
SEMANGAT: Salamun dan istri, Sukarti, di rumah mereka di Dusun Temulawak, Desa Kebontemu, Jombang, Selasa (7/5).
Salamun butuh 13 tahun menyisihkan pendapatan sebagai juru parkir dan penjual minuman kemasan sebelum bisa melunasi biaya haji untuk dirinya dan istri. Hebatnya lagi, kelima anaknya berhasil dia kuliahkan sampai lulus sarjana.
ANGGI FRIDIANTO, Jombang
---
PRIT…PRIT…PRIT… Bunyi peluit bersahutan dengan bisingnya suara kendaraan yang melintas di Jalan Gus Dur, Jombang, Jawa Timur, kemarin (7/5) pagi.
Jarum jam masih menunjukkan pukul 09.00. Namun, Salamun sudah sibuk dengan pekerjaannya sebagai juru parkir (jukir).
Dari pekerjaan yang telah bertahun-tahun digelutinya itu, pria 65 tahun tersebut menghidupi keluarga. Dan, dari sebagian pendapatan sebagai jukir yang rutin disisihkannya pula warga Dusun Temulawak, Desa Kebontemu, Jombang, itu bisa mewujudkan mimpi: naik haji bareng sang istri, Sukarti, pada tahun ini.
”Alhamdulillah, persiapan sudah selesai. Insya Allah berangkat 27 Mei mendatang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin.
Pria kelahiran 17 Agustus 1958 itu menabung untuk haji sejak 2005. Kala itu dia punya modal awal hanya Rp 50 ribu.
Salamun pun kemudian berangkat ke tukang kayu untuk membuat celengan berbentuk kotak persegi. Celengan itu berisi tiga lubang untuk membagi kebutuhannya. Mulai membayar pendidikan anak, memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga berhaji. Maklum, pendapatannya dari jukir juga tak banyak sehingga dia harus pandai-pandai mengatur keuangan.
”Terus, saya niat, bismillahirrahmanirrahim, saya berniat ingin haji, lillahi ta’ala. Setelah itu, saya masukkan uang Rp 50 ribu,” kenangnya sambil mengingat awal perjuangan mewujudkan mimpi ke Tanah Suci.
Dia menceritakan tak langsung bisa mengumpulkan uang untuk daftar haji sejak kali pertama menabung. Bagi jukir seperti dirinya yang mendapat honor pas-pasan, bisa daftar dan mendapatkan nomor porsi haji dengan biaya sekitar Rp 25 juta membutuhkan waktu minimal 5 tahun. Daftar haji akhirnya baru bisa dia lakukan pada 2011.
”Itu saya kumpulkan selama lima tahun. Nabung di rumah. Kemudian, Desember 2011 pas Jumat, langsung daftar haji setelah saya hitung ulang di dalam kotak ada Rp 25 juta. Memang, saya pilih Jumat karena hari baik,” ungkapnya.
Selama menabung, Salamun menyebut pendapatannya tak hanya bersumber dari jukir. Tetapi juga dari berjualan minuman dan rokok dengan sebuah gerobak kecil di tempatnya berjaga parkir.
”Pendapatan saya tidak banyak, mulai Rp 50 ribu, Rp 70 ribu, atau Rp 80 ribu dalam sehari. Itu pun belum dibagi untuk kebutuhan lain-lain,” jelas dia.
Dengan pendapatan seperti itu, terbayang memang kerasnya perjuangan Salamun untuk bisa mengumpulkan biaya haji. Namun, niat kuat dibarengi keteguhan menjalankan ternyata membuahkan hasil.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
