Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Juli 2017 | 22.44 WIB

Investigasi Praktik Pesugihan di Tanah Karaeng, Bikin Merinding

ilustrasi dukun pesugihan - Image

ilustrasi dukun pesugihan

JawaPos.com - Dunia mistik dan klenik masih sangat kental di masyarakat Indonesia, terutama yang berkaitan soal pesugihan. Atau mencari harta dengan jalan pintas yang biasanya melibatkan tumbal. 



Praktik itu ternyata banyak ditemukan Batu-batu, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Sulawesi selatan. Bukan lagi desas-desus, tetapi sudah dikenal banyak orang.



Di wilayah itu sudah terkenal dengan jasa pesugihan “panther”. Orang sekitar menyebutnya kaya dengan cepat, melaju secepat mobil Panther. Seperti iklannya di media televisi. 



Sebenarnya, istilah “panther” muncul sekitar tahun 1990-an. Bersamaan dengan booming-nya salah satu merek mobil diesel. Mereka percaya datang ke orang pintar, hanya dalam waktu singkat, bisa kaya raya.



Sebelumnya jasa pesugihan ini dikenal dengan nama “Mattiro Deceng” (membuka pintu kebaikan/rezeki). Seiring berjalannya waktu dan paranormalnya meninggal, istilah itu hilang dan berganti “panther”. 



Pengikutnya yakin bisa kaya dalam waktu singkat dan uang akan mengalir tanpa perlu kerja keras.



MU, salah satu calon pengikut ajaran panther membeberkannya. Dia mengaku pernah ke Batu-batu. Niatnya menjadi pengikut. Ia mendatangi salah satu penganut ajaran itu di pertengahan 2016 lalu.



Sayangnya, MU lupa nama dukun yang didatanginya. Yang jelas rumah tersebut tampak megah dibanding rumah penduduk di sekitarnya. Ia ditawari untuk jadi pengikut. Syaratnya, harus membayar mahar Rp6 juta.



Menurut MU, ada dua pilihan jika ingin cepat kaya dengan jalan pintas, yakni “dunia” dan “dunia akhirat”. Hanya saja jika memilih pilihan dunia. Ada syarat yang harus dilakukan yakni ritual khusus malam Jumat, salat menghadap ke timur dan salamnya hanya menghadap kiri.



“Beda pilihan dunia akhirat. Kita hanya diminta menyiapkan pisang dan kelapa dalam wajan ditempatkan di pusar rumah,” akunya.



Jika sudah sukses, harus kembali melakukan syukuran. Yakni dengan penyembelihan binatang ternak, sesuai tingkatan, mulai dari kambing hingga sapi. Nilai hewan yang bakal disembelih pun bisa diuangkan.



Setiap pengikut akan dituliskan namanya. Agar bisa diritualkan. “Sebab kalau tidak syukuran, usaha bisa bangkrut. Kembali jadi miskin lagi,” tuturnya.



Namun, Ia urung menjadi pengikut, ada syarat yang tak biasa. Yaitu, bila ingin lebih dahsyat dan kaya cepat, harus memilih dunia saja. Tapi. konsekuensi harus siap-siap kehilangan orang terdekat sebagai tumbal.



“Saya tidak jadi masuk. Ngeri mendengar harus siap kehilangan orang disayangi. Selain maharnya cukup tinggi,” ungkap MU.



Tim FAJAR (Jawa Pos Group) melakukan penelusuran. Senin, 10 Juli lalu, penulis berangkat ke Batu-batu ditemani seorang kawan.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore