
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung Nusantara II Senayan, Jakarta, Rabu (30/8/2023).
Mulai fogging, kampanye pengendalian jentik, hingga pengerahan kader sampai dusun-dusun sudah dilakukan. Kini, cara baru dijajal untuk menekan demam berdarah dengue: melawan dengan bakteri.
FERLYNDA PUTRI, Jakarta
---
SOMASI itu ditujukan kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Ditandatangani lebih dari 100 orang dari beberapa organisasi. Intinya, meminta penghentian sementara penyebaran nyamuk Wolbachia. Mereka khawatir akan terjadi wabah.
Namun, Budi menilai langkah pemerintah sudah tepat. Nyamuk dengan bakteri Wolbachia di dalamnya sudah dilakukan penelitian ilmiah yang bermula di Jogjakarta 10 tahun silam. ’’WHO menerimanya sebagai salah satu metode mengurangi dengue,’’ tuturnya, Sabtu (23/12).
Kemenkes mencatat, sejak Januari hingga November tahun ini, ada 76.449 kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan 571 kematian. Padahal, pemerintah menargetkan pada 2030 dapat mengeliminasi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk itu. Nah, menyebarkan nyamuk Wolbachia diharapkan bisa menekan DBD.
Lima kota dicoba menjadi lokasi penyebaran nyamuk Wolbachia. Yakni, Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang.
Di Kupang, misalnya, penyebaran dilakukan sejak akhir Oktober.
Kemenkes menyebar ember berisi telur nyamuk yang sudah terdapat bakteri Wolbachia. ’’Kami melihat Wolbachia bagus. Makanya kami lakukan pilot project, dan Kupang salah satunya,’’ tutur Budi saat menghadiri pelaksanaan pilot project di Kupang.
PENELITIAN ILMIAH: Sosialisasi implementasi Wolbachtia untuk mencegah DBD di Semarang.
Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, menjadi percontohan. Di sana, angka DBD yang banyak dengan kesakitan tertinggi. Apalagi, Kecamatan Oebobo termasuk berpenduduk padat.
Telur nyamuk yang dibagikan kepada warga akan menetas setelah dua minggu. Bukan hanya itu, warga juga diberi pakan nyamuknya. Mirip ternak. Kecamatan itu butuh 700 ribu telur setiap minggu. Pengamatan terus dilakukan hingga kini.
Diharapkan, dalam setahun, populasi nyamuk dengan Wolbachia sampai 80 persen dari populasi nyamuk Aedes aegypti yang merupakan inang pembawa dengue. ’’Mudah-mudahan dengan pilot project ini, penularan dengue yang lumayan banyak bisa menurun,’’ harap Budi.
Peneliti nyamuk Wolbachia dari Universitas Gadjah Mada Adi Utarini menuturkan, sejak 2016, hasil penyebaran nyamuk Wolbachia di Jogjakarta sudah berjalan efektif. Dengan nyamuk Wolbachia dalam populasi nyamuk di Jogjakarta, kasus DBD sudah turun 77 persen. Bahkan, tercatat perawatan untuk kasus DBD juga turun hingga 86 persen. ’’Angka kejadian DBD saat ini terendah sejak 30 tahun lalu,’’ ungkapnya dalam kesempatan terpisah.
Hasil itu menjadi legasi keberhasilan nyamuk Wolbachia dalam menekan dengue. Peneliti pun melapor ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). ’’Rekomendasi ke WHO untuk vector control advisory group (VCAG),’’ terang perempuan yang akrab disapa Uut itu.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
