
Petugas menyiapkan vaksin meningitis di Puskesmas Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (17/4/2024). (MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS)
JawaPos.com – Menjelang keberangkatan kloter pertama jemaah haji Indonesia pada 2 Mei 2025, salah satu syarat penting yang harus dipenuhi adalah vaksinasi meningitis dan polio. Dua vaksin ini bukan sekadar formalitas.
Menurut Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Merhaendro Susilo, keduanya adalah bentuk “baju pelindung” bagi jemaah dari ancaman penyakit menular lintas negara.
“Jemaah kita berasal dari negara yang pernah mengalami kasus polio. Jadi harus dilindungi dulu agar tidak menjadi pembawa penyakit untuk jemaah lain di sana. Sama halnya dengan meningitis—itu banyak di negara lain seperti Afrika. Kita dikasih pelindung supaya tidak tertular,” kata Liliek dalam pembekalan PPIH 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Rabu (16/4).
Polio atau poliomyelitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan menyerang sistem saraf. Dalam kasus parah, polio dapat menyebabkan kelumpuhan permanen.
Meskipun Indonesia telah bebas polio sejak 2014, kasus baru sempat ditemukan kembali pada 2022, yang menjadikan Indonesia tetap masuk dalam kategori negara berisiko penyebaran.
Lebih penting lagi, negara-negara di sekitar Arab Saudi seperti Yaman, Sudan Selatan, dan Somalia masih melaporkan kasus polio liar dan vaksin-derived polio setiap tahun, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Lantaran Arab Saudi menjadi titik kumpul jutaan jemaah dari berbagai negara, potensi penyebaran virus tetap tinggi. Oleh sebab itu, vaksin polio diberikan untuk melindungi jemaah sekaligus mencegah penyebaran global.
Sementara itu, meningitis adalah infeksi pada selaput otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini bisa disebabkan oleh bakteri atau virus, dan dalam banyak kasus berkembang dengan cepat serta bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Salah satu bentuk meningitis yang paling dikhawatirkan adalah meningitis meningokokus.
Beberapa negara di kawasan sabuk meningitis Afrika—seperti Nigeria, Chad, dan Niger—masih menjadi endemi penyakit ini. Karena jemaah dari negara-negara tersebut juga hadir di Arab Saudi, maka jemaah haji Indonesia tetap diwajibkan menerima vaksin meningitis sebagai bentuk proteksi kolektif.
Liliek memastikan bahwa vaksin polio sudah didistribusikan ke seluruh provinsi. Sementara vaksin meningitis masih dalam proses distribusi dan ditargetkan selesai sebelum tahapan pelunasan haji tuntas. Dengan demikian, vaksinasi bisa langsung dilakukan begitu seluruh dokumen jemaah lengkap.
Pemerintah Arab Saudi juga mewajibkan bukti vaksin meningitis sebagai syarat masuk bagi jemaah dari berbagai negara. Maka, vaksinasi bukan hanya kebijakan pemerintah Indonesia, tetapi bagian dari sistem internasional untuk menjamin pelaksanaan haji yang aman dan sehat.
“Kita ingin memastikan jemaah sehat sejak berangkat, saat di sana, dan kembali pulang. Dua vaksin ini adalah pelindung paling awal sebelum mereka masuk ke lingkungan padat, panas, dan penuh interaksi global,” tutup Liliek.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
