GOTONG BOTOL PLASTIK: Petugas Bank Sampah Induk Surabaya membawa sampah plastik kiriman dari berbagai wilayah. Terutama yang masih memiliki nilai ekonomis.
Sejak beroperasi pada 1 September lalu, setiap hari Bank Sampah Induk Surabaya menampung sampah kiriman dari berbagai wilayah. Selain menampung sampah yang masih bernilai, tempat itu juga berfungsi memfilter sampah yang hendak masuk ke TPA Benowo.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
GELIAT aktivitas di Bank Sampah Induk Surabaya dimulai sejak pagi. Beberapa pekerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya tampak mendorong troli berisi berkarung-karung sampah.
Jenisnya beragam. Mulai sampah plastik hingga logam. Beberapa petugas lainnya melempar botol-botol sambil jalan ke arah bilik-bilik sampah.
Itu merupakan bagian dari proses pemilahan barang-barang bekas yang tiba di Bank Sampah Induk Surabaya.
Sejak diresmikan 1 September lalu, bank sampah di kompleks kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya tersebut menerima berkarung-karung barang bekas kiriman bank sampah dari seluruh wilayah metropolis. Bank sampah induk itu punya fungsi besar.
Bukan sekadar pusat pengumpulan sampah yang bernilai. Namun, juga sebagai sistem filter meminimalkan sampah terbuang. Dengan demikian, sampah yang dikirim ke Tempat Penampungan Akhir (TPA) Benowo hanya sampah akhir yang sudah nol nilai ekonomisnya.
”Total ada 162 bank sampah aktif yang mengirim ke sini. Kapasitas maksimal bank sampah ini mampu mengelola 70–80 ton sampah setiap bulannya,” ujar Ketua Pengelola Bank Sampah Induk Surabaya Anjar Putro Wijiasmoro.
Menurut dia, bank sampah induk itu menjadi salah satu yang terbesar dibandingkan daerah lain. Indikatornya dari macam barang yang diterima. Ada 55 kategori barang yang ditampung di pusat pengelolaan sampah tersebut.
”Sampah yang dikirim di sini sudah dipilah. Kami komunikasikan dan sosialisasikan jenis dan harganya,’’ jelasnya.
Jenis sampah yang diterima itu mulai dari bahan plastik, logam dan besi, bahkan karak. Ya, nasi sisa yang dijemur kering tersebut bisa disetor ke bank sampah induk. Begitu juga sandal dan sepatu yang sudah tak terpakai atau kondisinya rusak. ”
Karak kami kumpulkan untuk dijual ke peternak unggas. Belum genap sebulan sudah ada 450 kilogram yang terkumpul. Per kilogram dihargai Rp 2.000,” jelas Anjar.
Sementara itu, sandal dan sepatu dikumpulkan, kemudian diperbaiki. Setelah proses reparasi tuntas, sandal dan sepatu tersebut akan dijual lagi.
”Barang lainnya akan di-packing (dipres, Red). Kemudian, disalurkan ke mitra daur ulang sesuai jenis bahannya,” jelas Anjar.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Ekuador vs Jerman di Piala Dunia 2026: Der Panzer Kejar Rekor Sempurna di Fase Grup
