Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Juni 2025 | 04.23 WIB

Angka Kematian Jemaah Haji Indonesia Disorot Saudi, Peran Dokter Taruna Ikrar Jadi Kunci Diplomasi

Menag Nasaruddin Umar (kanan) dan Dirjen PHU Hilman Latief di Grand Hajj Simposium ke-49 di Jeddah, Minggu (1/6). (MCH 2025) - Image

Menag Nasaruddin Umar (kanan) dan Dirjen PHU Hilman Latief di Grand Hajj Simposium ke-49 di Jeddah, Minggu (1/6). (MCH 2025)


JawaPos.com – Pemerintah Arab Saudi menyampaikan kekhawatiran atas angka kematian jemaah haji Indonesia yang cukup tinggi tahun ini. Menteri Kesehatan Arab Saudi, dalam pertemuan resmi dengan Menteri Agama (Menag) sekaligus Amirulhaj Indonesia Nasaruddin Umar, Minggu (1/6), bahkan secara khusus mempertanyakan kesiapan tim medis Indonesia dalam mendampingi para jemaah.

“Mereka mempertanyakan berapa jumlah dokter yang kita bawa, berapa perawatnya, dan apakah sistem penyeleksian kesehatan sebelum keberangkatan sudah seketat tahun lalu,” kata Nasaruddin usia Grand Hajj Simposium ke-49 di Jeddah, Minggu (1/6).

Hingga Minggu pukul 17.00 waktu Arab Saudi (WAS), data Siskohat mencatat jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia mencapai 115 orang. Sebanyak 71 di antaranya laki-laki, sedangkan perempuan 44 orang. Jika dilihat dari rentang usia, kelompok lansia mendominasi dengan 64 jemaah (55,65 persen), sementara kelompok usia 41–64 tahun menyumbang 51 kematian (44,3 persen).

Dua embarkasi dengan jumlah jemaah wafat terbanyak adalah SOC Solo dan SUB Surabaya, masing-masing mencatat 17 jemaah meninggal. Menariknya, jika dibandingkan dengan data periode yang sama di hari ke-31 pelaksanaan haji, angka tahun ini lebih tinggi dibanding 2024 (98 jemaah), meski lebih rendah dibanding 2023 (131 jemaah).

Menurut Menag, salah satu persoalan krusial adalah hambatan komunikasi di rumah sakit Arab Saudi. Banyak jemaah menolak dirujuk ke rumah sakit karena kesulitan bahasa dan ketidaknyamanan tanpa pendamping. “Jangankan bahasa Arab, bahasa Inggris saja mereka sulit. Bahasa Indonesia pun kadang harus pakai bahasa lokal,” ungkap Nasaruddin.

Di sinilah peran penting dokter-dokter Indonesia di lapangan, termasuk Prof. Taruna Ikrar, anggota Amirulhaj sekaligus Kepala BPOM, yang ikut mengoordinasikan upaya negosiasi. “Tadinya memang dokter kita dilarang melakukan observasi atau perawatan di balai klinik kita, tapi setelah dijelaskan Prof. Taruna soal masalah komunikasi ini, akhirnya ada kesepakatan,” kata Menag.

Menurut Nasaruddin, hasil pertemuan dengan Menteri Kesehatan Arab Saudi menghasilkan terobosan penting: tim medis Indonesia kini diperbolehkan menangani jemaah langsung di klinik-klinik sektor tanpa harus langsung dirujuk ke rumah sakit, kecuali untuk kasus kegawatdaruratan. “Ini membuat jemaah lebih nyaman dan stres mereka berkurang. Mereka merasa lebih tenang ditangani dokter Indonesia,” jelasnya.

Menag menyebutkan, meskipun Saudi menunjukkan sikap sangat kooperatif, Indonesia harus melakukan introspeksi. “Kami harus catat semua ini untuk pembelajaran tahun-tahun berikutnya. Termasuk soal persiapan kesehatan, jumlah tenaga medis, dan bagaimana menjamin kualitas layanan di lapangan,” tegasnya.

Dalam konteks yang lebih luas, diplomasi kesehatan yang dilakukan tim Amirulhaj, termasuk Prof. Taruna Ikrar, menjadi kunci penting untuk menjaga keselamatan jemaah, terutama menjelang puncak haji 5 Juni nanti. Dengan suhu yang diperkirakan mencapai 50°C, fokus pemerintah bukan hanya melindungi secara spiritual, tetapi juga menjaga ketahanan fisik para tamu Allah.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore