Pegawai berada di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mengingatkan pemerintah terkait tekanan ekonomi eksternal yang dinilainya semakin kuat dalam beberapa pekan terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan Said usai menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah pakar ekonomi di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (11/2).
Said menyoroti sikap sejumlah lembaga keuangan internasional seperti MSCI, Goldman Sachs, Moody’s, dan FTSE yang cenderung menahan diri hingga Mei 2026 mendatang. Menurutnya, hal itu merupakan sinyal peringatan serius bagi perekonomian Indonesia.
“Jujur saja, kita diterpa badai, tekanan dari luar yang begitu dahsyat. Pembacaan ini tentu harus direspons dengan langkah mitigasi dari pemerintah. Seharusnya ini dipimpin langsung oleh Presiden kita,” kata Said ditemui di lokasi.
Ia juga mendesak Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) segera menggelar rapat koordinasi untuk merespons dinamika tersebut. Menurutnya, klaim sepihak mengenai fundamental ekonomi yang kuat atau proyeksi pertumbuhan di kisaran 5,4–5,6 persen tidak cukup untuk menenangkan pasar tanpa bukti konkret perbaikan tata kelola.
Said secara khusus menyoroti krisis kepercayaan (trust) investor akibat isu transparansi di pasar modal. Ia menyinggung komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kewajiban free float 15 persen yang dinilai belum terealisasi secara optimal, serta praktik coordinated trading behavior atau yang dikenal sebagai “goreng saham” yang masih membayangi bursa.
“Tanpa asing memvonis kita dengan istilah de-freeze atau rebalancing, kita sebenarnya bisa melakukan perbaikan itu sendiri. Yang diperlukan saat ini bukan sekadar menumbuhkan pasar modal, tetapi membangun kepercayaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Said mengingatkan bahwa pada Mei 2026 berpotensi menjadi periode krusial seiring berbagai evaluasi dari lembaga pemeringkat global.
Oleh karena itu, ia meminta Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan independensi Bank Indonesia (BI) dan OJK tetap terjaga agar kedua lembaga tersebut dapat berfungsi optimal dalam memitigasi dampak ekonomi, khususnya pada kuartal pertama dan kedua tahun ini.
“Kalau memang ini akan menjadi momentum bagi kita semua, maka momentum ini seharusnya dipimpin langsung oleh Presiden,” pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022