INOVASI: Rosario Riyan Putra Helisa (kanan), siswa SMAK YBPK 1 Surabaya, bersama rekan-rekannya dengan didampingi Kepala SMAK YBPK 1 Surabaya Djoko Tijasnindarto (kiri) memperlihatkan filter exhaust.
Lima siswa SMAK YBPK 1 Surabaya meraih medali emas dalam ajang National Applied Science Project Olympiad (NASPO) beberapa waktu lalu. Mereka menambahkan daun sono pada alat penyaring gas buang motor.
AZAMI RAMADHAN, Surabaya
TABUNG filter itu berukuran kecil. Panjangnya 20–30 sentimeter dengan diameter 5 sentimeter. Namun, alat buatan Rosario Riyan Putra Helisa, Gabriel Tiffany, Samuel Christofel Siwallete, Christian Rainhard Simatupang, dan Natania Dewi Ariel itu mampu mengurangi emisi gas buang pada kendaraan bermotor.
Alat penyaring itu dinamai filter exhaust. Sesuai dengan namanya, alat tersebut berfungsi mengurangi emisi pada kendaraan. Kuncinya ada pada bahan-bahan yang diletakkan di dalam filter.
Rosario dan teman-temannya meletakkan daun angsana atau sering disebut daun sono pada alat penyaring itu. Daun angsana tersebut akan menyerap gas polutan yang dikeluarkan motor, salah satunya karbon monoksida (CO).
”Ide ini muncul saat kami melihat perantingan pohon angsana di dekat sekolah,” ucapnya.
Daun-daun angsana itu, kata Rosario, lantas dikumpulkan. Berbekal pembahasan di forum karya ilmiah remaja (KIR) tentang kegunaan daun sono, mereka akhirnya memutuskan untuk memulai penelitian.
Hasil riset itu dituangkan dalam karya ilmiah berjudul Pengaruh Teknologi (Pterocarpus indicus) Filter Exhaust sebagai Absorben terhadap Kualitas Udara. Buah pemikiran itu juga dilengkapi dengan alat yang mereka buat, yaitu filter yang di dalamnya terdapat olahan daun angsana.
Inovasi lima siswa SMAK YBPK 1 Surabaya tersebut diikutkan dalam ajang National Applied Science Project Olympiad (NASPO). Dalam lomba yang dihelat Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bersama Departemen Aktuaria Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu, mereka menyabet medali emas.
Menurut Rosario, inovasi itu berguna bagi kendaraan yang usianya lebih dari 10 tahun. ”Kan ada wacana usia kendaraan ya. Nah, inovasi ini semoga bisa jadi harapan baru,” ucapnya.
Gabriel Tiffany menambahkan, komposisi campuran penyaring daun sono itu terdiri atas daun sono, kertas bekas, dan tepung kanji sebagai unsur perekat dua komponen tersebut.
’’Daun sono dicacah, juga kertas bekas, lalu diblender. Diperas dan dicampur kanji, itu merekatkan antar komponen,” papar Tiffany. Dari dua dahan angsana bisa dihasilkan empat helai penyaring atau filter exhaust.
Menurut Tiffany, pemilihan daun sono sebagai filter knalpot cukup efektif. Sebab, beberapa penelitian menyebut, pohon angsana memiliki daya serap polutan yang tinggi dan mampu mengurangi polusi udara hampir 70 persen, sisanya diserap oleh tumbuhan perdu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
