alexametrics

Ayu-Anugerah, Kakak Beradik yang Jago Nyinden dan Karawitan

Sering Tampil Bareng Sekaligus Jadi Pengajar
3 Desember 2019, 20:48:04 WIB

Bakat Ayu Putri Martha Irawan dan Anugerah Putra Mahardika Irawan dalam kesenian Jawa dilatih sejak sekolah dasar. Kini karirnya telah dikenal di kalangan pencinta karawitan dan dunia perwayangan di Surabaya serta Jawa Timur.

C. DENNY MAHARDIKA, Surabaya

Suara saron serta tabuhan gendang nyaring terdengar saat memasuki halaman rumah Ayu dan Anugerah. Keduanya kerap berlatih bersama setiap ada kesempatan. ’’Alat musik karawitan ini bikin tenang, Mas. Adem,’’ kata Anugerah kemarin.

Dua pelajar yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas tersebut memang menggemari kesenian yang dikenal sejak kelas IV SD. Saat itu orang tuanya iseng mengajaknya ke salah satu sanggar di Taman Budaya Surabaya. Anugerah mengatakan, awalnya sang ayah hanya mengikutkan Ayu, kakak kandungnya, untuk berlatih. Namun, Anugerah selalu diajak ketika Ayu berlatih. ’’Ayah juga ngajak saya latihan dan saya ikut. Sampai sekarang akhirnya jadi suka,’’ jelasnya Perjalanan Anugerah tidak dimulai dengan karawitan. Dia awalnya belajar jadi dalang. Dari sana, dia sering diajak berkeliling untuk menampilkan cerita rakyat yang menggugah hati. Yang sering ditampilkan adalah cerita anak. ’’Nama sanggar saya Baladewa. Awalnya ndalang. Yang saya ceritain dongeng anak-anak. Seperti kancil dan harimau,’’ ujarnya. Remaja 16 tahun itu mulai aktif menjadi dalang ketika masuk SMP.

Namun, belakangan dia mengatakan lebih aktif memainkan saron. Dia merasa lebih nyaman menjadi pemain alat musik Jawa itu. Suara tabuhan gendang dan gong serta alat lain membuatnya nyaman. Apalagi, iringan tersebut diselingi suara merdu sinden yang ikut menyanyi. ’’Rasanya kalau dalang tok kurang sreg. Saya lebih suka bermain musiknya,’’ kata pelajar kelas X SMA tersebut.

Sementara itu, Ayu, kakaknya, juga punya kelebihan sendiri. Suara merdunya membawa perempuan 17 tahun tersebut menjadi sinden. Karena itu, dua anak pasangan Iwan Siswanto dan Hera Marthaningsih tersebut saling mengisi di bidang perwayangan. Keduanya juga sering tampil bersama. Bahkan ditunjuk menjadi tim pengajar di beberapa sekolah di Surabaya. ’’Seneng bukan main,’’ ucap Ayu.

Alhasil, bakat dua anak itu mulai dikenal. Keduanya sering tampil bersama di sekolah maupun di sanggar Baladewa.

Ayu lebih memiliki kenangan khusus soal latihan. Sebab, dari dialah, adiknya mengikuti keterampilan memainkan alat musik karawitan. Awalnya, lanjut dia, orang tuanya mengikutkannya di sanggar tersebut untuk menari. Namun, karena merasa kesulitan, dia pun memilih menyanyi. ”Untungnya, saya dilatih juga agar bisa nyinden. Semua digilir untuk menguasai alat dari dunia pewayangan,” ucapnya. Ayu mengatakan, ada hal yang mengesankan saat konser. Terutama bila ditonton banyak orang dan mereka menikmatinya. ”Rasanya bangga,” ungkapnya.

Tetapi, mencapai yang sudah diraihnya sekarang memang tidak mudah. Dia berkali-kali gagal. ”Banyak nada dan irama yang harus sesuai dengan lagu yang dinyanyikan. Itu sulit dan perlu banyak latihan,” katanya.

Selain itu, sinden dan pemain karawitan harus saling menyesuaikan. Nah, perpaduan tersebut yang biasanya membuat para pemula sering patah semangat. ”Susah sekali. Kami bisa berlatih sampai tengah malam untuk menyesuaikan nada tersebut,” ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c20/c15/tia



Close Ads