
Ilustrasi orang yang menjalani slow living.
JawaPos.com - Slow living atau hidup lambat merupakan suatu istilah yang akrab di telinga masyarakat, dengan artian menjalani hidup sederhana tanpa perlu berlomba-lomba dengan pencapaian orang lain.
Dikutip dari laman Prudential, slow living ini menganut gaya hidup yang lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. Tapi setiap orang berpikir bahwa untuk menerapkan hal tersebut dibarengi dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Namun terlepas dari hal tersebut, dilansir dari laman Global English Editing pada (02/01) ada 7 kebiasaan yang perlu ditinggalkan agar hidup lebih tenang dan tidak mudah stres sehingga terciptanya slow living.
1. Komitmen berlebihan
Mengambil terlalu banyak, mengatakan ya untuk setiap permintaan, dan mengisi kalender kita sampai semuanya penuh. Kebiasaan ini adalah salah satu hambatan terbesar dalam menjalani slow living.
Seni slow living mendorong kita untuk mengevaluasi secara kritis tentang memprioritaskan komitmen kita yang benar-benar penting. Melepaskan komitmen berlebihan memungkinkan kita mengarahkan energi pada hal-hal yang benar-benar memperkaya hidup.
Mungkin sulit pada awalnya, tapi percayalah, ketenangan dan ketentraman itu tidak akan sia-sia. Bahkan kita menjadi lebih fokus pada satu komitmen yang dituju.
2. Menggunakan perangkat digital secara berlebihan
Ponsel selalu penuh notifikasi, email menumpuk, dan update media sosial sepertinya tidak pernah berakhir. Hal ini berdampak buruk pada kesehatan mental dan ini merupakab sesuatu harus diubah.
Jika kamu merasa kewalahan dengan dunia digital, mungkin inilah saatnya untuk menguranginya. Percayalah, pikiranmu akan berterima kasih karenanya.
3. Multitasking
Multitasking sepertinya merupakan cara yang bagus untuk menyelesaikan banyak hal sekaligus. Tapi pada kenyataannya, ini hanyalah ilusi kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak dirancang untuk menangani banyak tugas sekaligus.
Sebaliknya, ketika kita mengira sedang melakukan banyak tugas, sebenarnya hanya berpindah antar tugas dengan cepat, yang dapat mengurangi produktivitas sebanyak 40%.
Seni slow living mendorong kita untuk fokus pada satu tugas pada satu waktu, membenamkan diri sepenuhnya di dalamnya. Hal ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga memungkinkan kita menikmati proses dan menciptakan pekerjaan berkualitas tinggi.
4. Mengabaikan perawatan diri

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
