Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Agustus 2018 | 23.45 WIB

Hari - Hari Penuh Trauma Para Korban Gempa Lombok (2/Habis)

Seorang pria membawa kasur menunju pengungsian dari reruntuhan rumah Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, kemarin (22/8). - Image

Seorang pria membawa kasur menunju pengungsian dari reruntuhan rumah Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, kemarin (22/8).

Trauma berkepanjangan menghantui korban pascagempa. Terutama anak-anak. Tim trauma healing berupaya keras menyembuhkan luka psikologis mereka. Salah satunya dengan terapi bermain.


UMAR WIRAHADI, Mataram


---


TENDA berukuran 5 x 5 meter itu baru saja dipasang kemarin pagi. Beberapa saat kemudian, anak-anak mulai berdatangan. Lari-lari kecil diantar orang tua. Beberapa yang lain datang bersama teman sebaya.


Anak-anak itu, yang berasal dari lain desa, kecamatan, bahkan beda kabupaten, dipertemukan karena bencana gempa yang mengguncang Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka sama-sama pengungsi di kompleks RSUD Provinsi NTB.


Kini mereka seperti saudara. Atau tetangga dekat karena berlainan tenda pengungsian. "Halo, anak-anak yang hebat. Bagaimana kabarnya," kata seorang perempuan. "Kabar baikkkkk," jawab anak-anak ceria. "Mari masuk semua," ujar perempuan itu lagi.


Namanya Bunga Tiku Masakke. Dia adalah anggota tim trauma healing dari Play Therapy Indonesia (PTIndo). Bunga dan timnya datang langsung dari Jakarta pada Rabu pekan lalu (15/8). Tujuannya, membantu pemulihan psikis anak pascagempa.


Anak-anak tadi langsung meriung di dalam tenda. Membentuk formasi duduk melingkar. Celotehan ala anak-anak membuat suasana cair. Tidak ada jarak antarmereka. Seolah-olah anak-anak dan tim trauma healing sudah kenal lama. "Itu karena mereka sudah merasa diterima. Jadi, tidak ada beban," ujar perempuan 45 tahun tersebut.


Anak-anak yang berusia 7 hingga 12 tahun itu langsung larut dalam permainan yang dirancang tim PTIndo. Ada sekitar 11 anak. Ditangani lima tim trauma healing. Anak-anak langsung bermain riang gembira. Memang itu tujuannya: mengembalikan mental anak.


Mulai menirukan gerakan anggota tim hingga melakukan relaksasi. Salah satunya, mereka diminta berbaring. Lalu, sang psikolog membacakan sebuah kisah tentang suatu istana yang indah.


Di halamannya ditumbuhi aneka bunga. Anak-anak pun berimajinasi menjadi bagian dari penghuni istana itu. "Ini menimbulkan energi positif," tutur Fibrina Bian Rhapsodia, anggota tim trauma healing lainnya.


"Ini menanamkan rasa percaya diri pada anak," tambahnya.


Suasana makin riuh oleh lantunan lagu tentang gempa. Bunyinya:


Kalau ada gempa, lindungi kepala. Kalau ada gempa, sembunyi di kolong meja.


Kalau ada gempa, jauhi kaca. Kalau ada gempa, lari ke lapangan terbuka.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore