
TERUS BERKARYA: Arie Sujono menunjukkan salah satu kapal fiberglass buatannya. (Ari Sujono for Jawa Pos)
Kapal fiberglass menjadi andalan di samping kapal kayu yang kian mahal. Kesempatan itu ditangkap Arie Sujono sebagai peluang usaha. Sekaligus menjadi sarana untuk mengembangkan industri kapal di Surabaya.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
BENGKEL itu hanya seluas rumah. Sekitar 9 x 25 meter. Dari luar tampak seperti bengkel mobil biasa. Namun siapa sangka, bengkel di Jalan Keputih Tegal Timur itu merupakan sebuah markas pembuatan kapal. Di dalamnya ada aktivitas galangan layaknya di tempat pembuatan kapal yang biasanya berada di bibir pantai.
Itu merupakan sebuah galangan kapal fiberglass. Banyak yang akan terkecoh. Kecuali sudah masuk ke bengkel yang hanya berpagar seng tersebut.
Usaha itu dimulai Arie Sujono sejak 2007. Pengalamannya bekerja di galangan kapal dan perusahaan fiberglass membuatnya fasih dan akrab dengan galangan. Apalagi alumnus Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) itu lihai membuat berbagai desain kapal.
Semua berawal ketika Arie mengakhiri karir di PT PAL Surabaya. Dua belas tahun bekerja di badan usaha milik negara (BUMN) itu tidak lantas membuatnya puas. Dia ingin mencari pengalaman baru.
”Kemudian, saya pindah ke salah satu perusahaan yang bergerak di bidang fiberglass. Saat itu belum ada ketertarikan untuk membuat kapal sendiri,” ujar pria 45 tahun itu.
Karena suatu alasan, dia hengkang dari perusahaan itu. Tidak ada pandangan hendak ke mana. Arie hanya kembali melamar pekerjaan di Jakarta.
Dia pun mendapat kesempatan itu. Namun pada saat yang sama, ada orang yang ingin membuat kapal ke Arie. ”Memang saya sudah promo ke mana-mana meski belum menyiapkan apa pun. Ternyata, ada yang nyantol,” jelas Ari.
Antara senang dan susah. Sebab, hanya ada uang Rp 750 ribu di kantong Arie. ”Mana cukup uang segitu untuk bikin kapal,” terangnya. Lantas, bantuan pun datang. Dia bisa menutup biaya pembuatan kapal.
Dari situlah Arie mulai giat membuat kapal. Kemudian, membangun galangan spesialis fiberglass, Javanese Boat. Nama itu dipilih untuk mempertahankan identitas asal usulnya.
”Pembuat kapal luar negeri itu selalu bangga dengan nama mereka. Saya pun begitu. Ingin memberikan label yang bisa dikenal, namun tidak meninggalkan nama dari mana saya berasal,” terangnya.
Menurut Arie, kapal fiber sangatlah efisien. Selain kuat, perawatannya lebih mudah bila dibandingkan dengan kapal kayu. Yang paling penting adalah cara pembuatannya.
Tidak butuh banyak tempat dan biaya untuk memulainya. ”Bahkan, di luar negeri ada yang membuat kapal itu di lantai 2 rumah mereka,” terangnya.
Di sana galangan kapal fiber bak home industry. Membuat sendiri pun bisa. Mereka tinggal membeli gambar rancangan kapal, kemudian merakit sendiri.
Hal seperti itulah yang ingin Arie lakukan di Surabaya. Dia memotivasi mahasiswa untuk membuat usaha. ”Potensi Surabaya itu luar biasa kalau dikembangkan. Saya ingin mengajak orang-orang untuk mencintai laut,” terangnya.
Kapal Arie pun sudah melenggang ke berbagai penjuru pulau, bahkan luar negeri. Mulai kapal pancing hingga kapal puskesmas. Yang memang keberadaannya menjadi andalan transportasi di kepulauan.
”Saya merancang sendiri itu. Seperti ambulans, ada ruangan untuk pasien, dokter, dan perawat. Biasanya digunakan saat keadaan darurat atau saat dokter keliling,” ujar bapak tiga anak itu.
Tidak hanya itu. Arie pun sudah keliling ke berbagai daerah. Memberikan pelatihan bagi orang yang masih awam untuk paham cara membuat kapal fiber.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
