In this economy masih ada layanan taksi mewah, tapi harganya murah.
JawaPos.com - Cuaca Jakarta Selatan tepatnya di sekitar Semanggi pada Minggu (25/10) terasa begitu panas padahal jarum jam sudah menunjukan Pukul 16.15 WIB. Niat berjalan kaki menyeberangi JPO yang membentang di atas Tol Dalam Kota menuju kawasan SCBD begitu saja sirna. Aplikasi Bluebird di gawai pintar lebih menggoda untuk dibuka dibanding mengarahkan tangan kiri ke mulut untuk menenggak teh dingin di dalam cup berukuran medium.
Hasrat itu pun benar. Setelah aplikasi Bluebird dibuka hati mantap memesan Bluebird Prime, layanan baru yang resmi dirilis pada 16 Juli 2026. Cukup 5 kali mengetuk layar handphone, pemesan selesai. Ketukan pertama membuka aplikasi MyBluebird, kedua memilih menu Ride, ketiga mengisi alamat tujuan karena lokasi penjemputan sudah sesuai mengikuti GPS gawai, keempat mengetuk layanan Bluebird Prime dan kelima ketuk tombol 'Order Bluebird Prime'. Cukup menghabiskan waktu sekitar 15 detik proses pemesanan layanan selesai, anda bisa dapat taksi dengan armada Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid EV atau BYD E6 EV.
5 menit berselang, Innova Zenix berwarna biru muda terlihat dari kejauhan berbelok dari Jalan Gatot Subroto memasuki pelataran Lobi Gedung Veteran. Tampilan gagahnya melaju perlahan melewati jajaran taksi lain yang parkir di pinggiran, penampakannya bak seorang raja yang berjalan menuju singgasana melewati para menteri dan pelayanan.
Cahaya oranye senja dari balik awan tipis yang menyengat kulit mendadak tidak terasa setelah pintu taksi Bluebird dibuka. "Selamat sore bapak," ucap pengendara mobil menyambut JawaPos.com seraya merapatkan kedua tangan di dada diiringi senyum hangat.
Setelah kendaraan melaju beberapa saat, pria dengan rambut disisir ke samping itu diketahui bernama Candra Fauzi. Meski baru bekerja di Bluebird selama 1 tahun, dia nampak sudah lihai berinteraksi dengan pelanggan.
Perjalanan sore itu terasa begitu menyenangkan. Dalam beberapa detik saja sudah bisa disadari kenapa layanan ini diberi nama Bluebird Prime. Kondisi mobil nampak masih sangat baru, di bagian luarnya tidak terlihat ada peyokan maupun baret. Masuk ke bagian dalam kendaraan masih terlihat sangat bersih. Nampak seperti tidak ada debu di interior berwarna hitam. Ruang kaki di baris tengah sangat leluasa. Kebetulan saat itu kursi penumpang depan dimajukan, sehingga ketika kaki selonjoran pun masih menyisakan ruang cukup lebar bagi seseorang dengan tinggi 165 sentimeter.
Pendingin udara kendaraan terasa begitu menyejukan badan di tengah cuaca panas ibu kota. Sayangnya jarak tempuh perjalanan cuma 3 kilometer, hanya 7 menit bekendara sudah tiba di tujuan. Jalan Jenderal Sudirman yang dilalui sedang dalam kondisi ramai lancar. Andai saja waktu itu hari kerja, mungkin perjalanan bisa menjadi 30 menit atau lebih.
Dalam perjalanan singkat ini, Candra bercerita bahwa layanan Bluebird Prime disambut positif oleh masyarakat. Banyak pelanggan beralih ke layanan tersebut dari Bluebird reguler. "Cuma beda seribu (tarifnya). Konsumen tuh yang udah nyoba yang Prime nih, udah pindah ke Prime, malah jadi langganan," kata ayah 2 anak tersebut.
Ucapan Candra memang patut dipercaya. Untuk perjalanan dari Gedung Veteran menuju Polda Metro Jaya tarif Bluebird Prime Rp 40.000, terdiri dari Rp 35 ribu argo taksi dan sisanya biaya aplikasi. Sedangkan untuk layanan Bluebird reguler estimasi harga di aplikasi menunjukan Rp 29.000-35.000 artinya terdapat selisih hanya Rp 5.000 bila dihitung dari estimasi tertinggi untuk perjalanan sejauh 3 kilometer. Dengan kata lain selisih per kilometernya berkisar Rp 1.600.
