
Menang Nasaruddin Umar (biru) dan anggota Amirul Hajj Taruna Ikrar saat mengunjungi pasien di KKHI Makkah. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
JawaPos.com – Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Makkah akhirnya kembali diizinkan beroperasi untuk melayani jemaah haji Indonesia. Kepastian itu disampaikan setelah Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat berkunjung ke KKHI Makkah, Selasa (3/6).
Di KKHI Makkah, Menag datang bersama anggota Timwas Haji Muhammad Husni, anggota Amirul Hajj yang juga rektor IPB Arif Satria, Kepala BPOM Taruna Ikrar, dan Menhub Dudy Purwagandhi. Mereka disambut Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro Susilo dan Kabid Kesehatan PPIH Arab Saudi M. Ilham.
Di sana, Menag Nasaruddin dan rombongan melihat langsung berbagai fasilitas kesehatan yang disiapkan. Termasuk, menjenguk beberapa pasien yang sedang dirawat di tempat tidur observasi. Saat menjenguk, Menag juga mendoakan langsung pasien-pasien itu.
Menag Nasaruddin bersyukur atas keringanan yang diberikan pemerintah Arab Saudi, sehingga KKHI dapat menjadi fasilitas observasi bagi jemaah yang mengalami gangguan kesehatan. Apalagi, saat ini menjelang puncak ibadah Haji, wukuf di Arafah pada Kamis, 5 Juni 2025.
Sebelumnya, Saudi menerbitkan regulasi baru yang mewajibkan seluruh jemaah haji dirawat di rumah sakit Arab Saudi jika sakit. Hal itu membuat KKHI tak bisa melayani pasien.
Namun, setelah melakukan lobi intensif kepada Menteri Kesehatan Arab Saudi pada Grand Hajj Symposium di Jeddah, Minggu (1/6), Nasaruddin berhasil meyakinkan pihak Saudi untuk memberikan kelonggaran.
“Akhirnya kita berikan keyakinan bahwa kebanyakan jamaah kami bukan saja tidak bisa bahasa Arab, bahasa Indonesia pun juga. Seperti yang tadi juga, dia tidak bisa bahasa Indonesia, hanya bisa bahasa Jawa,” ujar Nasaruddin.
Peran Penting KKHI sebagai Fasilitas Observasi
Nasaruddin menjelaskan bahwa KKHI kini menjadi tempat observasi 24 jam bagi jemaah yang sakit. Para dokter akan memutuskan apakah pasien cukup dirawat di KKHI atau harus dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi.
Ini menjadi solusi penting karena selama ini banyak jemaah yang enggan berobat ke rumah sakit asing akibat perbedaan bahasa dan lingkungan yang membuat stres.
“Ada beberapa jamaah kita itu diduga menahan penyakitnya karena takut dibawa ke rumah sakit, rumah sakit di situ dirawat sama orang yang tidak ngerti bahasanya, tidak ada pendampingnya,” ungkapnya.
Namun, Nasaruddin menegaskan, pasien dengan kebutuhan medis khusus seperti cuci darah tetap harus dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi karena keterbatasan alat di KKHI.
Apresiasi untuk Arab Saudi
Meski sempat menghadapi pembatasan, Nasaruddin mengajak seluruh pihak untuk berbaik sangka terhadap kebijakan pemerintah Arab Saudi. Menurutnya, seluruh kebijakan yang diambil Saudi semata-mata demi kemaslahatan jemaah haji sebagai tamu negara.
“Saya menganggap bahwa kebijakan Saudi Arabia itu demi kepentingan pasien itu sendiri. Kita harus baik sangka kepada pemerintah Saudi bahwa semua kebijakan yang dilakukan itu untuk kemaslahatan tamunya sendiri, yaitu jamaah haji,” tuturnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
