
BERTANGAN DINGIN: Yongki Kuspriyanto Wibowo menunjukkan hasil produksi film pendek di kanal YouTube Yodhaloka Film. (Septian Nur Hadi/Jawa Pos)
Ide membuat film pendek muncul ketika Surabaya tengah menerapkan pembatasan aktivitas masyarakat akibat pandemi Covid-19 pada pertengahan 2021. Lewat seni peran, Yongki Kuspriyanto Wibowo mengembangkan bakat warga. Dalam setahun, puluhan film pendek berhasil dibuat.
SEPTIAN NUR HADI, Surabaya
SELAIN menjabat camat Semampir, Yongki Kuspriyanto Wibowo ternyata memiliki bakat terpendam. Yaitu, seni peran. Dunia baru itu digelutinya selama setahun terakhir. Semua bermula dari pertemuan dengan kawan lama di Jalan Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri. Banyak cerita yang mereka tuangkan dalam pertemuan tersebut.
Mulai kondisi ekonomi di tengah pandemi Covid-19, lalu persoalan pekerjaan, hingga membahas perilaku kehidupan masyarakat Surabaya. ”Lama nggak ketemu dan sekalinya ketemu langsung banyak yang diceritakan.
Salah satunya bahas perilaku masyarakat di lingkungan perkampungan,’’ kata Yongki di kantor Kecamatan Semampir Senin (8/8).
Menurut dia, kehidupan masyarakat Surabaya sangat unik. Rasa gotong royongnya sangat tinggi. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Tidak sedikit yang mengalami persoalan ekonomi akibat kehilangan pekerjaan. Agar tetap bertahan hidup, mereka tetap saling membantu masyarakat yang membutuhkan.
Menurut dia, tradisi gotong royong itu harus terus digaungkan. Tidak sebatas di Surabaya, tetapi dalam cakupan yang lebih luas lagi.
Terinspirasi dari film Bajaj Bajuri, film pendek pun dibuat. Judulnya Jamu Mak Lumut. Nama Mak Lumut diambil dari nama salah seorang penyiar radio lokal Surabaya bernama Renata. Dia berperan sebagai penjual jamu.
Dalam film bergenre komedi tersebut, Yongki berperan sebagai ketua RT. Pengambilan gambar berlangsung di sekitar Jalan Lidah Kulon. Aktivitas produksi dilakukan oleh warga setempat. Mulai sutradara, aktor, juru kamera, editing, hingga pembuat alur adegan.
Berakting di depan kamera menjadi pengalaman baru baginya. Sebab, dia harus memainkan peran sebagai orang lain. Ditambah lagi, dalam film tersebut, tidak ada penulisan skenario. Dialog antar pemain berjalan secara spontan. Sutradara hanya memberikan gambaran adegan.
”Misalnya, rapat RT bahas tentang penanganan Covid-19. Kepada pemain, sutradara hanya memberikan gambaran besarnya. Nah, dialognya terserah pemain. Agar tektokan-nya nyambung, antar pemain harus memiliki chemistry dan itulah tantangannya,’’ ujar mantan lurah Kalijudan itu.
Aktivitas produksi berlangsung seminggu sekali. Selama setahun, 42 episode berhasil dibuat. Durasinya 20 menit hingga 30 menit. Karya arek Suroboyo itu tayang di kanal YouTube Yodhaloka Film. Pria berusia berusia 48 tahun tersebut menjelaskan, Yodhaloka Film merupakan rumah kreasi yang dibuat untuk warga Lidah Kulon.
Tidak hanya bergelut di dunia akting, mereka juga menekuni aktivitas lain. Di antaranya, wirausaha dan EO. Kemudian, tidak sedikit pejabat Pemkot Surabaya, seperti lurah, yang tertarik bergabung untuk berkecimpung dalam seni peran. Meskipun hanya mencari hobi baru.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
