Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Mei 2025 | 02.06 WIB

Kebijakan Reunifikasi Dijalankan, Fatimah Akhirnya ke Makkah Bersama Ibunya yang Disabilitas

Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Deka Kurniawan berbicara dengan Junaina dan anaknya, Fatima Zahro CJH asal Jember yang sempat terpisah dengan ibunya. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com) - Image

Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Deka Kurniawan berbicara dengan Junaina dan anaknya, Fatima Zahro CJH asal Jember yang sempat terpisah dengan ibunya. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)

JawaPos.com – Komitmen Kementerian Agama dan PPIH Arab Saudi untuk menyatukan kembali jemaah haji yang sempat terpisah akibat sistem delapan syarikah kini terbukti dijalankan. Pernyataan Dirjen PHU Hilman Latief dan Ketua PPIH Arab Saudi Muchlis Hanafi soal kebijakan reunifikasi bukan sekadar wacana, tetapi sudah diterapkan di lapangan.

Salah satu contohnya adalah Fatimah Zahro, jemaah asal Jember dari kloter SUB 31 (Surabaya) yang seharusnya diberangkatkan dari Madinah ke Makkah bersama suami dan ibunya, Junaina, Selasa (20/5) pagi. Namun saat bus datang, mereka ternyata tidak satu manifest.

Fatimah dan suami mendapatkan bus nomor 6, sementara ibunya, seorang lansia dengan gangguan penglihatan akibat diabetes, mendapat bus nomor 10. Setelah dicek, ternyata keduanya terdaftar di syarikah berbeda, sehingga sistem mengharuskan mereka berangkat terpisah.

Fatimah langsung menolak. “Saya tidak mau kalau berpisah dengan ibu. Khawatir ibu perlu sesuatu. Alhamdulillah, disetujui untuk berangkat bersama ke Makkah,” ujarnya dengan haru di Hotel Abraj Tabah, Madinah.

Menanggapi laporan itu, Ketua Sektor 2 Madinah langsung bergerak cepat. Ia bernegosiasi dengan pihak syarikah dan mencabut nama Fatimah dan ibunya dari manifest agar bisa diberangkatkan bersama secara khusus. Suaminya tetap diberangkatkan lebih dahulu dengan bus 6, sementara Fatimah dan ibunya akan menyusul secara mandiri dengan dukungan penuh dari petugas.

Kisah Fatimah hanyalah satu dari banyak kasus serupa yang muncul akibat sistem distribusi jemaah oleh delapan syarikah berbeda, yang tahun ini diberi kewenangan penuh dalam pengelolaan layanan haji. Sistem ini sempat menimbulkan kekacauan di awal, termasuk ratusan jemaah yang sempat terpisah dari rombongannya dan akhirnya harus dikumpulkan di hotel transit Diyar Taibah, Madinah, sebelum diberangkatkan ke Makkah secara bertahap.

Sejak munculnya kasus calon jemaah haji yang terpisah dari rombongan akibat perbedaan syarikah, Daerah Kerja (Daker) Madinah terus berupaya menuntaskan persoalan ini dengan memberangkatkan jemaah secara mandiri menggunakan bus coaster.

Setelah melalui proses bertahap, pada Senin (19/5) malam, seluruh jemaah yang sempat terpisah akhirnya diberangkatkan ke Makkah. Kepala Daker Madinah, M. Lutfi Makki, menyebut bahwa rombongan terakhir yang diberangkatkan berjumlah 220 jemaah, menggunakan 13 unit bus coaster.

“Ini adalah rombongan terakhir dan semoga tidak ada lagi jemaah terpisah dari rombongan saat pemberangkatan ke Makkah,” ujar Makki.

Demi menghindari kejadian serupa, PPIH Madinah juga mengambil langkah di luar SOP, dengan mengutamakan pendekatan kemanusiaan bagi jemaah lansia dan disabilitas.

“Petugas berani mencabut jemaah dari manifest dan memisahkannya dari rombongan agar bisa tetap bersama pendampingnya. Ini langkah luar biasa, dan kami beri apresiasi setinggi-tingginya,” kata Deka Kurniawan, Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) saat bertemu dengan Fatimah dan Junaina di hotel.

Menurut Deka, langkah tersebut sangat penting, terutama bagi jemaah dengan disabilitas mental atau lansia dengan demensia, yang bisa mengalami stres berat jika tidak didampingi.

“Mereka bisa mengalami pemicu kejiwaan yang memperparah kondisi mentalnya. Ini bukan hanya teknis administratif, tapi bentuk nyata dari empati dan kemanusiaan,” ujarnya.

Selain itu, PPIH juga melakukan pemetaan hotel-hotel yang masih dihuni jemaah untuk mengidentifikasi lebih awal siapa saja yang perlu pendamping, agar tidak terlambat ditangani.

“Kami briefing langsung petugas agar mendata dan antisipasi sejak sore, bukan besok saat keberangkatan,” lanjut Deka.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore