alexametrics

Kalau Dapat Rp 26 M, Aku Sudah Ikut Pilkada

Joshua Hutagalung dan Meteorit Rp 26 M
20 November 2020, 17:18:07 WIB

Meteorit yang menghantam atap seng kediaman Joshua Hutagalung tergolong langka dan mahal. Dari hasil penjualan, dia menyumbang gereja, membagi-bagikannya ke saudara, dan memperbaiki dapur rumah.

ROMMY P., Tapanuli Tengah, Jawa Pos

PRIA yang pekerjaan sehari-harinya membuat peti mati itu siap maju dalam pemilihan umum kepala daerah (pilkada). Tapi, dengan syarat: batu meteorit miliknya laku Rp 26 miliar.

’’Kalau terjual Rp 26 miliar, aku kasih sama abang Rp 20 miliar, Rp 6 miliarnya sama aku,’’ canda Joshua Hutagalung, si pembuat peti mati, lantas tergelak.

Meteorit yang menjatuhi atap seng di tepi rumah Joshua di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, itu sebenarnya sudah dia jual ke Jared Collins, seorang pakar meteorit dari Amerika Serikat (AS), pada 17 Agustus lalu. Harganya Rp 200 juta.

Tapi, media Inggris Daily Mail, mengutip media senegara The Sun yang mewawancarai Collins, menyebut harga batu itu 1,4 juta pound sterling (sekitar Rp 26,3 miliar). Joshua pun, sebut media berhaluan kanan itu, kaya raya mendadak.

Ini yang bikin Joshua bingung. ’’Kalau dapat Rp 26 miliar, aku sudah ikut jadi calon kepala daerah,’’ gurau warga Desa Satahi Nauli, Kecamatan Kolang, itu kepada Sumut Pos pada Rabu lalu (18/11).

Meteorit tersebut menghantam rumah Joshua pada 1 Agustus lalu. Tak ada korban jiwa atau luka. Ayah dua anak tersebut ketika itu bekerja membuat peti di samping rumah.

Benda dari langit yang berat totalnya diperkirakan 2,5 kilogram itu pun ambles ke dalam tanah di samping rumah Joshua sedalam 15 cm. Menurut Daily Mail, meteorit di rumah Joshua itu diperkirakan berumur 4,5 juta tahun dan diklasifikasikan sebagai CM1/2 Carbonaceous chondrite. Menurut Lunar and Planetary Institute di Texas, AS, jenis tersebut sangat langka. Dan, karena itu sangat mahal.

Collins melego kembali meteorit seberat 2,1 kilogram itu. Pembelinya Jay Piatek, seorang dokter dan kolektor meteorit dari Indianapolis. Tak disebutkan harga jual dari Collins ke Piatek.

Joshua mengenang, bunyi jatuhnya batu tersebut sangat keras dan sampai membuat rumahnya terguncang. Selain rumahnya, setahu pria 34 tahun itu, ada tiga titik lain lokasi jatuhnya meteorit. Salah satunya di persawahan sekitar 3 kilometer dari kediaman Joshua.

Awalnya Joshua tidak tahu itu adalah meteorit. Dia menggalinya. Saat kali pertama dia angkat dengan tangan, meteorit itu hangat dan sebagian kecil bagiannya protol.

Joshua juga memberikan beberapa pecahan batu kepada sejumlah warga yang datang ke rumah untuk melihat meteorit itu. Ada yang memintanya untuk dijadikan batu cincin ataupun hanya koleksi.

Yang menawar juga banyak. Sampai akhirnya meteorit itu jatuh ke tangan Collins. Dalam wawancaranya dengan The Sun seperti dikutip Daily Mail, begitu mendengar berita soal meteorit tersebut, Collins mengaku langsung memutuskan pergi ke Indonesia. Padahal, bepergian jauh di kala pandemi Covid-19 sangatlah berisiko.

’’Saya bawa uang sebanyak yang bisa saya bawa,’’ katanya.

Uang itulah yang kemudian diserahkan kepada Joshua untuk membeli meteorit yang diberi nama Kolang, sesuai dengan nama desa tempat benda tersebut jatuh.

Joshua menggunakan hasil penjualan batu senilai Rp 200 juta itu untuk kegiatan amal. ’’Saya bagikan sebagian ke dua dusun. Kemudian ke gereja sebagai ucapan syukur, lalu untuk anak yatim,’’ katanya.

Dia juga membagikannya ke saudara-saudara. ’’Sisanya untuk renovasi dapur rumah peninggalan orang tua saya. Niat kita memang sedekah, daripada nggak laku,’’ katanya.

Sebenarnya Joshua kecewa. Sebab, Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) tak menunjukkan minat terhadap meteorit tersebut.

’’Padahal kan saya cukup lama simpan batunya. Takutnya dicuri orang pulak. Daripada begitu, saya kasih jual saja,’’ ujarnya.

Kini meteorit itu telah pergi jauh. Tapi, bukan berarti tak ada yang tersisa di rumah Joshua. ’’Saya simpan sisa 5 gram untuk kenang-kenangan,’’ katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */mag-8/c19/ttg



Close Ads