
Berselimut Kabut : Kawasan Candi Arjuna di Kasan Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara 28/6/2019. Fenomena turunnya kristal Es di kawasan dataran tinggi Dieng Kawasan dataran Tinggi Dieng menjadi daya tarik wisatawan untuk memburu moment tersebut di pagi ha
Di Bromo dan Dieng, kemarau superdingin tak hanya berarti derasnya kedatangan para "pemburu es". Namun, juga kesempatan untuk bermain-main dengan embun upas atau menunjukkan perhatian kepada binatang kesayangan.
NURUL KOMARIYAH, Probolinggo- TAUFIQURRAHMAN, Banjarnegara
---
WINTER IS COMING. Musim dingin tiba. Di serial Game of Thrones, itu berarti kesuraman yang menjelang.
Mulai cuaca yang berat hingga white walkers yang akan melintas.
Tapi, tidak selalu demikian di Dieng dan Bromo, dua dataran tinggi terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. "Winter" (baca: musim kemarau yang superdingin) juga bisa berarti keberkahan.
Hotel, losmen, dan homestay penuh. Warung-warung diserbu pembeli. Penjaja jaket, sarung tangan, dan topi hangat laku keras. Semua efek dari derasnya kedatangan para pemburu kristal es, fenomena alam yang hanya terjadi dalam "winter" seperti sekarang ini. Ketika temperatur bisa anjlok sampai mendekati titik beku 0 derajat Celsius.
Musim panas yang dingin seperti sekarang di Dieng dan Bromo juga bisa berarti terawatnya tradisi atau kebiasaan-kebiasaan kecil. Yang menyenangkan, yang menghangatkan. Yang sebagian di antaranya hanya muncul saat musim brrr...(maksudnya musim dingin, eh kemarau yang superdingin ding).
Jumat malam lalu (28/6) Jawa Pos turut merasakan kegembiraan bermain-main dengan cuaca itu. Di belakang rumah Slamet Mustajib, pemilik homestay yang kami tempati, di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, kami kembali mengadakan eksperimen kecil-kecilan setelah percobaan pertama sehari sebelumnya gagal.
Di belakang rumah tersebut terbentang padang rumput di kawasan Candi Arjuna. Kawasan tersebut terendah di seluruh Dieng. Posisinya seperti mangkuk yang dikelilingi bukit-bukit dan gunung. Menjadikannya tempat paling memungkinkan terbentuknya embun es.
"Jadi, ketika angin lembah bertiup, mereka terperangkap di sini. Udara dinginnya tetap di sini," kata Tuban Wiyoso, kepala Satklim Semarang, yang kami temui di tempat yang sama dalam kesempatan berbeda.
Di padang rumput itu, beberapa wadah kami isi air dan kami biarkan di udara terbuka semalaman. Ada gelas kecil dari gerabah dan beling. Lalu, piring juga dari gerabah. Di wadah-wadah itulah, di bawah gigitan suhu 7 derajat Celsius malam itu, kami berharap bisa mendapatkan kristal-kristal es esok paginya.
Beratus-ratus kilometer dari sana, di Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, musim superdingin seperti sekarang ini berarti waktunya buat Gitok untuk menyiapkan air jahe hangat. Untuk anak, istri, atau teman? Bukan, tapi buat Dominggo, si kuda kesayangan.
Photo
Embun es di Gunung Bromo (ZAINAL ARIFIN/JAWA POS)
Ampas jahenya kemudian bisa dibalurkan di pergelangan kaki kuda yang sudah 28 tahun dimilikinya tersebut. Selain itu, dia mengompres perut kaki kuda jenis Sandel Sumba itu dengan handuk atau sarung yang telah dibasahi air hangat agar Dominggo tidak kram.
Semua dilakukan tanpa menunggu si turangga terlihat kedinginan. "Pakai perasaan saja."
Kalau kita lagi kedinginan banget, lanjut dia, otomatis kuda merasakan hal yang sama. Meski, hewan yang dimiliki hampir semua warga setempat itu berdarah panas. "Tidur juga dialasi jerami tebal biar pulas," ungkap lelaki yang pernah menjuarai pacuan kuda pada 2008 itu.
Kalau kuda sudah mulai mbeler-mbeler, pilek, karena dihajar suhu dingin seperti saat ini, lain lagi penanganannya. Marbak, pemandu persewaan kuda, menggunakan ragi.
