Jamaah haji melempar jumrah Aqabah di Mina, Makkah, Arab Saudi, Jumat (6/6). (MCH 2025)
JawaPos.com – Di tengah suhu yang menyentuh lebih dari 50 derajat Celsius, jemaah haji Indonesia melanjutkan rangkaian ibadah di Mina, Jumat (6/6), dengan ritual melempar jumrah. Setelah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah sehari sebelumnya, prosesi ini menjadi lanjutan penting sekaligus simbol perjuangan spiritual melawan hawa nafsu.
Menteri Agama Nasaruddin Umar yang meninjau langsung ke lokasi mengingatkan, lempar jumrah bukan hanya ritual fisik, tetapi juga momentum refleksi dan disiplin diri.
Ia menekankan bahwa melempar jumrah bukan sekadar ritual simbolik, tetapi juga momentum untuk melawan bisikan setan dalam diri dan mengasah ketaatan kepada Allah.
“Jumrah itu simbol melempar setan. Artinya, kita bukan hanya melempar batu, tapi juga melempar amarah, melempar ego, dan perasaan-perasaan negatif dalam diri kita. Ini perjuangan spiritual yang dalam,” kata Nasaruddin.
Namun, ibadah yang penuh makna ini juga berisiko jika dilakukan tanpa kesiapan. Nasaruddin mengingatkan jemaah untuk selalu memperhatikan kondisi fisik, terutama mengingat suhu di Mina dan sekitarnya kini mencapai lebih dari 50 derajat Celsius.
“Kami menyarankan jemaah tidak memaksakan diri. Kalau merasa lelah, istirahat dulu. Jangan sampai hanya karena ingin cepat selesai, lalu malah collapse di tengah jalan,” katanya.
Ia menegaskan, kesehatan adalah bagian dari ibadah. Karena itu, semua petugas diminta sigap membantu, terutama bagi jemaah lansia atau yang menggunakan kursi roda.
Nasaruddin juga menyinggung soal pentingnya ketertiban dalam mengikuti jadwal yang telah ditetapkan Kementerian Agama. Ia mengapresiasi disiplin jemaah yang telah mengikuti pembagian waktu lempar jumrah. Jadwal ini disusun untuk menghindari kepadatan dan paparan suhu ekstrem pada jam-jam berbahaya.
“Kita imbau jemaah mengikuti jadwal resmi. Jangan berebut, jangan berjalan sendiri-sendiri, ikuti rombongan. Apalagi yang lewat jalur atas jamarat itu kan jalannya panjang, berputar, naik tangga. Itu butuh energi lebih,” jelasnya.
Menag juga mewanti-wanti agar jemaah tidak memaksakan diri mengunjungi lokasi lain di luar rangkaian ibadah, seperti Jabal Rahmah atau tempat belanja, karena bisa berisiko hilang atau tersesat.
“Dulu itu banyak yang jalan-jalan keluar tenda, ke Jabal Rahmah atau belanja. Sekarang tidak bisa lagi. Polisi Saudi ketat sekali menjaga. Apalagi yang tidak punya kartu Nusuk, itu tidak akan bisa masuk Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” tegas Nasaruddin.
Ia juga menyampaikan bahwa kedisiplinan sistem Nusuk yang diberlakukan otoritas Saudi berdampak positif, salah satunya adalah minimnya jemaah haji ilegal yang bisa masuk ke kawasan-kawasan suci.
“Kami diperiksa dua tiga kali untuk masuk ke sini. Kalau tidak ada Nusuk, tidak akan bisa masuk. Ini bagus. Karena itu saya ingatkan, tahun depan jangan coba-coba haji tanpa jalur resmi,” imbuhnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
