WAKIL DARI GRESIK: Irfan Akbar (kiri) bersama para pemenang lomba film Kemenparekraf berfoto dengan Raline Shah saat menghadiri Festival Film Cannes, Prancis, beberapa waktu lalu.
Kisah Ultras Gresik yang diangkat menjadi film dokumenter membuka kesuksesan Gresik Movie. Komunitas itu terus berkarya membuat film-film pendek yang mengangkat tema seputar Kota Pudak. Mei lalu, mereka diundang untuk mengikuti Festival Film Cannes, Prancis.
GALIH WICAKSONO, Gresik
LEWAT film berjudul Gumintang, Mei lalu Irfan Akbar Prawiro, sutradara film itu sekaligus salah satu pendiri Gresik Movie, menapakkan kakinya di Kota Cannes, Prancis. Mereka mendapat kesempatan untuk berpartisipasi di ajang Festival Film Cannes.
Di kota yang berjarak 11.806 km dari Gresik tersebut, Irfan kembali mengenang perjuangannya 11 tahun silam. Saat itu, dia dengan beberapa rekannya mendirikan Gresik Movie. Sebuah wadah bagi para sineas asal Kota Pudak untuk berkumpul sembari membuat berkarya.
Proyek pertama Gresik Movie adalah film dokumenter tentang perjalanan Ultras Gresik. Mereka mendokumentasikan kisah suporter tim pendukung Gresik United. Delapan orang mengerjakan film tersebut.
”Setelah film rampung, kami berkeliling mengenalkannya ke kampung-kampung,” ucap Irfan.
Film Ultras Gresik menjadi pembuka pintu bagi karya lainnya. Salah satunya Gumintang. Itu adalah film ke-32 garapan Gresik Movie. Film pendek tersebut sukses menyabet penghargaan Ide Cerita Terbaik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Durasi Gumintang hanya 12 menit. Ide ceritanya sederhana, namun unik. Film itu berkisah tentang seorang anak yang mendapatkan tugas sekolah untuk mencari bentuk bintang.
Sayangnya, ketika berkali-kali mengamati langit, dia kesulitan melihat bintang. Film itu dibuat sebagai bentuk kepedulian Gresik Movie pada lingkungan Gresik. Bintang yang tidak terlihat tersebut menunjukkan polusi udara.
Nah, untuk menjaga kualitas udara, warga dan pemerintah harus saling membantu. Selepas menjadi pemenang di event Kemenparekraf, Gumintang semakin dikenal. Puncaknya, mereka diundang untuk mengikuti Festival Film Cannes.
Irfan tak mengira putaran roda nasib membawanya ke Prancis. ”Festival Film Cannes adalah salah satu festival paling penting di dunia. Sebagai seorang pembuat film pendek yang berkegiatan di komunitas, saya takut bermimpi bisa pergi ke sana. Demikian minder dan merasa masih jauh sekali untuk berada di kota tersebut walau sekadar datang menonton film,” kata Irfan.
Selama 10 hari Irfan berada di Cannes. Pria 30 tahun itu mendapatkan pengalaman berharga. Selepas dari Cannes, Irfan berencana membuat kegiatan serupa di Gresik. ”Saya ingin membuat Festival Film Gresik,” paparnya.
Jumlah anggota Gresik Movie terus bertambah. Saat ini mencapai 35 orang. Dari karya Gresik Movie, nama Kabupaten Gresik kini dikenal dunia.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
