
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/2/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pada perdagangan Selasa (18/3), disebut sebagai akumulasi dari sentimen yang terjadi beberapa hari terakhir.
"Terutama sejak pengumuman APBNKita oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati," ucap Vice President Infovesta Wawan Hendrayana kepada JawaPos.com, Selasa.
Pada sesi I perdagangan hari ini, IHSG terkoreksi 395,87 poin atau 6,12 persen ke posisi 6.076,08. Sementara itu, indeks LQ45 tercatat turun 38,27 poin atau 5,25 persen ke posisi 691,08.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, pada Kamis (13/3) lalu, mengumumkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Februari 2025 mengalami defisit Rp 31,2 triliun. Angka ini setara dengan 0,13 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Kinerja APBN drop dibandingkan periode sama 2024 yang mencatatkan surplus Rp 22,8 triliun, atau 0,1 persen dari PDB.
Menkeu menyampaikan, hingga Februari 2025, pendapatan negara tercatat Rp 316,9 triliun. Sementara belanja negara sebesar Rp 348,1 triliun.
"Baik dari sisi pendapatan maupun pengeluaran mengalami defisit. Ini dipandang negatif untuk Indonesia ke depannya," kata Wawan.
Ditambah, data-data terakhir terkait pelemahan daya beli dan deflasi menambah sentimen negatif yang membuat IHSG terkoreksi cukup dalam. Sebagai informasi, di pengujung tahun lalu, Indonesia mengalami deflasi selama beberapa bulan berturut-turut.
"Meski demikian, secara historis ketika mendekati libur panjang di pekan depan biasanya ada aksi profit taking. Tapi tidak menutup bahwa memang sentimen pasar memang negatif yang kuat sekali yang memicu aksi jual, terutama dari investor asing. Karena minus 6 persen dalam sehari itu jarang terjadi. Terakhir saat masa pandemi Covid-19," terang Wawan.
Analisis Pasar Saham dari Koneksi Kapital, Alfred Nainggolan dalam rekaman JawaPos.com pernah menyatakan bahwa krisis ekonomi 2020 akibat Covid-19 berdampak negatif pada penurunan pada IHSG yang sepanjang Maret 2020 alami terkoreksi hingga 38 persen.
Pada 19 Maret 2020, BEI juga pernah membekukan sementara (trading halt) perdagangan, akibat kecemasan wabah Covid-19 yang membuat IHSG terkoreksi lebih dari 5 persen.
Pada krisis ekonomi 1997-1998, IHSG terkoreksi pada angka 72 persen dan dibutuhkan waktu selama 8 bulan dari posisi terendah penurunan yang terjadi Oktober 1998. Sementara pada krisis ekonomi 2008 dimana IHSG mengalami koreksi sebesar 60 persen membutuhkan waktu pemulihan selama 16 bulan dari level terendah IHSG.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
