PENGABDIAN: Yayuk menyosialisasikan layanan PPA di Balai RW 1 Manyar Sabrangan beberapa waktu lalu.
Sebagai kader PKBM dan satgas PPA, Yayuk Jumiatin harus siaga 24 jam. Tak jarang, dia memakai uang pribadinya untuk membantu korban. Kasus paling sulit adalah menangani kekerasan pada anak.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
SEJAK 2016, Yayuk Jumiatin didapuk menjadi satgas perlindungan perempuan dan anak (PPA). Berselang tiga tahun, pada 2019, dia juga dilantik sebagai kader Pusat Krisis Berbasis Masyarakat (PKBM). Dua peran itu membuatnya tak bisa lepas dari persoalan sosial.
Misalnya, Kamis (9/11) lalu Yayuk memberikan penjelasan kepada Asih. Asih bingung karena cucunya yang sudah masuk usia sekolah tidak bisa mengenyam pendidikan. Sebab, akta lahir cucunya dibawa sang ibu.
Anak Asih dan istrinya telah bercerai. Ketika berpisah, dokumen anak dibawa ibunya. Saat anak Asih hendak mengambil berkas itu, mantan istrinya marah-marah. ”Sementara laporan ini akan kami tampung untuk nanti ditindaklanjuti. Kami minta Ibu Asih berdoa agar hal ini bisa selesai,” ujar Yayuk.
Kader PPA dan PKBM bertugas menangani masalah sosial. Keduanya berada di bawah naungan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya. Yang membedakan, lingkup kerja PPA hanya pada perempuan dan anak.
”Paling banyak soal KDRT. Namun, akhir-akhir ini banyak juga masalah ekonomi dan pendidikan. Seperti laporan soal putus sekolah,” paparnya.
Sebagai kader, Yayuk harus bisa memberikan solusi atas persoalan yang dialami warga. Tak jarang, dia harus merogoh uang pribadinya untuk membantu orang yang mendapatkan masalah. Misalnya, saat menolong ibu dan anak yang diusir keluarga suaminya.
”Sudah diajukan rusun, tapi kan perlu waktu. Akhirnya, saya bersama yang lain (lurah, babinsa, bhabinkamtibmas, dan lainnya) patungan mencarikan hotel. Ternyata untuk mendapatkan rusun harus antre. Akhirnya, kami carikan kos-kosan,” terangnya.
Yayuk harus selalu siap dihubungi bahkan saat malam sekalipun. Sebagai kader, mentalnya sudah teruji. Sebab, dia menghadapi orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Termasuk yang psikisnya tidak stabil.
”Seperti Mei 2023 kemarin, kami berhasil mengevakuasi anak yang mendapat kekerasan dari orang tuanya sendiri. Bahkan, mengarah ke seksual juga karena sampai kecanduan memegang alat vital pria,” ucapnya.
Menurut Yayuk, itu adalah kasus terberat yang pernah dia tangani. Korbannya, sebut saja Pelangi, masih berusia 9 tahun. Dari laporan awal, Pelangi sering mendapatkan hukuman dari orang tuanya. Tetangga kiri kanan resah karena dia mengalami kekerasan fisik dan verbal.
”Sampai rambutnya dipotong pitak sama orang tuanya. Lengan disundut rokok. Alasan orang tuanya, cara itu agar Pelangi mengerti atas kesalahannya. Usut punya usut, dulu si ibu mendapat perlakuan yang sama dari orang tuanya,” paparnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
