
Anak-anak muda Surabaya mementaskan drama insiden perobekan bendera Belanda, di Hotel Majapahit Jalan Tunjungan, Minggu (21/9/2025). (Riana Setiawan/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Generasi Z memang tidak hidup di masa penjajahan. Mereka tak merasakan dentuman perang dan pengorbanan fisik, seperti yang dialami Kusno Wibowo dan Hariyono saat merayap diantara kerumunan perang dan merobek bendera Belanda di atap Hotel Yamato, Surabaya.
Di tengah gegap gempita dunia digital, Generasi Z lahir dan tumbuh di antara layar dan algoritma. Tak sedikit yang menyebutnya 'generasi tanpa sejarah'.
Namun, memberikan label untuk Gen Z sebagai generasi yang tak akrab sejarah dan tak mengenal kepahlawanan agaknya terlalu dini. Bagi mereka, dunia digital bukan sekadar ruang hiburan, melainkan ruang hidup.
Di sana lah generasi yang lahir di antara tahun 1997 hingga 2012 ini saling berbagi cerita, bertumbuh, dan menemukan perjuangan yang berbeda, yakni bertahan pada tekanan dan tantangan zaman yang lebih modern.
Di kota Surabaya, nadi kepahlawanan berdenyut sangat dekat. Setiap 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan, kota ini mengenang semangat arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 1945.
Makna Kepahlawanan bagi Generasi Z
Bagi Gen Z, kepahlawanan bukan lagi soal mengangkat senjata. Aprilia Devi (22 tahun), melihat perjuangan hadir dalam bentuk yang lebih sederhana dan personal.
"Tetapi banyak anak muda tetap semangat buat berkembang. Itu juga bentuk kepahlawanan," lanjut jurnalis muda asal Sidoarjo tersebut kepada JawaPos.com, Jumat (7/11).
Berjuang di masa yang beda, namun dengan semangat yang sama, begitu kata Aprilia. Baginya, peringatan Hari Pahlawan bukan cuma tentang mengenang perang atau ngelawan penjajah saja.
"Semangat juang kita yang nggak pernah padam. Buat Gen Z, semangat itu bisa keliatan dari cara kita terus berusaha, entah lewat belajar, kerja, atau ngejar mimpi di tengah situasi yang kadang nggak gampang," imbuhnya.
Senada dengan Aprilia, Anas Audah (15 tahun), pelajar SMA Muhammadiyah 10 Surabaya juga punya pandangan serupa. Ia sepakat bahwa Generasi Z tidak lahir di era penjajahan. Namun bukan berarti tak memiliki 'medan perang' sendiri.
"Hari Pahlawan itu bukan cuma tentang ngelawan penjajah. Bagaimana kita ngelawan rasa malas, berani ngomongin hal benar walaupun nggak populer," tutur remaja keturunan arab itu.
Agar Hari Pahlawan Lebih Seru Ala Gen Z
Berbeda dengan Aprilia dan Anas, bagi Isnaini Lu'lu' Atim Muthoharoh, 26 tahun, asisten dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya, ia melihat ada kecenderungan peringatan Hari Pahlawan di kalangan Gen Z hanya menjadi formalitas.
Banyak anak muda, dalam hal ini Gen Z mulai mengabaikan fakta historis dan menjadikan peringatan Hari Pahlawan hanya sekedar tuntutan dan ikut-ikutan, seperti halnya, upload story atau flayer sesuai dengan momentum hari.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bill Gates Puji AI Meta Milik Zuckerberg, Muse Dinilai Mampu Mengubah Cara Orang Bekerja
Perkuat Kerja Sama Intelijen Hadapi Ancaman Terorisme, Indonesia Pimpin CTIF Council
Prediksi Skor Persib Bandung vs Melbourne Victory: Maung Bandung Menang di Si Jalak Harupat
Prediksi Skor Parma vs Udinese: I Gialloblù Bidik Kemenangan demi Keluar Zona Degradasi
Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A: 6 Kekalahan Beruntun Jadi Ancaman Serius Tim Tamu
Sadisnya Dwi Bagus Mutilasi Istri Siri dan Anak di Madiun, Jasad Dibakar dan Digiling
Prediksi Skor RANS Nusantara FC vs Kendal Tornado FC, Duel Ketat Tim Papan Atas Championship
Prediksi Skor Adelaide United vs Lion City Sailors: Duel Perebutan Posisi Puncak Grup F ACL Two
Prediksi Susunan Pemain Liverpool vs Chelsea: Joao Pedro Absen, Siap Andalkan Danny Welbeck
Tatap dan Peluk Dwi Bagus, Tangis Istri Sah Pecah saat Olah TKP Kasus Pembunuhan di Rumahnya

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022