Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Februari 2018 | 22.52 WIB

Perjuangan Jaka Anom, Tunanetra Pakar Disabilitas Bergelar Master

Jaka Anom saat berada di Kantor The Jawa Pos Intiutute of Pro-Otonomi - Image

Jaka Anom saat berada di Kantor The Jawa Pos Intiutute of Pro-Otonomi

Kehilangan penglihatan seperti tak berpengaruh bagi Jaka Anom. Dia sukses lulus kuliah di kelas inklusif bersama nondifabel. Banyak liku-liku perjuangan selama menuntut ilmu, bekerja, dan berkeluarga seperti yang dituturkan kepada ROHMAN BUDIJANTO dari Jawa Pos.


---


"APA film yang bagus minggu ini? Kalau saya merekomendasikan The Commuter," kata Jaka Anom. Ucapan itu mengejutkan rekan-rekan kantor yang baru seminggu dikenalnya. Sebagian dari mereka tersenyum kecil, menyangka si tunanetra itu bercanda.


Ternyata dia serius. Sosok bernama lengkap Jaka Anom Ahmad Yusuf Tanukusuma itu memang penikmat film.


Jaka tahu bahwa banyak yang heran. Termasuk saat dia bersama istrinya, Silvia Attamimi, serta tiga anak mereka -Aliila Nabila, 15; Faatih Othman, 10; dan Khaizan Ferrel, 19 bulan- berada di lobi bioskop di Mataram, Nusa Tenggara Barat, kota tempat tinggal mereka.


Ketika pergi ke toilet, putrinya ditanya oleh calon penonton lain, "Apakah bapaknya ikut nonton?" Jaka, satu-satunya difabel di keluarganya, menceritakan bahwa anaknya jadi sedikit sewot dan menjawab, "Iya dong! Me­mangnya kenapa?!"


Sebenarnya Jaka memang tak benar-benar menonton, tapi "mendengarkan" film. Di bioskop, dia dibisiki jalan ceritanya oleh sang istri. Meskipun kadang istrinya telat menceritakan isi film karena terlalu asyik menikmati jalan cerita yang tegang.


"Haha... saya harus menunggu. Beda dengan di Blu-Ray, kadang menyediakan deskripsi suara yang tinggal didengar," kata alumnus komunikasi Universitas Sahid, Jakarta, itu.


Bisa dibayangkan, cara Jaka "menonton" film seperti menikmati drama radio. Pendengar membuat layar film di benaknya. Sehingga tokoh-tokoh yang dikisahkan lewat tuturan bisa bersilat atau bercumbu dalam teater pikiran.


Film-film yang disukai Jaka, misalnya, It, The Martian, The Angry Love, The Devil's Advocate, Legend of the Falls, The Crash, dan The Ring. Macam-macam genre.


Bagaimana cara mendeskripsikan kalau nonton Baywatch? "Haha... saya tidak nonton film seperti itu. Mungkin susah yang mendeskripsikannya," kata sosok kelahiran Jakarta, 1976, tersebut, lalu terus tersenyum.


Tak hanya nonton, Jaka juga bisa bermain WhatsApp di iPhone-nya. Juga "membaca" dan membalas e-mail via laptop Asus-nya. Dia memakai fasilitas screen reader (aplikasi pembaca layar). Teks dikonversi menjadi suara, didengarkan via headset. Lalu, dia mengetik untuk membalas pesan WhatsApp atau e-mail. Karena sudah terbiasa pakai laptop yang sama, dia hafal keyboard dan posisi kursor, meski kadang meleset.


Saat mengetik di laptop, dia sebenarnya tak perlu layar monitor. Karena itulah, wajahnya tak mengarah ke monitor, melainkan lurus ke depan. Berkonsentrasi dengan asupan audio lewat headset-nya. Gara-gara pandangan lurus ke depan tersebut, dia pernah mendapat masalah. Tepatnya saat bekerja dengan laptop di kafe langganannya di Helen Keller International dengan penugasan di Solo. "Tiba-tiba wajah saya dipukul orang," katanya.


Jaka langsung berdiri dan bertanya kenapa dipukul. Katanya karena memandang manteng terus ke cewek si pemukul itu.


Jaka pun marah karena merasa tidak memandang. Mereka ribut. Para karyawan kafe memberi tahu si pemukul bahwa Jaka tunanetra. Mungkin si pemukul bingung juga, tunanetra kok mengetik di laptop.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore