alexametrics

Kisah Sentot Suseno yang Rumahnya Ludes Sesaat setelah Pernikahan Anak

24 November 2020, 07:48:46 WIB

Kebahagiaan bisa berurutan dengan kesedihan. Itu pulalah yang dialami keluarga Sentot Suseno. Sesaat setelah mengadakan akad nikah untuk putrinya, rumah yang ditinggalinya sejak kecil menjadi arang. Akta nikah anaknya yang baru berumah tangga juga tak berbekas.

MUHAMMAD AZAMI RAMADHAN, Surabaya

SENTOT Suseno menjamu beberapa rekannya dari alumni SMP Negeri 8 Surabaya yang datang Sabtu (21/11). Mereka ingin menghibur Sentot yang baru saja mengalami musibah. Rumah pelaut itu ludes tepat pada hari bahagianya, yakni ketika mantu sang anak, Kartika Harsaktiningtyas.

Di pinggir Jalan Simolawang Gang 6 2E itulah mereka berkumpul dan berbincang. Mengingat kisah klasik semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama.

”Kami ini sudah seperti saudara. Kali prtama dengar kabar kebakaran itu, kami enggak percaya,” kata Haryoso, teman sekelas Sentot Suseno saat duduk di kelas 3B.

Haryoso menerima kabar tersebut melalui pesan berantai aplikasi WhatsApp.

Dia sempat mengira bahwa informasi itu hanya kabar bohong. Sebab, Sentot sedang mengadakan pesta pernikahan untuk putrinya.

Namun setelah menerima beberapa foto dan video di salah satu grup WhatsApp sekolah itu, pikiran Haryoso mulai berubah. ”Saya nyusul malam harinya. Sama teman-teman lainnya, ya menemani sampai malam,” ujarnya.

Dia bersama teman-teman lainnya juga datang pada malam berikutnya. Selain dukungan moral, bantuan materiil juga datang dari angkatan ’83 SMP Negeri 8 Surabaya yang tersebar di penjuru Indonesia. Simpati pun datang dari Jakarta, Cirebon, dan Mataram. Semata-mata memberikan dukungan atas musibah yang dihadapi teman sekelasnya itu.

Di sela-sela perbincangan tersebut, Sentot Suseno sesekali mengisahkan detik-detik api melalap rumah miliknya. Suaranya lirih dan terbata.

Sentot mengetahui kabar adanya asap dan api dari sang istri, Sunarsih. Saat itu, Sunarsih sedang menunaikan salat Duhur di musala rumah bagian belakang. Bau asap semakin kuat dan masuk melalui langit-langit. ”Kata istri saya, semakin lama itu panas dan asapnya pekat. Langsung berlari ke luar dan teriak minta tolong,” kenang Sentot.

Pria yang bekerja sebagai teknisi elektronik kapal tersebut langsung berlari ke dalam rumah. Seketika itu, dia menyadari bahwa rumah bagian belakang yang terletak di Jalan Simolawang Gang 2 pojok itulah yang kobong. Sentot menyuruh semua anggota keluarganya yang tengah beristirahat selepas acara akad nikah itu keluar dari rumah.

Semua orang dievakuasi. Terutama anggota keluarga perempuan dan anak-anak. Yang laki-laki, termasuk mempelai pria atau menantunya, Dani Saputro, bergegas memadamkan api dengan alat seadanya. Yang lainnya berusaha menghubungi petugas Pemadam Kebakaran (PMK) Surabaya.

Saat api sudah merambat ke langit-langit rumah, Sentot sama sekali tidak memikirkan seluruh barang berharga miliknya, bahkan berkas penting miliknya. Dia sebisanya mengevakuasi seluruh anggota keluarga. Termasuk saat itu, dia mencari anak angkatnya yang bernama Sesha yang tengah tertidur di kamar tengah. ”Alhamdulillah, rupanya sudah di luar. Yang saya pikirkan hanya itu. Anggota keluarga,” ungkapnya sembari menyeka air mata.

Dia juga merasa lega ketika petugas pemadam kebakaran datang. Dengan cepat dan tanggap, petugas Romy Sableng 112 langsung melakukan pemadaman dari dua sisi yang berbeda.

Ketika ditanya tentang kondisi rumah dan segala macam berkas penting, pria 53 tahun itu mengaku tidak ada yang terselamatkan. Semuanya ludes. Termasuk berkas-berkas penting. Bahkan, surat nikah yang belum genap sehari milik anak pertamanya juga hangus terbakar.

Peralatan kerja yang berkaitan dengan navigasi kapal, suku cadang gyro compass, dan suku cadang radar pun tak berbentuk. Namun, menurut dia, yang paling terasa kehilangan adalah rumah. Sebab, rumah tersebut merupakan rumah turun-temurun, bahkan ibarat menjadi saksi ketika dia tumbuh dewasa.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git




Close Ads