Bahan utama untuk fermentasi tape itu dihaluskan dan dicampur ke dalam 10 liter air minum kuda. "Jika punya 5 butir telur ayam kampung, bisa sekaligus dicampurkan ke dalamnya," kata pemilik Bagong, kuda berusia 5 tahun yang biasa diajak bekerja mengantar wisatawan itu.
Itu untuk kuda. Kalau untuk orangnya, di musim banyu upas -sebutan warga setempat untuk embun es- seperti sekarang, tak ada tempat yang menyenangkan selain meriung di sekitar pawon.
Pawon merupakan sejenis tungku perapian yang dibuat sendiri dari tatanan batu bata, pasir, dan semen. Biasanya ditempatkan di bagian dapur karena sekaligus difungsikan untuk memasak. Di Jetak, bisa dijumpai hampir di setiap rumah, terutama rumah lawasan.
Jumat sore lalu itu, Jawa Pos numpang meriung di pawon rumah Rudianto, sang kepala desa. Ada istri dan dua keponakannya yang tengah memasak dodol. "Selesai kerja atau dari ladang, kalau nggak ke mana-mana, ngumpul semua di depan pawon," kata Rudianto.
Yang paling sering diobrolkan biasanya soal ladang. "Apa yang ke depannya mau ditanam, biar terencana dari awal," lanjutnya.
Kebiasaan itu memang dilakukan warga Tengger, suku yang mendiami kawasan sekitar Bromo, tak hanya saat musim banyu upas. Tapi, intensitasnya lebih tinggi kala temperatur begitu rendah di destinasi wisata andalan Jawa Timur tersebut.
Selain pawon, warga Tengger memanfaatkan anglo untuk menghangatkan tubuh. Anglo merupakan wadah arang berbentuk lingkaran yang terbuat dari pelat besi. Sehingga lebih gampang diletakkan atau dipindah-pindah. Saat sore hingga malam dini hari, mereka sering meletakkan anglo di halaman depan rumah. Lantas, duduk mengelilingi anglo tersebut sambil mengobrol bersama teman maupun kerabat.
Apa pun medium penghangatnya, itu saat-saat yang sungguh menyenangkan. Sembari beristirahat, selonjoran, ngobrol. Sembari menikmati kopi, teh, atau wedang jahe untuk melawan cuaca dingin yang sampai bisa melahirkan kristal es.
Namun, tentu ada juga sisi tak menyenangkan dari "winter". Di Dieng, embun upas merusak sebagian besar tanaman kentang yang mereka miliki. Apalagi, tahun ini kedatangannya relatif lebih cepat. Jadilah sebagian petani terpaksa panen lebih dini untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.
Slamet Arjo (banyak sekali nama Slamet di Dieng) termasuk yang tidak mau mengambil risiko. Begitu musim kering datang, dia ganti semua tanaman kentangnya dengan wortel yang notabene lebih tahan terhadap cuaca dingin.
Itu bagian dari kearifan lokal warga setempat menghadapi "ritual" tahunan embun upas. Memang harga jual wortel lebih murah, yaitu Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram. Sedangkan kentang bisa mencapai Rp 11 ribu per kilogram. "Namun, lebih aman. Kalau rusak tidak terlalu rugi," jelas Slamet.
Sabtu pagi (29/6), dari homestay yang kami tempati, terdengar ayam berkokok dan azan Subuh berkumandang. Suhu di ponsel menunjukkan 6 derajat. Kami agak pesimistis eksperimen kecil-kecilan kami akan berhasil.
Sebab, cuaca tidak terasa terlalu dingin, Meski memang sore kemarin tak sempat turun kabut. Jadi, masih ada kemungkinan. Seperti dugaan, kawasan padang rumput Arjuna sudah ramai diserbu pengunjung. Es terbentuk, tapi tipis sekali. Sporadis. Hanya di titik-titik tertentu.
Saat kami mengambil gambar, Slamet Mustajib menelepon. Jackpot! Esnya jadi. Segera kami berlari menuju titik eksperimen.
Di sana Slamet dengan bangga memegang "piring es" dengan hiasan kartu ucapan "Selamat Datang di Dieng 24 Jam Dingin" yang bentuknya mirip gantungan kunci akrilik ukuran besar.
Dua bulatan es lain terbentuk dari gelas kecil. Slamet berpose dengan memegang kartu es miliknya. Ah, betapa senangnya. Winter is coming? Siapa takut!

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
