Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Mei 2024 | 17.41 WIB

Ariful Bahri, Pengisi Kajian Rutin dalam Bahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah

MELUBER: Jamaah haji Indonesia mengikuti pengajian rutin berbahasa Indonesia yang disampaikan Ustad Ariful bahri di dalam Masjid Nabawi, Madinah, setelah salat Magrib, Sabtu  (25/5). - Image

MELUBER: Jamaah haji Indonesia mengikuti pengajian rutin berbahasa Indonesia yang disampaikan Ustad Ariful bahri di dalam Masjid Nabawi, Madinah, setelah salat Magrib, Sabtu (25/5).

Antusiasme Jemaah Tanah Air Tinggi dan Tidak Hanya saat Musim Haji

Sudah lima tahun Ariful Bahri mengisi kajian dalam bahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah. Kini dia mulai rutin menulis agar bisa membukukan seluruh pengetahuan.

ARIS IMAM MASYHUDI, Madinah

---

SETELAH salat Isya berjemaah di Masjid Nabawi selesai, pria berjubah putih dan berserban itu melangkahkan kaki keluar masjid. Berdiri di depan gate 19 masjid.

Pada Sabtu (25/5) malam itu, dengan sabar dan senyum yang terus mengembang, Ariful Bahri –pria tersebut– melayani para jemaah asal Indonesia. Mereka silih berganti menghampiri, menyapa, serta menyalaminya. Tak sedikit yang mengajaknya berfoto bersama.

Ariful dikenal luas di kalangan jemaah dari tanah air karena dialah yang menjadi pemateri dalam pengajian rutin yang berlangsung di Masjid Nabawi. Setiap selesai salat Magrib hingga jelang salat Isya.

”Alhamdulillah, semangat jemaah asal Indonesia untuk mengikuti pengajian di Nabawi begitu tinggi. Tidak hanya saat musim haji, hampir setiap hari, banyak yang hadir,” katanya.

Ustad Arif –sapaan akrabnya– satu-satunya pengisi pengajian rutin berbahasa Indonesia. Saat ditemui Jawa Pos dan sejumlah anggota Media Center Haji (MCH) Kemenag RI di pelataran Masjid Nabawi pada Sabtu malam lalu itu, dia baru saja menyajikan materi tentang larangan bagi jemaah haji setelah berihram.

Selain kajian rutin berbahasa Indonesia, ada pengajian rutin dengan bahasa non-Arab yang berlangsung di Nabawi, yakni bahasa Urdu. ”Dulu, sebenarnya ada pengajian dari sejumlah bahasa lain. Mulai Inggris, India, Turki, Melayu, hingga Tiongkok. Namun, saat ini tinggal dua bahasa itu,” katanya.

Rutinitas Ustad Arif mengisi kajian rutin di Masjid Nabawi berlangsung sejak lima tahun lalu. Namun, jalan sang ustad hingga bisa mencapai titik sekarang ini telah dititinya lama.

Berawal saat dia memasuki jenjang SMP. Mulanya dia ingin masuk pesantren. Namun, karena tidak memungkinkan, akhirnya dia masuk madrasah tsanawiyah (MTs) di Riau.

Saat memasuki kelas III MTs, ternyata ada sebuah pesantren yang akan dibuka. Dia lantas ditawari menimba ilmu di sana. Dia juga rela memulai kembali jenjang pendidikannya dari awal, yakni kelas I tsanawiyah.

SEUSAI NGAJI: Ustad Ariful Bahri (tengah) diajak foto bareng oleh para jamaah haji setelah pengajian di Masjid Nabawi.

Sejatinya, pesantren tersebut belum memiliki program khusus tahfiz (hafalan Alquran). Namun, berkat ketekunan dan keseriusannya, Arif mampu menghafal Alquran saat memasuki akhir masa pendidikannya di jenjang aliyah (setara SMA/sederajat) di pesantren itu pada 2006.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore