
Pekerja mengemas paket makan malam bagi jamaah calon haji Indonesia di dapur Raghaeb Catering, Makkah, Arab Saudi, Selasa (13/5). (MCH 2025)
JawaPos.com – Memasuki hari kelima proses pemindahan calon jemaah haji Indonesia dari Madinah ke Makkah, tantangan logistik, termasuk konsumsi, semakin meningkat.
Hingga Rabu pukul 10.40 waktu Arab Saudi (WAS), tercatat 24.465 jemaah dari 63 kloter telah tiba di Makkah. Jumlah ini akan terus bertambah hingga 26 Mei, ketika seluruh jemaah telah berpindah ke kota suci.
Untuk memastikan jemaah tetap mendapatkan makanan yang lezat dan bergizi selama ibadah haji, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menerapkan sejumlah inovasi.
Salah satunya adalah penggunaan bumbu pasta produksi Indonesia sebagai standar di seluruh dapur yang melayani konsumsi jemaah haji di Makkah dan Madinah.
“Bumbu pasta dari Indonesia itu sudah didatangkan ke Arab Saudi. Mekah dan Madinah sudah menggunakan itu sehingga rasanya akan sama antara satu dapur dengan dapur yang lainnya,” ujar Agung Ilham, konsultan tenaga ahli konsumsi dari Poltekpar NHI Bandung, di dapur katering Ragheeb, kawasan Shauqiah, Makkah.
Agung menjelaskan, bumbu tersebut diproduksi oleh berbagai perusahaan di Indonesia dan dikirim langsung ke Arab Saudi.
Gudang penyimpanan di Makkah menyimpan berbagai jenis bumbu, termasuk bumbu rendang, gulai, sambal, dan lain-lain, yang siap digunakan dalam skala besar.
“Dengan penggunaan bumbu yang distandarkan, kualitas dan cita rasa Nusantara bisa dipertahankan. Ini penting agar jemaah merasa seperti makan di rumah sendiri,” tambahnya.
Setiap dapur yang bekerja sama dengan PPIH memiliki kapasitas produksi harian antara 3.500 hingga 5.000 porsi.
Pada fase puncak haji nanti, angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring penambahan jumlah jemaah yang telah tiba di Makkah.
Proses distribusi makanan dari dapur ke hotel dilakukan dalam kondisi hangat. Makanan yang telah dikemas akan dimasukkan ke dalam hotbox, sebuah wadah penghangat berstandar industri katering internasional.
“Hotbox ini menjaga suhu makanan tetap ideal saat sampai di tangan jemaah,” jelas Agung.
Selain menjaga cita rasa dan suhu makanan, pengawasan ketat juga dilakukan oleh tim ahli. Setiap dapur wajib mengirimkan dua sampel makanan ke Kantor Daker Makkah dan dua sampel lainnya ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) untuk diuji secara berkala.
“Mulai dari gramasinya, rasa, hingga kebersihan dicek ketat. Ini demi memastikan jemaah menerima makanan yang layak dan berkualitas tinggi,” ujar Agung.
Dengan sistem dapur yang terstandar dan penggunaan bumbu Indonesia, diharapkan jemaah haji Indonesia tetap bisa menikmati rasa kampung halaman meski berada jauh dari rumah.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
