Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Juni 2024 | 22.05 WIB

Universitas Islam Madinah, Kampus Jujukan Pelajar Indonesia di Arab Saudi Yang Sediakan Beasiswa hingga Rp 1 Miliar

BANYAK DIMINATI: Suasana kampus Universitas Islam Madinah (27/5). Sekitar 1.600 mahasiswa kampus itu berasal dari Indonesia. - Image

BANYAK DIMINATI: Suasana kampus Universitas Islam Madinah (27/5). Sekitar 1.600 mahasiswa kampus itu berasal dari Indonesia.

Sejak didirikan pada 1961 oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi, perguruan tinggi ini memang diprioritaskan bagi pelajar dari mancanegara yang ingin mendalami Islam. Dan, Indonesia menjadi penyumbang terbesarnya.

”AHLAN wa sahlan. Selamat datang di kampus kami. Mohon maaf mungkin kita tidak bisa mengambil foto di kelas untuk saat ini karena para mahasiswa masih melaksanakan ujian.”.

Kalimat itu dituturkan dengan ramah oleh Zulmar Adiguna, mahasiswa fakultas syariah universitas yang terletak di Distrik Al Jamiah, Madinah, Arab Saudi, tersebut. Pada Senin (27/5) pekan lalu, Zulmar bersama Ketua Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Madinah Ahmad Bukhori menemani Jawa Pos dan tim Media Center Haji (MCH) untuk mengenal lebih dekat perguruan tinggi tersebut.

Kampus yang familier disebut Universitas Islam Madinah (UIM) oleh mahasiswa Indonesia dan berjarak sekitar 4,7 kilometer dari Masjid Nabawi itu begitu luas. Mencapai 50 hektare.

Total ada 170 negara yang mengirimkan pelajar untuk menimba ilmu di sana. Dan, Indonesia menjadi negara ’’pengekspor” terbanyak.

Dari sekitar 17.800 mahasiswa yang saat ini belajar di sana, sekitar 1.600 orang berasal dari tanah air. ”Namun, saat ini sebagian mahasiswa sudah masuk masa libur panjang sehingga banyak yang tidak berada di kampus,” kata Bukhori.

Ya, di UIM, bulan haji menjadi masa libur panjang, mencapai dua bulan. Baru masuk lagi pada akhir Muharam.

Sebagian besar mahasiswa pulang ke tanah air. Namun, ada pula yang masih tinggal di Madinah. ”Rata-rata yang tidak pulang adalah mereka yang menjadi petugas haji Indonesia pada musim haji kali ini. Sebelumnya, mereka mengikuti seleksi dan lulus,” jelas Bukhori.

Dominasi mahasiswa dari luar yang kuliah di UIM cukup beralasan. Sejak didirikan pada 1961 sesuai keputusan resmi Raja Saud bin Abdul Aziz, kampus itu menjadi sarana penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Tak heran jika UIM didominasi fakultas tentang keislaman. Mulai syariah, Alquran, hadis dan studi Islam, dakwah dan ushuluddin, hingga bahasa Arab. Meski demikian, di kampus itu juga terdapat fakultas umum seperti hukum, komputer dan sistem informasi, teknik, serta sains.

Setiap tahun ajaran, yang diterima paling banyak 180 mahasiswa per fakultas. Peminatnya cukup banyak. Sebab, UIM menerapkan konsep gratis 100 persen.

Bukhori menceritakan, skema beasiswa yang diberikan adalah beasiswa penuh. Selain dibebaskan dari semua biaya pendidikan, para mahasiswa diberi beragam fasilitas lain secara gratis. Mulai asrama pemondokan, makan, hingga buku. ’’Tiap kamar berisi empat mahasiswa,” katanya.

Semua mahasiswa juga mendapat uang saku bulanan sebesar 850 riyal atau setara Rp 3,5 juta. Termasuk tiket pulang kampung ke negara asal pulang pergi (PP).

Uang saku mudik itu hanya diberikan saat masa libur panjang seperti saat ini. Jika ingin pulang di luar waktu itu, biaya tidak ditanggung kampus.

Jika mahasiswa ingin mencari makanan di luar jatah rutin kampus, mereka juga bisa membeli berbagai makanan yang tersedia di area kampus. ”Jika beli makanan di luar, nanti ada diskon,” katanya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore