Supanggah masih menjadi satu-satunya musisi Indonesia yang mendapat kehormatan tersebut. Kronos yang kerap memainkan musik Barat an sich tiba-tiba dihadapkan dengan karya yang pekat berbau Jawa lewat nada-nada pelog dan slendro. Rahayu Supanggah membawa instrumen gender dan kempul untuk disandingkan dengan string quartet. Perbedaan ambitus dan warna nada justru menimbulkan keunikan tersendiri. Karya ini mendapat perhatian khusus dari kritikus dunia, dipandang sebagai tonggak awal lahirnya musik-musik kontemporer dunia berbau gamelan setelah era Claude Debussy.
Sejak awal, Supanggah tidak ingin terjebak untuk mengikuti alur penciptaan musik Barat dengan membuat komposisi cenderung matematis. Hal ini memungkinkan agar Purnati menemukan kebaruan dan berbeda dari karya-karya yang pernah dimainkan Kronos, baik dari segi karakter maupun suasana. Perbedaan mendasar antara dua kutub musik (Barat dan Timur) ada pada pencapaian rasa estetis musikal. Musik Barat lebih mengandalkan logika, sedangkan di Jawa mengandalkan ’’rasa’’. Otomatis, penggunaan notasi menjadi perbedaan yang mencolok. Di Barat notasi menjadi sangat penting untuk diacu oleh musisi, sedangkan di Jawa lebih mengandalkan kedalaman hayatan.
Kronos memahami akan hal ini. Di komposisi Purnati, interaksi musikal menjadi hal yang sangat menonjol. Supanggah melakukan pembacaan terhadap unikum musik Jawa, namun tidak sepenuhnya Jawa-sentris. Ia menyadari bahwa setiap karya membawa nama dan sisi kreatif musisi yang memainkannya. Ia pun mendasarkan riset komposisinya pada musik jazz. Hal ini memberikan kesempatan dan ruang eksplorasi musikal –improvisasi. Riset yang dilakukan Supanggah berhasil menyatukan dua elemen musikal dengan indah dan monumental.
Suara
Di awal sajian, komposisi dibuka dengan permainan string yang digesek hanya dalam satu nada. Hal ini mengacu dari konsep drone, layaknya jika seseorang mendengarkan suara getar lampu neon di atas tempat tidur. Terlihat mengganggu dan menggelisahkan. Semakin lama komposisi menjadi semakin kompleks dan rigid. Di beberapa bagian, penonton dibuat kaget oleh entakan bunyi yang tiba-tida keras dan cepat, lalu kembali pelan dan lirih. Mad sinamadan, mungkin itulah kata yang cocok. Di mana kebersamaan dan kekompakan menjadi hal utama yang hendak ditonjolkan. Tidak ada peran instrumen yang terlalu menonjol. Semua setara dan seimbang.
Kesan unik, baru, dan menyegarkan timbul karena instrumen gender dimainkan di tengah-tengah orkestrasi string quartet yang sedang memuncak. Gender yang dalam karawitan Jawa termasuk instrumen garap tiba-tiba memainkan melodi di luar alur musikal string quartet. Tampak berbeda, namun perbedaan itulah yang menyatukan. Sebuah komposisi yang membutuhkan kreativitas tinggi. Supanggah membawa idiom musik Jawa, di mana orkestrasi permainan lebih mengandalkan kemampuan untuk saling merespons dan memahami. Tidak ada pemimpin atau kode-kode musikal yang dituliskan dengan detail. Kode musikal justru timbul dari tatapan mata, goyangan kepala, lambaian tangan. Kesan njawani, itulah yang muncul. Penonton yang awalnya terbiasa melihat Kronos dengan sajian komposisi musik Barat kemudian menjadi keheranan sekaligus takjub ketika menyaksikan karya Purnati. Rahayu Supanggah berhasil mementaskan karya yang mampu membawa perbedaan, unik, dan penuh sisi kreativitas.
Baca juga:
