
MENELITI: Mashuri saat meriset cerpen di ruang redaksi Jawa Pos Graha Pena Surabaya. Jauza Alayya yang membahas pemberitaan terorisme di tesisnya dan Pulung Ciptoaji.
Di 74 tahun usianya hari ini, telah banyak mahasiswa, akademisi, dan peneliti yang meriset Jawa Pos dan berbuah karya ilmiah atau buku.
M. HILMI SETIAWAN, Jakarta
---
DALAM kurun 2010–2020, kasus terorisme terbanyak terjadi pada 2018. Dengan kejadian paling menonjol serangkaian pengeboman di sejumlah tempat di Surabaya dan Sidoarjo, dua kota bertetangga di Jawa Timur yang sebelumnya dikenal steril dari aksi serupa.
Jauza Alayya, mahasiswi program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, pun terdorong untuk meneliti fenomena itu dari perspektif media. Dia menggali pemberitaan kasus terorisme pada 2018, khususnya berita terorisme yang dimuat koran Jawa Pos, untuk tesis yang tengah dia garap yang diberi tajuk: Menelusuri Wacana Terorisme di Media Massa (Analisis Wacana Kritis pada Pemberitaan Peristiwa Terorisme Tahun 2018 di Surat Kabar Jawa Pos).
Penelitian itu dia angkat untuk mencari tahu arah pemberitaan terorisme yang dimuat koran dengan oplah besar di Indonesia tersebut.
’’Media itu bisa melakukan kontra terorisme atau sebaliknya, glorifikasi atau amplifikasi terorisme,’’ katanya saat berbincang dengan Jawa Pos pada Selasa (20/6).
Ayya, sapaan akrab mahasiswi asal Sumatera Selatan itu, adalah satu dari berderet panjang mahasiswa, akademisi, dan peneliti yang menjadikan Jawa Pos yang hari ini berulang tahun ke-74 sebagai target atau sumber penelitian. Buah penelitian itu kemudian dituangkan menjadi karya ilmiah berupa skripsi, tesis, atau disertasi. Juga, bermuara menjadi buku dan anggitan di jurnal.
Kalau Ayya meneliti pemberitaan terorisme, Mashuri, kala itu masih staf peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur, misalnya, meriset cerpen Jawa Pos. Pulung Ciptoaji, pegiat media, semasa menyelesaikan sarjana strata-1 di jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga meneliti rubrik Wayang Opo Maneh.
Alasan Ayya memilih Jawa Pos didasari dengan sejumlah pertimbangan. Salah satunya, Jawa Pos punya oplah besar dan usianya tergolong senior. ’’Artinya, pembaca Jawa Pos juga besar,’’ jelasnya.
Menurut dia, pemberitaan Jawa Pos bisa membangun wacana atau opini publik. Dia pun mengaku menghadapi beberapa tantangan saat penggalian data. ’’Posisi saya di Jakarta. Saya full telponan,’’ tuturnya.
Setelah penggalian data, termasuk wawancara, Ayya menyimpulkan bahwa tone pemberitaan Jawa Pos bukan masuk kategori glorifikasi kasus terorisme. Justru sebaliknya, lebih pada penanganan lebih lanjut. Termasuk penanganan korban, pencegahan aksi serupa, dan proses hukum terhadap pelaku. Dengan tujuan turut menepis kepanikan di kalangan masyarakat.
Sementara itu, riset Mashuri merupakan bagian dari program Balai Bahasa Jawa Timur. Ada sejumlah tim yang dibentuk dan dia masuk tim yang meneliti cerpen. ’’Saya memilih cerpen koran antara tahun 1991–2000 karena pada rentang waktu itu diduga terjadi perkembangan atau peralihan estetika baru dalam dunia cerpen. Dan, Jawa Pos di tahun-tahun itu menunjukkan progres menarik,’’ ucapnya kepada Jawa Pos kemarin.
Pada rentang 10 tahun itu, ada 132 cerpen yang ditulis oleh penulis Jawa Timur di rubrik cerpen Jawa Pos. Bersama sejawatnya, Anang Santoso, pada 2010 dia mengkaji secara khusus 37 cerpen sebagai sampling, baik dari sisi struktur, gaya, maupun lokalitasnya.
’’Hasilnya, kami menemukan karakter dan gaya ungkap cerpen-cerpen Jawa Timur. Termasuk pelesetan, dekonstruktif, black humor, dan sejenisnya, dengan beberapa ungkapan dan persoalan yang hanya terjadi di kawasan subkultur Jawa Timur,’’ ujarnya. Selain berbuah laporan penelitian, pada 2017, Mashuri yang juga dikenal sebagai cerpenis dan penyair menulisnya secara personal sebagai karya tulis ilmiah dalam jurnal berjudul Karakter dan Warna Lokal Cerpen-Cerpen Jawa Pos.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
