
HARUS TELITI: Syahbuddin mencatat data bus pengangkut jamaah haji di Terminal Hijrah, Madinah.
Jika ada jadwal kedatangan bus pagi, Syahbuddin dan anggotanya harus stand by di Terminal Hijrah sejak pukul 09.00. Dia baru bisa beristirahat di kamarnya sekitar pukul 01.00.
Siksaan terberat dirasakan setiap tengah hari. Siang itu, misalnya, Jawa Pos berkunjung ke Terminal Hijrah. Semua petugas siaga. Sebab, tak lama lagi bus pengangkut jamaah haji Indonesia tiba. Suhu saat itu menunjukkan angka 47 derajat Celsius.
Beberapa orang berusaha melindungi kepala dari sengatan matahari. Ada yang memakai topi dan serban. Ada pula yang hanya menutupi kepala dengan tangan. Sebagian lagi mencoba untuk berteduh di bayangan pos keamanan di pintu keluar.
Namun, semua itu percuma. Sebab, posisi matahari tepat di tengah langit. Belum ada bayangan yang bisa dijadikan tempat berteduh. "Ya, dijalanin saja. Dinikmatin," kata Syahbuddin, lantas tersenyum. Bibirnya kering.
Tak lama kemudian, Catur datang. Wajahnya memerah, tanda kepanasan. Kepalanya ditutupi topi dan serban. Dia menggenggam botol ukuran 660 mililiter yang berisi air mineral. Air dingin itu tidak langsung diminum.
Dia tempelkan botol itu ke pipinya, lalu diusap-usapkan ke kepalanya yang hampir plontos tersebut. "Enak, seger, dingin," katanya, lantas tertawa.
Setelah wajah dan kepalanya terasa dingin, Catur membuka botol itu dan meminum isinya. "Sampai siang ini sudah habis 15 botol, Mas," kata Catur. "Kalau saya, sehari bisa habis lebih dari 20 botol," sahut Syahbuddin. "Tapi, saking panasnya, kencingnya hanya dua kali. Airnya menguap dulu sebelum jadi kencing," lanjutnya, lantas tertawa bersama Catur dan anggota lain.
Syahbuddin dan anggotanya memang sering bercanda. Bagi mereka, melepas tawa mungkin salah satu cara untuk mengurangi tekanan pekerjaan.
Tawa mereka terhenti saat mendengar suara mobil datang. Mobil itu membawa makanan dan minuman untuk anggota Pasukan Langit. "Untung, teman-teman di Madinah nggak lupa mengirim makanan dan minuman," katanya.
Terminal Hijrah yang berada di daerah pinggiran Madinah memang sepi. Tidak ada satu pun penjual makanan dan minuman. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat debu beterbangan.
Sore akhirnya tiba. Langit yang semula terang menyengat perlahan meredup. Matahari mulai tenggelam bersamaan dengan terdengarnya suara azan Magrib. Satu demi satu anggota Pasukan Langit menuju tempat wudu.
Mereka lalu menggelar sajadah. Bukan di masjid atau musala, melainkan di pinggir jalan, masih beratap langit. "Allahu Akbar," suara takbiratul ihram mengawali salat berjamaah di antara debu yang beterbangan tertiup angin.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
