
Musytasyar dini PPIH, Hj. Badriyah Fayumi. (MCH 2025)
JawaPos.com – Menjelang puncak ibadah wukuf di Arafah yang akan digelar pada 5–6 Juni 2025, para jemaah haji perempuan diingatkan untuk mempersiapkan fisik, mental, dan perlengkapan praktis demi kenyamanan beribadah.
Mustasyar dini atau pembimbing ibadah Petugas Haji 2025, Ny. Hj. Badriyah Fayumi, mengingatkan bahwa meskipun ibadah haji adalah momen sakral, kondisi biologis perempuan seperti haid tidak menjadi penghalang untuk ikut serta.
“Perempuan yang berhaji telah melakukan pengorbanan besar, meninggalkan keluarga dan menempuh perjalanan panjang demi panggilan Ilahi,” ujarnya di Makkah, Sabtu (24/5).
Badriyah menekankan, perempuan yang sedang haid tetap sah melaksanakan wukuf. Yang tidak bisa dilakukan hanyalah tawaf, sementara ibadah lain seperti sai dan tahalul tetap bisa dilaksanakan, bahkan jika haid sudah mulai mereda.
“Jangan sedih, haid ini dari Allah, kewajiban haji juga dari Allah. Allah tidak akan memberatkan hambanya,” ucapnya.
Untuk tawaf wada, khusus bagi perempuan yang haid dan sudah harus pulang, tidak ada kewajiban melakukannya dan mereka juga tidak dikenakan dam.
Namun, ada satu tips praktis yang sangat ditekankan oleh Badriyah, yakni penggunaan diaper (popok dewasa) atau minimal pembalut selama Armuzna, termasuk saat mabit di Mina. Mengapa? Karena jumlah toilet terbatas dan antrean panjang kerap terjadi, terutama di Muzdalifah.
“Kalau sewaktu-waktu jalanan macet, kita kebelet dan antrenya panjang, atau bahkan tidak bisa turun, maka menggunakan diaper insyaallah sedikit membantu,” katanya.
Badriyah menjelaskan, menggunakan diaper bukan pelanggaran ihram perempuan. Justru itu membantu menjaga kebersihan dan kesucian pakaian ihram.
“Kita tetap antre, tapi kalau tidak kuat, kita bisa tumpahkan sambil antre, dan ketika di dalam, kita tinggal ganti pembalut atau pampersnya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa jumlah jemaah perempuan lebih banyak, sementara toilet laki-laki lebih efektif karena dilengkapi urinoir. Oleh karena itu, penting bagi perempuan untuk menghemat energi, tidak mudah terpancing emosi, dan fokus menjaga niat serta keikhlasan.
Selain persiapan fisik, Badriyah menyarankan jemaah perempuan untuk menggandakan ibadah ringan seperti zikir, tadarus, doa, dan sabar.
“Haji bukan sekadar sah, tapi mabrur. Jadikan setiap langkah, termasuk saat lelah berjalan menuju Jamarat, sebagai langkah menuju Allah,” pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
