Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Desember 2020 | 22.33 WIB

Dua Kali Saya ke Sini karena Ingin Tahu Saja

HARUS TETAP WASPADA: Pengunjung di Sungai Besuk Kecil Kobokan, Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. (RIDHO ABDULLAH AKBAR/JAWA POS) - Image

HARUS TETAP WASPADA: Pengunjung di Sungai Besuk Kecil Kobokan, Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. (RIDHO ABDULLAH AKBAR/JAWA POS)

Sungai bekas aliran lahar erupsi Gunung Semeru ramai dikunjungi orang. Gumuk pasirnya masih terasa hangat di kaki. Tapi, tak terlihat ada petugas berjaga atau papan pengumuman agar pengunjung berhati-hati.

RIDHO ABDULLAH AKBAR, Lumajang, Jawa Pos

---

DUA kali sudah Tijah datang ke Sungai Besuk Kecil Kobokan. Dan, di dua kesempatan tersebut, dia disambut pemandangan yang berbeda.

Kali pertama berkunjung bersama suami dan anak, tanah dan debu masih sangat mengepul di bekas aliran lahar bekas erupsi Gunung Semeru tersebut. Sedangkan pada kedatangannya yang kedua bareng sejumlah kerabat, sudah terlihat debu berwarna hitam dan muncul aliran air.

’’Uapnya juga sudah tidak setebal yang kemarin, mulai hilang, tapi rasanya di kaki masih cukup hangat,” ucap warga Desa Bago, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, itu kepada Jawa Pos Radar Semeru.

Aktivitas Semeru, gunung tertinggi di Jawa, meningkat sejak akhir November. Sampai akhirnya gunung yang terletak antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang tersebut mengalami erupsi pada 1 Desember dini hari.

Tapi, kini hampir tiga pekan berselang, bekas aliran laharnya malah menjadi jujukan wisata baru. Besuk Kecil Kobokan berada di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Seperti teramati Jawa Pos Radar Semeru, di lokasi masih tampak dampak erupsi Gunung Semeru. Mulai pertanian sampai pertambangan, semuanya terkubur.

Tapi, sepertinya itu yang justru menarik pengunjung untuk datang. Terutama untuk mengambil foto atau berswafoto. Dengan sering kali mengabaikan risiko.

Baca juga: PVMBG Sebut Aktivitas Gunung Semeru Masih Fluktuatif

Masih terlihat bekas aliran lahar mengepul tipis di atas permukaan tanah. Menandakan gumuk pasir terasa hangat. Tapi, sayangnya tidak ditemukan semacam papan pengumuman agar pengunjung berhati-hati. Tak terlihat pula penjagaan di pintu masuk lokasi dampak aliran lahar tersebut. Dengan begitu, warga yang penasaran bebas berkeliaran.

Lokasi tersebut berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan dari Kota Lumajang. Tepatnya terletak di perbatasan dua kecamatan, Pronojiwo dan Candipuro.

Baca juga: Semeru Masih Bahaya, Pengungsi Nekat Pulang

Kepopuleran sungai kecil bekas lahar tersebut berawal dari riwa-riwinya foto tempat itu di berbagai platform. Tijah pun mengakui bahwa kedatangannya yang kedua karena sejumlah kerabatnya tertarik dengan swafoto yang dia unggah di grup percakapan keluarga.

’’Dua kali ke sini karena ingin tahu saja,” ujarnya.

Yang paling menarik perhatian adalah banyaknya lahan sawah yang rusak. Pemandangan tersebut membuat para pengunjung mendokumentasikan gambar di ponsel masing-masing.

Lokasi untuk berburu foto dampak erupsi Semeru tidak hanya berada di Besuk Kecil Kobokan. Yang juga populer adalah Jembatan Gladak Perak.

Banyak sekali yang melintas di jembatan yang menghubungkan jalur Lumajang–Malang itu menyisihkan waktu sejenak untuk berhenti. Entah untuk berfoto, ngopi, atau mengisi perut.

Seperti dikatakan ’’empunya” gunung, Surono, di balik erupsi selalu ada dampak positif yang dihadirkan gunung. Baik berupa kesuburan tanah, pasir yang melimpah, maupun yang kini tengah dirasakan para pemilik warung di sekitar Jembatan Gladak Perak.

Nia, pelayan di salah satu warung, mengatakan, pascaerupsi pengunjung terus mengalir. Umumnya mereka adalah orang yang sedang menempuh perjalanan menuju Lumajang atau Malang. Atau, warga setempat yang penasaran.

Keuntungan yang didapat warung tempatnya bekerja pun naik dua kali lipat. Sebab, mereka yang singgah tidak hanya minum kopi. Namun, rata-rata juga membeli makanan. ’’Makanannya hanya mi kuah dan goreng, ya kita tinggal kulakan,” tuturnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang tetap melakukan pengamanan terhadap bahaya sekunder erupsi Gunung Semeru. Masa darurat bencana pun diperpanjang dari 15 Desember sampai 21 Desember 2020.

Komandan Kodim Lumajang Letkol Inf Andi A. Wibowo mengatakan, selama masa darurat bencana, pihaknya akan terus bersiaga di beberapa titik yang rawan terkena dampak erupsi. ’’Kami lihat yang mungkin sangat terdampak di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang. Kami selalu mengimbau masyarakat untuk terus waspada adanya banjir lahar dan erupsi kecil dari Semeru,” katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=8viKE07qMDE

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore