Anggota Amirul Hajj KH. Ahmad Said Asrori yang menjadi khatib di Arafah. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
JawaPos.com – Puncak ibadah haji berlangsung khidmat di Padang Arafah, Kamis (5/6) atau 9 Zulhijah 1446 H. Jutaan jemaah dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, berkumpul di tempat yang disebut sebagai miniatur Mahsyar ini.
Mereka menanggalkan status sosial, berpakaian putih yang sama, dan menengadahkan tangan memohon ampun serta berkah kepada Sang Pencipta.
Di tengah suasana hening dan khusyuk itu, KH Ahmad Said Asrori, Anggota Amirul Hajj sekaligus Katib Am Syuriah PBNU, menyampaikan khutbah wukuf dari tenda Misi Haji Indonesia. Tema yang diangkat tahun ini sangat relevan: Wukuf di Arafah: Meneguhkan Persaudaraan dan Semangat Kebangsaan.
“Hari ini adalah hari yang dinanti oleh jutaan umat Islam. Semua bersimpuh dan bermunajat di hadapan Allah untuk meraih ampunan dan ridha-Nya. Lantunan talbiyah bergema memenuhi langit-langit Arafah,” ujar KH Said membuka khutbah.
Ia menyebut Arafah sebagai simbol kesetaraan sejati. Di sinilah, lanjutnya, manusia belajar melepas atribut duniawi dan menyadari bahwa tak ada keutamaan selain takwa.
“Tak ada keistimewaan orang Arab atas non-Arab, putih atas hitam, atau kaya atas miskin. Semua sama di hadapan Allah.”
KH Said juga menekankan pentingnya persaudaraan seiman, sebangsa, dan sekemanusiaan. Pesan Nabi Muhammad SAW yang dikutip dalam khutbah menjadi penegas bahwa ukhuwah sejati harus dibangun tanpa syarat, tanpa basa-basi.
“Persaudaraan yang sejati adalah yang penuh empati, yang tak menyakiti, tak mengkhianati, dan tak menzalimi,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengajak para jemaah untuk menjadikan wukuf sebagai momentum memperkuat cinta tanah air. Dalam konteks Indonesia sebagai bangsa besar yang majemuk, seruan persatuan di Arafah menjadi relevan dan menguatkan.
“Mari jadikan keragaman bangsa sebagai kekuatan untuk membangun Indonesia menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” katanya.
Dalam suasana puncak ibadah haji itu, KH Said juga menyerukan pentingnya beristighfar dan berdoa. Arafah, katanya, adalah tempat terbaik untuk memohon ampunan atas segala dosa: kepada sesama manusia, kepada alam, dan kepada Allah. Ia pun mengutip sabda Nabi Muhammad SAW bahwa doa terbaik adalah doa di hari Arafah.
“Semoga wukuf kita, dan doa-doa yang kita panjatkan diterima Allah. Semoga kita menjadi pribadi luhur yang mampu membawa nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan semangat kebangsaan dalam kehidupan setelah haji,” pungkasnya.
Khutbah ini diikuti langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, para pejabat haji Indonesia, serta para tokoh nasional yang tergabung dalam Misi Haji Indonesia. Suasana tenda penuh keheningan dan haru, menandai sebuah ibadah yang tak hanya sakral, tetapi juga penuh makna kebangsaan.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
