
PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) resmi mencatatkan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/8). (Istimewa)
JawaPos.com - PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), anak usaha PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), resmi mencatatkan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/8). Lewat aksi korporasi ini, perseroan berhasil meraup dana publik senilai Rp 404,6 miliar melalui penerbitan 1,037 miliar saham baru di bursa.
Sebagai emiten yang terafiliasi dengan Erajaya Group, ERAL memiliki ekosistem bisnis yang cukup luas. Ini menjadi salah satu penarik bagi investor terhadap saham ERAL yang dicatatkan di bursa. Minat investor selama masa penawaran umum mencatatkan kelebihan permintaan atau oversubscribed sebanyak 56,64 kali.
Perseroan telah menetapkan harga IPO saham ERAL pada Rp390 per saham dari kisaran awal antara Rp370 - Rp410 per saham. Dari dana yang diperoleh, sekitar 37 persen akan digunakan untuk ekspansi bisnis eksisting.
Kemudian sekitar 13,75 persen akan digunakan untuk untuk mendukung ekspansi bisnis baru. Selebihnya sebesar 49,25 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja Perseroan.
"Perseroan hadir untuk memanfaatkan potensi besar dari sektor ritel gaya hidup yang terus berkembang di Indonesia. Ditambah lagi kegiatan konsumsi merupakan penopang terbesar untuk pertumbuhan ekonomi nasional hingga saat ini," kata Direktur Utama PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) Djohan Sutanto.
Dalam aksi korporasi ini, ERAL dibantu oleh PT BNI Sekuritas dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Setelah IPO, komposisi pemegang saham ERAL menjadi PT Erajaya Swasembada Tbk 79,9998 persen, masyarakat 19,9764 persen, Employee Stock Allocation (ESA) 0,0236 persen, dan Jemmy Hady Wijaya 0,0002 persen.
Lebih lanjut, pihaknya berkomitmen untuk mengembangkan bisnis. Salah satunya dengan bermodalkan pengalaman di sektor ritel serta dukungan dari pemegang saham mayoritas.
"Kami terus mengembangkan bisnis dengan memaksimalkan bisnis perusahaan yang sudah berjalan serta menangkap peluang-peluang baru di masa mendatang," ujarnya.
Ke depan, perseroan akan terus mengembangkan bisnis di sektor ritel gaya hidup. Keyakinan ini didorong oleh pertumbuhan penduduk usia produktif (15-59 tahun) yang akan menjadi pendorong utama peningkatan pengeluaran konsumsi produk gaya hidup aktif di Indonesia.
“Permintaan produk gaya hidup aktif di Indonesia menunjukkan trajectory yang positif, mengingat dominasi penduduk usia produktif menjadi pendukung utama pertumbuhan PDB dan konsumsi di Indonesia,” pungkas Djohan Sutanto.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
