Ilustrasi rupiah melenah terhadap dollar Amerika Serikat. (Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com - Ekonom Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vandiantara menyebut, pelemahan nilai tukar uang terhadap dollar Amerika Serikat atau USD tidak hanya menimpa Indonesia. Kondisi serupa juga dirasakan negara-negara Asia.
Surya mengatakan, salah satu faktor yang mendorong terjadinya kondisi ini adalah keberhasilan Amerika Serikat dalam memenangkan perang opini terkait perang dengan Iran.
"Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan para investor dan pelaku bisnis memilih USD sebagai instrumen investasi dan alat tukar dibandingkan mata uang negara lainnya. Tentunya fenomena ini mampu meningkatkan permintaan terhadap USD secara signifikan. Tingginya tingkat permintaan terhadap USD inilah yang kemudian menyebabkan nilai USD melambung tinggi," kata Surya, Selasa (13/5).
Dia menilai, pelemahan Rupiah bila dibanding dengan negara lain masih relatif lebih baik. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan pelemahan Rupiah sekitar 3,65 persen sejak awal konflik AS-Iran.
Angka ini lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang turun 6,58 persen dan baht Thailand 5,04 persen. Rupee India melemah 4,32 persen dan peso Chile 4,24 persen. Sedangkan, Won Korea mencatat pelemahan 2,29 persen.
Melihat kondisi ini, Surya beranggapan bahwa pelemahan rupiah bukan karena faktor internal, melainkan eksternal. Terlebih tren investor dan pelaku bisnis dalam negeri menggunakan dollar sebagai instrumen investasi dan alat tukar. Hal itu pada akhirnya menekan jumlah permintaan Rupiah dan meningkatkan permintaan dollar AS.
"Di tengah pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang cenderung stabil dan positif, serta necara perdagangan terhadap Amerika Serikat yang tercatat surplus, semakin mempertegas bahwa pelemahan nilai mata uang rupiah bukanlah dikarenakan faktor internal, melaikan faktor eksternal," imbuhnya.
Terkait tujuh langkah BI meredam pelemahan Rupiah, dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik. Apabila permintaan terhadap Rupiah meningkat, maka Rupiah akan mampu bersaing dengan tingginya angka permintaan dollar AS.
"Tujuh langkah BI merupakan kebijakan strategis jangka pendek yang dikeluarkan guna memperkuat nilai tukar Rupiah di tengah kedigdayaan dollar AS. Namun, itu dibutuhkan komitmen dari para pelaku pasar, baik dari kalangan investor valuta asing maupun pelaku bisnis untuk selalu menggunakan Rupiah sebagai instrumen investasi dan alat tukar," pungkasnya.