Ilustrasi uang Rupiah. (Pixabay)
JawaPos.com - Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 menyepakati bahwa pendapatan rata-rata warga negara menjadi Rp 7,6 juta per bulan pada tahun depan.
Hal ini sejalan dengan penetapan Gross National Income (GNI) per kapita sebesar USD 5.520 (asumsi kurs Rp 16.692 per dollar AS) atau setara Rp 92,1 juta per tahun atau Rp 7,6 juta per bulan.
"GNI per kapita USD 5.520," kata Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah dalam Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, dikutip Rabu (24/9).
Dalam sambutannya, Said juga menyebutkan bahwa APBN 2026 disepakati menjadi perangkat negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu, Banggar DPR bersama pemerintah sepakat menetapkan sejumlah target indikator kesejahteraan yang salah satunya adalah GNI.
Pihaknya memastikan, indikator tersebut ditetapkan sebagai ukuran kinerja bagi sukses tidaknya perlaksanaan pembangunan manusia. Tak hanya GNI per kapita, Banggar DPR RI dan pemerintah dalam APBN 2026 juga menetapkan tingkat pengangguran terbuka 4.44 sampai 4.96.
Kemudian, tingkat kemiskinan 6.5 sampai 7.5; Tingkat kemiskinan ekstrim 0 sampai 0.5; Indeks gini 0.377 sampai 0.380. Selanjutnya, indeks modal manusia 0.57; Indeks kesejahteraan petani 0.7731 dan penciptaan lapangan kerja formal 37.95. "Penurunan intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) 37.14; Indeks kualitas lingkungan hidup 76.67," jelasnya.
Tak hanya itu, melalui APBN 2026, Badan Anggaran bersama pemerintah menyepakati penambahan tiga indikator kesejahteraan. Antara lain indeks kesejahteraan petani yang merupakan penyempurnaan dari instrumen nilai tukar petani dan nilai tukar nelayan.
"Penciptaan lapangan kerja formal sebagai indikator mengukur proporsi angkatan kerja dengan yang bekerja secara berkualitas. Dan, GNI per kapita sebagai indikator pendapatan rata-rata warga. Keseluruhan indikator kesejahteraan diatas kita gunakan untuk melihat seberapa besar dampak kegiatan pembangunan," bebernya.
Lebih lanjut, Said menyampaikan setidaknya ada tiga keseimbangan penting dari keseluruhan indikator pembangunan di atas. Mulai dari program yang dijalankan pemerintah bisa menurunkan kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan sosial.
"Kedua, agenda pembangunan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai penyangga utama kekuatan bangsa, agar semakin sehat dan terdidik. Ketiga, kegiatan pembangunan harus berwawasan jangka panjang karena itu terjaganya kelestarian alam menjadi faktor fundamental sebab krisis isklim telah menyebabkan krisis pangan dan energi semakin nyata serta bencana katastrofik yang semakin intensif," pungkasnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