Harga yang sangat murah untuk layanan mewah. Kini menaiki Innova Zenix tidak hanya untuk kalangan atas, masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah pun mampu membayarnya. In this economy kalau kata Gen Z, layanan seperti ini bisa membantu menjaga kewarasan tanpa harus menguras isi dompet.
Candra mengungkap bahwa menjadi pengendara Bluebird Prime harus melewati beberapa seleksi. Seperti tidak memiliki rekam jejak komplainan pelangganan, tidak terlibat kecelakaan lalu lintas. Setelah lolos kategori tersebut, pengemudi akan menjalani pelatihan, diakhiri dengan pembekalan pengetahuan sebelum mengaspal.
Mantan pegawai perusahaan BUMN ini merasa kerasan bekerja di Bluebird. "Karena kebebasan," ucapnya dengan suara lugas. Menjadi sopir Bluebird membuatnya lebih leluasa mengekspresikan diri. Bisa mengatur sendiri waktu untuk bekerja, istirahat, bahkan sekadar merokok.
Dia juga merasa tidak terlalu terbebani karena tidak ada minimal setoran yang harus diberikan kepada perusahaan. "Paling ya target kalau bisa mah Rp 1.200.000 per hari. Jadi kita pulang bawa duit, gitu," ucapnya dengan nada lembut.
Bila target tersebut terpenuhi, Candra mengaku bisa membawa pulang setidaknya Rp 200 ribu sebagai uang bersih. Pendapatannya bisa lebih banyak bila mendapat uang tips dari pelanggan. Menurutnya, untuk mendapat Rp 1,2 juta dalam sehari tidak terlalu sulit, terutama saat hari kerja.
Ditambah lagi biaya operasional mobil Innova Zenix lebih murah. Dalam kondisi jalanan macet, kendaraan akan menggunakan sumber tenaga baterai, tanpa menyedot BBM. "Kalau ini kan 1 liter banding 20 kilometer (konsumsi BBM-nya). Kalau yang lama (mobil reguler) 1 banding 10, jadi lebih irit," tukasnya.
Kenyamanan layanan Bluebird Prime ini diakui oleh Ratna Safira. Sebagai karyawan swasta di Jakarta, dia mengaku mendapat kepuasan tersendiri. Pasalnya layanan premium bisa dinikmati dengan harga yang relatif terjangkau.
"Nambah uang sedikit bisa dapat taksi mewah begini kan enak banget. Apalagi kalau lagi capek kerja bisa istirahat nyaman walaupun macet," ucapnya.
Perempuan berusia 27 tahun itu mengaku belum sering memakai layanan Bluebird Prime. Namun, sudah kerasan dan tidak kapok untuk memakai jasanya lagi.
"Kalau mau naik taksi lagi kayaknya mending ini aja deh," jelasnya.
Hal yang sama dirasakan oleh Diah Ayu, 32. Dia mengaku tidak ragu mengeluarkan uang lebih demi mendapat layanan Bluebird Prime. "Selisihnya kayaknya juga nggak gede. Jadi gak apa-apa mahalan dikit asal enak," ucapnya.
Secara armada juga terbilang masih cukup sering dijumpai secara offline, terutama di pusat keramaian Jakarta. Meskipun tidak dipungkuri belum sebanyak Bluebird reguler.
"Kalau lagi nggak buru-buru mah kita nunggu yang Prime aja, kecuali kalau kepepet mau nggak mau ambil Bluebird yang ada," imbuhnya.
Bluebird Dengarkan Pelanggan
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Andre Djokosoetono mengatakan, Bluebird Prime adalah inovasi layanan terbaru. Perusahaan berusaha mengakomodir permintaan pelanggan.
"Setiap pengembangan dan inovasi layanan Bluebird selalu diawali dengan mendengarkan pelanggan," kata dia.
Dalam menjalankan layanan baru ini, Bulebird tetap mengedepankan standar keamanan, keandalan, dan profesionalisme. Adapun target dari layanan ini tidak hanya menyasar kelas pekerja yang membutuhkan kenyamanan untuk perjalanan bisnis, tetapi masuk pula ke segmen keluarga.
