Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Agustus 2025 | 05.20 WIB

Citi Indonesia: Kredit Turun, Korporasi Beralih ke Obligasi

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi. - Image

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi.

JawaPos.com - Kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan. Pada Juli 2025 hanya tumbuh 7,03 persen Year-on-Year (YoY). Menurun dibandingkan dengan pertumbuhan di bulan sebelumnya sebesar 7,77 persen YoY.

Penyaluran kredit korporasi Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) juga merosot secara tahunan. Turun 13,36 persen menjadi Rp 27,67 triliun di kuartal II 2025. Mengingat, pada periode yang sama 2025, mampu menyalurkan kredit Rp 31,93 triliun.

"The biggest driver daripada penurunan itu karena ada loan yang tidak di-rollover (diperpanjang). Karena nasabah meluncurkan bond, nggak perlu lagi loan," ujar CEO Citi Indonesia Batara Sianturi.

Pelunasan kredit tanpa perpanjangan terjadi pada nasabah sektor pertambangan, manufaktur, hingga pertanian. "Jadi, is essentially one timer di sektor mining. Kita melihat juga positif update di sektor manufacturing dan juga di sektor agriculture," imbuhnya.

Meski demikian, Citi Indonesia mampu menurunkan rasio kredit macet alias non-performing loan (NPL) gross. Dari 3,39 persen menjadi 0,2 persen. Penurunan itu lantaran penghapusan kredit yang sudah provisi. Sehingga tidak ada imbasnya terhadap profit.

Dalam rapat dewan gubernur (RDG), Rabu (19/8), Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan, dari sisi penawaran, perilaku perbankan cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Tecermin dari standar penyaluran kredit (lending standard) yang meningkat. Perbankan lebih memilih menempatkan kelebihan likuiditas pada surat-surat berharga.

"Longgarnya likuiditas perbankan tersebut juga ditopang oleh pertumbuhan DPK (dana pihak ketiga) pada Juli 2025 yang meningkat menjadi 7 persen YoY seiring ekspansi keuangan pemerintah," katanya.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit lebih banyak ditopang oleh sektor-sektor yang berorientasi ekspor. Khususnya pertambangan dan perkebunan, serta sektor transportasi, industri, dan jasa sosial.

"Secara keseluruhan, perlambatan kredit mencerminkan permintaan dari pelaku usaha yang belum kuat dan cenderung menggunakan pembiayaan internal bagi usahanya," ungkap lulusan Iowa State University itu.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore