alexametrics

Kisah Julie Liong yang Dikaruniai Anak dengan Kondisi Gifted

Saat Belum Lancar Baca pun Bisa Cerita
21 November 2020, 15:27:22 WIB

Kerap dipanggil kepala sekolah karena Nico tak lancar baca-tulis, Julie kaget mendapati IQ sang anak di atas rata-rata. Di Indonesia diperkirakan ada 2,6 juta anak gifted yang salah penanganan.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta, Jawa Pos

Mami yakin sama institusi yang namanya sekolah?

Kita harus duduk dan dengerin guru, mami yakin kita harus belajar dari buku?

Mami yakin guru selalu benar?

Apa tidak sebaiknya kita belajar dengan eksplorasi deh…

KAGET benar Julie Liong mendapat rentetan pertanyaan itu dari sang buah hati, Nico Jeremiah Tjahjadi. Apalagi, ketika itu, putranya tersebut baru duduk di kelas II sekolah dasar (SD).

Nico adalah satu di antara sekian banyak anak Indonesia yang dikaruniai kecerdasan luar biasa. Bahasa umum yang sering digunakan adalah gifted. Di antara kehebatan Nico lainnya, dia dapat menyelesaikan susunan warna bricks dalam waktu sekitar 12 detik saja.

’’Sekarang Nico kelas VI SD,’’ katanya tentang sang putra yang kini berumur 11 tahun itu saat ditemui di Noble Academy, Jakarta, kemarin (20/11).

Julie menjelaskan kali pertama mengetahui ada sesuatu pada Nico ya saat dia di bangku kelas II SD itu. Saat itu Nico sekolah di sekolah umum. Bukan sekolah khusus anak-anak gifted seperti di Noble Academy.

Ketika duduk di bangku kelas II SD itu, Nico belum lancar membaca dan menulis. Bahkan, saat itu Julie sering dipanggil kepala sekolah.

Setahun bisa tiga kali dia dipanggil kepala sekolah. Pemanggilan itu berkaitan dengan perkembangan akademik si Nico.

’’Anak saya dinilai bermasalah. Saya juga bingung. Saya cuma bisa jawab, ya nanti saya usahakan,’’ kenangnya.

Dari pengamatan Julie, anaknya memang kurang menguasai baca dan tulis jika dibandingkan dengan anak-anak sebayanya. Tapi, Nico memiliki keterampilan yang bagus.

Di antaranya, kerap membuat mainan sendiri dari bahan kardus. Itu dia lakukan setiap kali minta mainan dan tidak dibelikan.

Masuk ke kelas III, bahkan sampai di kelas IV, tidak ada perkembangan yang signifikan pada kemampuan akademik Nico. Julie otomatis khawatir. Sebab, saban Minggu sang putra gusar, panik, atau cemas berlebihan. Seolah-olah dia takut harus kembali ke sekolah.

Julie berusaha menenangkannya. ’’Saya selalu bilang, Mami tidak menuntut apa-apa. Mami tidak menuntut nilai bagus,’’ katanya.

Tapi, tetap saja Nico terlihat cemas. Julie yang tinggal di Jakarta mengatakan bahwa anaknya tidak sampai mengalami perundungan di sekolah. Tapi memang kurang membaur dalam pergaulan.

Akhirnya dia mendapatkan informasi keberadaan Noble Academy. Dibawalah sang putra ke sana untuk menjalani tes. Dan betapa kagetnya Julie mendapatkan hasilnya.

’’(Hasil tes di Noble Academy, Red) anak ibu smart sekali,’’ kenangnya.

Untuk kali pertama itu ada pihak yang menyebut Nico sebagai anak yang cerdas atau smart. Julie lantas berkonsultasi dengan seorang psikolog.

Hasilnya kurang lebih sama. Dari seorang psikolog yang ada di Bandung, Nico dinyatakan genius gifted.

Jadi, bukan genius saja atau gifted saja. Tetapi dua-duanya. Oleh psikolog tersebut, Nico dianjurkan pindah ke sekolah yang khusus anak-anak gifted.