Selama ini sering ditemukan kebutuhan keluarga berupa perjalanan untuk acara spesial. Bluebird Prime juga dipastikan tidak akan menjadi kanibal bagi layanan Bluebird Reguler maupun Silverbird yang berada di atasnya. Inovasi baru ini akan menjadi pelengkap pilihan masyarakat.
"Justru ini membuat fleksibilitas pilihan yang lebih bervariasi, melengkapi ekosistem layanan yang tadinya Bluebird langsung ke Silverbird. Justru ini ada di tengah-tengah untuk menghadirkan juga yang dari Bluebird mau ke lebih nyaman lagi atau mungkin belum memerlukan Silverbird karena lebih luas dan lebih jauh (harganya)," ucap Andre.
Bluebird setidaknya sudah mengoperasikan sekitar 750 kendaraan BYD E6 dan Innova Zenix untuk layanan Bluebird Prime. Armada ini tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Bali. Khusus Innova Zenix baru dioperasikan hanya di Jakarta dengan jumlah unit 300 kendaraan.
Pilihan Pelanggan Lebih Banyak
Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang menilai, Bluebird Prime menambah variasi layanan yang ditawarkan Bluebird. Tentunya bisa memberikan kenyamanan yang dicari pelanggan.
"Banyak pilihan bagi pelanggan taksi, ada Bluebird reguler, kemudian adayang Silverbird, terus yang tengahnya ini," kata Deddy kepada JawaPos.com.
Bluebird Prime dianggap menjadi alternatif solutif dalam memenuhi permintaan pelanggan. Sebab, kenyamanannya di atas layanan reguler tapi harganya tidak semahal Silverbird. Bluebird Prime juga bisa menjadi senjata terbaru perusahaan dalam pertarungan jasa taksi dengan kompetitor.
"Adanya prime itu kan nilai tambah. Mungkin sekarang kita sudah dimanjakan dengan taksi online yang banyak. Nah, sementara untuk masalah kualitas layanan, kan taksi online standar pelayanannya, drivernya itu tidak jelas, safety-nya bagaimana, security-nya bagaimana, enggak ada jaminan," imbuh Deddy.
Bluebird dianggap memiliki nilai tambah karena memiliki sistem yang lebih kuat dalam penyediaan jasa angkutan. Pengemudi yang dikerahkan juga menggunakan atribut jelas, sehingga tingkat keamanan dan kenyamanan bagi pelanggan lebih tinggi dibanding taksi online. Ketika terjadi persoalan, Bluebird pun memiliki sistem yang jelas dalam proses pertanggungjawaban.
"Itu salah satu peningkatan nilai kualitas dari Bluebird existing. Saya pikir akan tetap banyak peminatnya asalkan jangan mahal. Kalau untuk naik, Silverbird itu kan memang harganya akan mahal banget," tegasnya.
Atas dasar itu, Deddy berpendapat bahwa Bluebird Prime memiliki potensi besar untuk meraih kesuksesan. Kuncinya dikelola dengan baik, dan mempertahankan kualitas layanan demi kepuasan pelanggan.
Sejalan Dengan Program Pemprov DKI Jakarta
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaluddin mengatakan, layanan Bluebird Prime sejalan dengan program menekan emisi yang dijalankan pemerintah. Gubernur Pramono Anung dalam misinya menargetkan pada 2027 sebanyak 50 persen angkutan umum milik Pemprov sudah memakai kendaraan EV, target ini menjadi 100 persen pada 2030.
"Kami juga mendorong untuk para aplikator dan semua operator, ya memang kita menunjang juga dan peduli juga terkait masalah lingkungan dan emisi. Kita mendorong agar para perusahaan aplikasi dan operator bisa menggunakan EV," kata Budi.
Kendaraan rendah emisi memiliki banyak keunggulan. Selain membantu menekan polusi udara, bisa memberikan kenyamanan bagi warga yang menaikinya.
"Tentunya diharapkan ya masyarakat bisa lebih nyaman ya, lebih aman tentunya di dalam menggunakan transportasi di Jakarta. Saat ini kan kalau kita lihat kondisi kualitas udara kita kan masih cukup tinggi ya (polusinya)," tandasnya.
Pemprov DKI Jakarta memproyeksikan bisa melakukan efisiensi dengan semakin banyaknya kendaraan rendah emisi beroperasi. Dalam perhitungan sementara, efisiensi penggunaan BBM bahkan bisa mencapai 40-50 persen dari konsumsi harian saat ini.