Menang Nasaruddin Umar (biru) dan anggota Amirul Hajj Taruna Ikrar saat mengunjungi pasien di KKHI Makkah. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
JawaPos.com – Fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) kerap kali menjadi periode yang paling mengkhawatirkan bagi penyelenggara haji. Suhu ekstrem, kepadatan jemaah, serta aktivitas fisik yang tinggi membuat risiko kesehatan meningkat drastis.
Bahkan, sejumlah prediksi, termasuk dari sistem kecerdasan buatan (AI) yang digunakan pemerintah Arab Saudi, menyebutkan bahwa ratusan jemaah Indonesia berpotensi wafat dalam fase tersebut.
Namun, prediksi itu tidak menjadi kenyataan. Justru sebaliknya. Hingga Sabtu malam (7/6), jumlah jemaah Indonesia yang wafat saat fase Armuzna, khususnya di hari wukuf di Arafah pada Kamis (5/6), tercatat ada sembilan orang. Jumlah ini jauh lebih rendah dari ekspektasi.
"Menurut ekspektasi artificial intelligence pemerintah Saudi seharusnya kemarin ada ratusan yang wafat. Tapi lewat doa semuanya, ada 9 tambahan yang meninggal," ungkap Prof. Taruna Ikrar, anggota Amirul Hajj yang juga Kepala BPOM RI, dalam keterangannya di Mina.
Ia menyebutkan bahwa puncak ibadah haji yang melelahkan itu justru mampu dilalui dengan baik oleh sebagian besar jemaah. Salah satu faktornya adalah keberhasilan tim kesehatan dan manajemen haji dalam menerapkan pendekatan preventif dan edukatif sebelum jemaah memasuki Armuzna.
“Petugas kesehatan betul-betul bekerja sampai titik yang penghabisan. Bahkan mereka mengabaikan kepentingan pribadinya,” kata Taruna dengan penuh apresiasi.
Menurut dia, data Siskohat menunjukkan bahwa mayoritas jemaah yang wafat justru terjadi sebelum fase Armuzna dimulai. Dengan kata lain, potensi risiko tertinggi yang semula diprediksi terjadi saat wukuf dan mabit, berhasil diredam dengan berbagai langkah persiapan dan layanan kesehatan yang memadai.
“Sebagian besar yang meninggal itu sebelum wukuf. Jadi mereka wafatnya sebelum Armuzna, bukan saat puncak haji,” ujarnya.
Dari data siskohat juga diketahu pada 2024 yang meninggal saat di Arafah sebanyak 11 jemaah haji. Sedangkan pada 2023, jemaah yang meninggal saat Wukuf di Arafah sebanyak 13 jemaah wafat.
Keberhasilan ini, lanjut Taruna, juga tidak lepas dari strategi Pemerintah Indonesia melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, yang mengedepankan layanan promotif dan preventif.
Petugas memberikan edukasi berkala kepada jemaah, membagikan suplemen dan vitamin, serta memastikan jemaah dengan komorbid atau berisiko tinggi mendapatkan prioritas dalam evakuasi.
“Tetap ada risiko, tapi kali ini berhasil ditekan. Itu luar biasa,” ucap Taruna.
Sebagai informasi, pada musim haji 2025 ini, suhu di kawasan Armuzna tercatat menembus 50 derajat Celsius. Selain edukasi kesehatan, faktor teknis seperti jadwal keberangkatan yang diatur malam hari dan pengendalian mobilitas jemaah juga berperan besar dalam menekan angka kelelahan dan potensi heat stroke.
Per Sabtu (7/6) pukul 23.00 waktu Arab Saudi, total jemaah haji Indonesia yang wafat tercatat sebanyak 175 orang. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu pada periode operasional yang sama, yakni 190 orang selama hari ke-8 musim haji.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