Pertengahan Januari lalu Nico menjalani tes IQ. Hasilnya, dia memiliki skor IQ 147 poin. Itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan rerata IQ anak seusianya di Indonesia. Menurut data brainstats.com, rata-rata IQ warga Indonesia adalah 87 poin.

Dengan tingkat IQ seperti itu, meskipun di kelas II SD tidak lancar baca dan tulis, Nico bisa menceritakan terjadinya hujan dengan detail. Bahkan, dia lancar menceritakan kenapa panda langka dan dilindungi.

Menginjak kelas V SD, Nico dimasukkan ke Noble Academy. Tapi sebatas ikut ekstrakurikuler STEM (science, technology, engineering, and mathematic) dahulu. Jadi, Senin sampai Jumat Nico sekolah di sekolahan umum dan setiap Sabtu dia ikut di Noble Academy.

Julie mengikuti keseharian Nico saat itu. Dia lega karena anaknya mulai bisa tersenyum, tertawa lepas, dan tampak gembira.

’’Nico sudah seperti anak-anak biasanya,’’ ujarnya.

Sampai suatu saat dia tanya ke Nico apakah betah berada di Noble Academy. Nico mengiyakan. Sebagai orang tua, dia ingin melihat putra sulungnya itu menjalani hari-hari yang bahagia.

Kepada orang tua lain yang mungkin anaknya bermasalah dalam mengikuti pelajaran atau sejenisnya, Julie berpesan jangan putus asa dahulu. Jangan patah semangat. ’’Coba dicek lagi (kondisi anaknya, Red),’’ tuturnya. Sebab, bisa jadi sistem belajarnya yang kurang cocok dengan si anak.

Manager Marketing Noble Academy Denny Dinar menyatakan, di tempatnya ada lebih dari 20 anak-anak seperti Nico dengan beragam jenjang pendidikan. Dia menegaskan, dari sisi inteligensi, anak-anak gifted berada di atas rata-rata anak sebayanya. Tetapi, aspek emosionalnya masih standar anak-anak seusia mereka.

Di sekolah umum, anak-anak gifted biasanya kurang berprestasi. Bahkan dikucilkan dan kemudian menjadi malas belajar.

Kondisi itulah yang menginisiasi berdirinya Noble Academy sekitar dua tahun lalu. Pada momen Hari Anak Sedunia atau World Children’s Day yang diperingati setiap 20 November, Denny mengatakan bahwa lembaganya sengaja mengangkat fenomena anak-anak gifted untuk edukasi ke publik.

Dia mengakui banyak yang salah sangka terhadap anak-anak gifted. ’’Gifted dicap anak berkebutuhan khusus,’’ katanya.

Dia menegaskan, anak-anak gifted berbeda dengan anak berkebutuhan khusus atau bahkan anak yang harus sekolah di SLB. Sebaliknya, anak-anak gifted adalah anak-anak yang memiliki IQ di atas rata-rata anak seusianya.

Psikolog dari Universitas Surabaya (Ubaya) Evy Tjahjono yang ikut bergabung secara virtual mengatakan, secara intelektual, anak-anak gifted mau ikut bersama teman-teman sebayanya. ’’Namun, ternyata nggak nyambung, nggak cocok. Tetapi, secara sosial dia berada di kelompok itu,’’ tuturnya.

Evy menjelaskan, anak-anak gifted memiliki ketidaksejajaran antara kemampuan mental dan emosional. Kondisi itulah yang kerap membuat anak-anak gifted frustrasi dengan kehidupan. Mereka bisa memikirkan hal-hal jauh ke depan. Namun, secara emosional, mereka belum mampu memahami hal itu.

’’Sungguh ini suatu kelebihan, bukan kekurangan,’’ katanya.

Diperkirakan 67 persen anak-anak gifted di dunia mengalami underachievement atau tidak ditangani dengan baik. Sementara itu, di Indonesia diperkirakan ada 2,6 juta anak gifted yang salah penanganan. Sampai saat ini belum banyak sekolah yang bisa menampung anak-anak gifted dengan layanan pendidikan yang tepat.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c19/ttg



Close Ads