
INOVASI MENGAJAR: Abdul Karim menunjukkan komik setrip.
Abdul Karim selalu memilih kalimat, rumus, dan contoh perhitungan matematika yang ringkas untuk dimasukkan komik setrip. Para murid yang dipilih secara candid untuk jadi "model" pun malah senang.
M. HILMI SETIAWAN, Semarang
---
TIAP kali masuk kelas, tentengan Abdul Karim berbeda dengan kebanyakan guru lain. Tidak sekadar membawa buku-buku bahan ajar, alat peraga, dan sejenisnya.
Guru kelahiran Cirebon, 26 November 1969, itu membawa serta dua kamera profesional. Masing-masing kamera DSLR Canon 1300D dan Canon 760D. "Untuk menjepret wajah anak-anak," katanya ketika ditanya untuk apa dua kamera tersebut.
Setiap kali mengajar di kelas IX, Karim memang selalu menyempatkan diri untuk memotret anak didiknya. Hasilnya dia kumpulkan untuk menjadi bahan baku pembuatan komik setrip.
Bukan sembarang komik setrip yang Karim buat. Melainkan sebuah komik setrip yang berisi materi pelajaran matematika. Aplikasi yang dia gunakan untuk membuat komik setrip adalah Comic Life, yang di dalam kelas dihadirkan dalam wujud slide Powerpoint atau Geogebra.
"Saya foto anak-anak secara candid," katanya ketika ditemui di kediamannya di Semarang, Jawa Tengah, 16 Agustus lalu.
Pengambilan gambar bisa dia lakukan saat duduk di meja guru atau ketika berkeliling kelas menghampiri siswa. Dengan cara itu, menurut Karim, anak didiknya menjadi terjaga selama pelajaran berlangsung. Sebab, jika kedapatan tertidur, si siswa akan difoto, kemudian masuk dalam komik setrip.
Menurut suami Beta Nurbety Tsany itu, upayanya menghadirkan komik setrip yang berisi materi pelajaran matematika dimulai pada awal 2016. Waktu itu dia menjadi guru matematika full time di kelas IX SMP Nasima, Semarang.
Hanya, ketika itu dia belum berbekal kamera profesional. Karim memotret wajah siswanya dengan tablet Samsung Galaxy.
Dia baru menggunakan perangkat kamera profesional pada 2017. Ketika dia sudah tidak mengajar full time di SMP Nasima. Sebab, banyak waktunya tersita untuk organisasi Ikatan Guru Indonesia (IGI). Dia tercatat sebagai pengurus IGI pusat periode 2016-2021.
Nah, pada 2017, Karim menjadi guru kolaborasi atau team teaching mata pelajaran matematika kelas XI di SMA Plus Muthahhari, Bandung. Setiap dua minggu dalam sebulan dia bolak-balik Bandung-Semarang untuk mengajar.
"Saat mengajar di Bandung, saya mulai menggunakan dua kamera profesional untuk memotret siswa," jelasnya.
Memasuki 2018, aktivitas Karim di IGI semakin padat. Menuntut dia keliling Indonesia untuk menjadi guru pelatih. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berkonsentrasi penuh mengajarkan teknologi pembelajaran kepada guru-guru. Akitivasnya sebagai guru pun berhenti sementara.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
