
Presiden Direktur PertaLife Insurance Hanindio W. Hadi dalam seremoni 40 tahun PertaLife Insurance di Grha Pertamina, Rabu (2/7). (PertaLife Insurance untuk Jawa Pos)
JawaPos.com - Di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, PertaLife Insurance mampu mencatatkan kinerja positif. Capaian laba bersih mampu melampaui rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP). Didorong efektivitas strategi jangka panjang yang dijalankan secara disiplin sejak 2020.
Sepanjang 2024, laba bersih PertaLife Insurance sebanyak Rp 97,18 miliar. Melampaui target RKAP 2024 sebesar 15,16 persen. Capaian tersebut ditopang pendapatan premi bruto sebesar Rp 1,252 triliun.
Sepanjang 2024, premi bruto PertaLife Insurance Rp1,087 triliun. Mencerminkan pertumbuhan tahunan sebesar 38,73 persen. Didorong oleh strategi ekspansi produk dan penetrasi pasar yang optimal, khususnya melalui produk anuitas, endowment combined, dan whole life.
Selain itu, rasio biaya operasional dan pendapatan operasional (BOPO) juga mencapai titik efisiensi yakni 12,19 persen. "Setelah mengalami defisit selama 23 tahun sejak perusahaan berdiri, akhirnya perusahaan mencatatkan pemulihan saldo laba dengan pencapaian tertinggi sepanjang sejarah," ungkap Presiden Direktur PertaLife Insurance Hanindio W. Hadi dalam seremoni 40 tahun PertaLife Insurance di Grha Pertamina, Rabu (2/7).
Berdasarkan laporan keuangan Mei 2025, laba komprehensif PertaLife Insurance senilai Rp 37,92 miliar. Lebih tinggi dibanding Mei 2024 sebesar Rp 20,08 miliar. Meski, pendapatan premi bruto baru sebanyak Rp 383,26 miliar, sedikit lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 474,2 miliar.
"Target premi tahun ini sekitar Rp 1 triliun. Tidak sampai Rp 1,1 triliun," katanya.
Di sisi lain, pembayaran klaim dan manfaat terpantau lebih rendah dari tahun lalu. Hingga Mei 2025, tercatat sebesar Rp 202,47 miliar. Turun 21 persen year-on-year (YoY) dari Rp 256,421 miliar pada Mei 2024.
Hanindio menyatakan, mayoritas klaim merupakan asuransi kesehatan. Dia menemukan indikasi overtreatment pemberian obat dan layanan dari rumah sakit.
"Di situ, kami benar-benar mulai kontrol untuk pengeluaran klaim itu. Kami terapkan formularium obat. Terkait dengan layanan kesehatannya, kami coba negosiasi," ungkapnya.
Saat ditanyai soal rencana konsolidasi perusahaan asuransi milik negara oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Hanindio mengakui masih menunggu instruksi dari pemegang saham. Hingga saat ini, belum ada arahan terkait potensi keterlibatan perusahaan dalam konsolidasi tersebut.
Mengingat, PertaLife Insurance merupakan perusahaan asuransi jiwa yang sahamnya dimiliki oleh dua entitas badan usaha milik negara (BUMN). Yaitu PT Pertamina (Persero) dan PT Timah Tbk melalui anak usahanya. Dengan demikian, PertaLife Insurance menjadi bagian dari ekosistem BUMN.
"Saya tinggal ikuti instruksi dari atasan, kalau sekarang belum ada arahan, masih belum ada kajian dan segala macamnya. Sepanjang belum ada arahan, kita tetap business as usual saja," terangnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
